Ahmadiyah: Antara Fakta dan Data

ahmadiah

Pemikiran Mirza Ghulam Ahmad dengan gerakan Ahmadiyahnya dapat dikategorikan kedalam gerakan teologi sebagaimana pengkategorian Wilfred C. Smith, yang meskipun cenderung memasukkan Ahmadiyah ke dalam gerakan intelektual dengan tafsiran-tafsiran Islam yang bersifat liberal.

Sama halnya gerakan puritanis dan fundamentalis Islam, Ahmadiyah yang menyisakan permasalahan teologis dengan banyaknya angapan penyimpangan-penyimpangan dan asumsi adanya keterlibatan kolonial Inggris dalam membidani kelahirannya. Faktanya, Ahmadiyah muncul lebih dikarenakan tuntutan zaman dan respon terhadap kuatnya dominasi Hindu dan hegemoni Inggris itu sendiri.

Kemunculan Ahmadiyah dengan menekankan aspek-aspek ideologis-eskatologis dapat dikatakan ditujukan untuk mengimbangi rasionalitas yang digusung oleh Sayyid Ahmad Khan dan Mir Ali yang terlalu rasional bagi zamannya. Itulah yang menjadikan ajaran Ahmadiyah lebih bisa diterima dan menurut B’J. Esser, dapat memuaskan emosi keagamaan sebagian umat Islam India.

Disamping menyinggung sedikit penolakan yang diakhiri tindak kekerasan serta ketidaksimpatian terhadap Ahmadiyah, yang lebih dikarenakan kekurangfahaman, makalah ini berusaha mendudukkan secara proporsional pemikiran dan gerakan Ahmadiyah dalam peta pemikiran dan gerakan keislaman di Indonesia lewat penceritaan historis.

Dengan harapan, bisa menyeimbangkan hakikat keberadaan Ahmadiyah yang terlanjur difahami secara sepihak serta bisa meminimalisir ketidakharmonisan hubungan keagamaan yang berlangsung di Indonesia.

 Ahmadiyah: Gerakan Pembaharuan Islam

Merujuk pada al-Qur’ān, surat an-Nūr ayat 55[1] dan Hadits riwayat Abu Daud,[2] bahwa pembangkitan khalifah pasca-Nabi, pada permulaan tiap-tiap abad, yang kemudian lebih dikenal sebagai Mujaddid, dan interpretasi ulang atas ayat tersebut, Ahmadiyah[3] telah melakukan gerakan pembaharuan Islam. Pembaharuan yang dimaksud adalah dinamisasi keimanan, purifikasi akidah dan ibadah, dan reinterpretasi al-Qur’an sesuai dengan tuntutan zaman.

Meski mendapatkan banyak perlawanan dan penyesatan, pembelaan dan penyiaran Islam melalui lima cabang kegiatan dakwah Islam sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam kitab Fath al-Islām (1983), tetap dilakukan oleh Ahmadiyah dengan menyusun karangan-karangan atau buku-buku dan menerbitkannya, mengedarkan brosur-brosur dan maklumat-maklumat dilanjutkan dengan pembahasan dan diskusi, berkomunikasi langsung lewat kunjungan ceramah dan majelis taklim, berkorespondensi dengan mereka yang mencari atau menolak kebenaran Islam.

Resistensi terhadap gerakan Ahmadiyah berupa penyesatan yang dilanjutkan dengan tindak kekerasan,[4] selama ini lebih didasarkan pada kekurang arifan dalam memilah dua golongan Ahmadiyah,[5] dan pemahaman sepihak dalam mengkaji Ahmadiyah yang pada umumnya tidak menggunakan pendekatan historis.

Secara historis, berdirinya Ahmadiyah tidak terlepas dari sejarah Mirza Ghulam Ahmad[6] sebagai pendiri gerakan. Sesudah India menjadi koloni Inggris, umat Islam India semakin terisolasi dengan sikap-sikap lama (baca, konservatif) yang masih dipelihara. Keadaan umat Islam India ini semakin buruk terutama sesudah terjadi pemberontakan Mutiny tahun 1857 M. Titik pijak kelahiran Ahmadiyah dimulai ketika umat Islam India mengalami kemunduran dalam bidang agama, politik, ekonomi, dan lainnya.

Menurut Wilfred Cantwell Smith, Ahmadiyah lahir di tengah huru-hara runtuhnya masyarakat Islam lama dengan sikap yang baru, karena infiltrasi budaya dari Inggris, serangan gencar kaum misionaris Kristen, dan berdirinya Universitas Aligarh. Ahmadiyah lahir sebagai protes terhadap keberhasilan kaum missionaris Kristen memperoleh pengikut-pengikut baru dan serangan Hindu (Arya Samaj). Selain itu, juga sebagai protes terhadap paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa Sayyid Ahmad Khan[7] dengan Aligarh[8]nya.[9]

Sementara itu, secara internal umat Islam pada masa itu baik di India maupun luar India berada pada kondisi yang memprihatinkan. Sikap jumud dan fatalistik membuat umat Islam statis sehingga umat Islam mengalami kemunduran termasuk dalam bidang keagamaan. Dalam konteks ini, Ahmadiyah lahir sebagai protes atas kemorosotan Islam pada saat itu yang sebagai besar di bawah kungkungan kolonialisme negara-negara Barat.[10]

Pada perkembangannya, Ahmadiyah kini memiliki sekitar 200 juta pengikut setia di seluruh dunia. Hingga saat ini, Jema’at Ahmadiyah telah menyebar ke-120 negara dan dalam penyebaran agama Islam di Amerika dan Eropa, sebenarnya umat Islam perlu mengucapkan rasa terima kasih kepada Jemaat Ahmadiyah. Merekalah yang mendakwahkan Islam secara bijak, jujur, terbuka dan jauh dari aksi kekerasan dan anarkisme. Bahkan di negara yang penduduknya kebanyakan non-Muslim, Ahmadiyah justru lebih bisa diterima. Di Rwanda, Hongkong dan Portugis, Ahmadiyah telah menunjukan eksistensi komunitasnya. Itulah torehan prestasi yang hingga saat ini jauh melebihi komunitas Sunni, Syi’ah, NU, Muhammadiyah, atau kelompok keagamaan lainnya. Inilah torehan tinta emas yang barangkali sulit ditemukan bandingannya dalam komunitas umat Islam. Tetapi prestasi itu tetap saja tidak membuat umat Islam di Indonesia terutama, bisa menerima Ahmadiyah sebagai anak kandung Islam. Kemajuan dalam pengembangan sistem informasi seakan tidak memiliki arti, tatkala pemikiran keagamaan yang dikembangkannya dianggap melenceng jauh dari landasan normatif yang sebenarnya juga masih dalam perdebatan.[11]

Doktrin Ahmadiyah

Di Indonesia, diperkirakan lebih dari 500 ribu Ahmadie-sebutan untuk pengikut Ahmadiyah. Menurut data JAI (Jema’at Ahmadiyah Indonesia),[12] jumlah pengikutnya secara nasional antara 2-3 juta orang yang di sensus KTP tertulis Islam.[13] Perkembangan keanggotaan ini menunjukkan dapat diterimanya ajaran-ajaran Ahmadiyah berupa doktrin-doktrin penting yang tidak bisa dilepaskan dari persoalan al-Mahdi dan al-Masih, dan berkait erat dengan masalah mujaddid, kenabian, wahyu, khilafah serta jihad, meski doktrin-doktrin tersebut tidak paralel dengan pandangan umat Islam pada umumnya, termasuk para ulama di Indonesia.

Dari hasil penelitian LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) ditemukan butir-butir kesesatan dan penyimpangan Ahmadiyah ditinjau dari ajaran Islam yang sebenarnya.[14] Secara ringkas, diketahui bahwa Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci, tanggal, bulan, tahun, dan tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri, yang sekarang khalifah yang ke 4 yang bermarkas di London Inggris bernama: Thahir Ahmad.

Senada dengan itu, umumnya para ulama di dunia menyatakan bahwa Ahmadiyah itu bukan bagian dari Islam. Sebab doktrin-doktrin yang mereka ajarkan sudah terlalu jauh menyimpang dari aqidah Islam. Diantaranya apa yang telah diedarkan oleh Liga Fiqih Islam (Majma’ Fiqih Islami) tentang sesatnya doktrin Ahmadiyah, seperti belum berakhirnya kenabian.[15]

Pokok permasalahan yang menyebabkan ketidaksepahaman mayoritas ulama khususnya dari kalangan sunni adalah perihal kewahyuan. Dalam kasus Ahmadiyah, konsepsi wahyu yang berkait erat dengan kenabian, menjadi sumber kontroversi utama berupa adanya kitab Tadzkirah disamping sang penerima wahyu itu sendiri, yakni Mirza Ghulam Ahmad.

 Gerakan Ahmadiyah Indonesia[16]

Masuknya  Ahmadiyah ke Indonesia melalui pelajar Sumatera, yang belajar di India dan kembali ke Indonesia sekitar tahun 1925. Mereka ini membawa tafsiran baru terhadap Al-Qur’an yang rasional. Karya-karya pemikir Ahmadiyah mulai menjadi bahan bacaan yang menarik sampai Haji Agus Salim (tokoh Sarekat Islam) menyatakan bahwa dari segala jenis tafsir Al-Qur’an, tafsir Ahmadiyalah (baca, The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali[17]) yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia terpelajar. Kegiatan Ahmadiyah menyebar di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Bogor, Tasikmalaya, Sukabumi,

Banjarnegara, Wonosobo, Kuningan, Lombok Timur, Purwokerta dan daerah lainnya.[18]

Namun, data yang ada menunjukkan bahwa faham Ahmadiyah Anjuman Isya’ati Islam atau Ahmadiyah Lahore masuk ke Indonesia pada tahun 1924 dengan perantaraan dua muballigh, Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad. Pada tanggal 10 Desember 1928, Gerakan Ahmadiyah Indonesia (sentrum Lahore) didirikan oleh R.Ng.H. Minhajurrahman Djajasugita dkk, yang mendapat Badan Hukum Nomor I x tanggal 30 April 1930.

Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan, yang mewajibkan organisasi kemasyarakatan berasaskan Pancasila,[19] maka GAI juga berasaskan Pancasila. Anggaran Dasar GAI telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Tanggal 28 November 1986 Nomor 95 Lampiran Nomor 35. Dan juga telah termasuk dalam Daftar Organisasi Kemasyarakatan Lingkup Nasional yang terdaftar di Depdagri.[20]

Dalam melaksanakan aktivitas dakwahnya, GAI menerbitkan seratusan judul buku-buku agama dalam bahasa Belanda, Jawa dan Indonesia serta lembaga pendidikan formal bernama Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) di Yogyakarta dan di berbagai daerah, yang menyelenggarakan pendidikan (sekolah) mulai tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi.

Sedangkan fokus gerakan dakwahnya, Ahmadiyah Lahore lebih menitikberatkan pada aspek spiritual Islam yang bersifat mahdiistik,[21] yakni adanya suatu keyakinan yang lebih menekankan pada kehadiran  Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Mahdi atau “Juru Damai” yang mempunyai tugas untuk memperstukan kembali perpecahan umat Islam, baik di bidang akidah maupun syri’ah. Lebih dari itu, al-Mahdi juga di yakini bertujuan mempersatukan kembali sebuah agama, terutama agama agama Nashrani dan Hindu, agar melebur ke dalam Islam.[22]

Sebagai gerakan pembaharuan dalam Islam, Ahmadiyah (Lahore) dapat dikatakan  tidak menyimpang dari al-Quran dan al-Sunnah, baik dibidang akidah maupun syariah. Secara rinci akidah Ahmadiyah telah dirumuskan oleh Maulana Muhammad Ali, dalam bukunya Al-Bayān fi al-Rujū’ ila al-Qur’ān (1930: 33-35). Dari kesepuluh rumusan akidah tersebut, tidak diketemukan penyimpangannnya dari ajaran Islam.[23]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa akidah Ahmadiyah Lahore lebih menitik tekankan pada penjagaan akidah yang telah ditegakkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, bahwa Nabi Suci Muhammad saw adalah Khātam al-Nabiyyīn dalam arti penutup (segel) para Nabi, sesudah beliau tak ada Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru. Akidah yang menjadi landasan persatuan kesatuan umat manusia setelah Keesaan Ilahi ini yang dipegang teguh oleh kaum Ahmadie (Lahore). Sejarah pun, menjadi saksi. Akidah ini mulai tergoyang dan menyimpang sepeninggalan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1914, kemudian ditegakkan kembali oleh sekretaris Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri, yaitu Maulana Muhammad Ali dengan berdirinya Ahmadiyah Anjuman Isha’ati Islam, Lahore.

 Perda Syariat, SKB dan Eksistensi Ahmadiyah

Dalam kasus perda syariat, kerinduan terhadap otentisitas keagamaan berhasil menggalang solidaritas yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat yang sedang resah. Produk perundang-undangan yang ada, selama ini dianggap sebagai produk Barat yang telah gagal, oleh karena itu harus segera diganti dengan produk baru yang lebih otentik. Dengan kata lain, islamisasi peraturan daerah perlu diwujudkan.

Padahal, jika melihat UU No. 22/1999, persoalan agama tidak dilimpahkan kewenangan pengaturannya ke daerah.[24] Namun, fakta menunjukan lain. Akibatnya, selain menimbulkan permasalahan karena seringkali bertentangan dengan produk hukum di atasnya, kehadiran perda syariat ini secara umum menunjukan ketidakmampuan negara berdiri di atas semua elemen warga negara yang berbeda-beda. Kaum minoritas non-Muslim, perempuan, dan Ahmadiyah-adalah  targeted group dari perda syariat ini. Secara hukum mereka diminoritisasikan sedemikian rupa sehingga kehilangan banyak haknya sebagai warga negara. Khusus dalam isu Ahmadiyah, beberapa daerah bahkan telah menerbitkan peraturan yang secara khusus melarang aktivitas keorganisasian mereka, jauh hari sebelum pemerintah pusat melakukan hal yang sama.

Berangkat dari fakta demografis yang menunjukan penduduk Indonesia sebagian besar adalah Muslim, mereka berpendapat bahwa Muslim adalah kelompok yang paling berhak menentukan arah perjalanan politik bangsa ini. Yang menarik, sekaligus agak mengejutkan, mereka menggunkan terma-terma politik modern dalam mengungkapkan argumentasinya. Mereka, misalnya, sering menggunakan alasan demokrasi untuk memaknai kehadiran mereka dalam politik. Dengan menggunakan terma-terma demokrasi pula mereka memandang kehadiran kelompok minoritas sebagai sesuatu yang menyempal dan oleh karena itu harus diekslusikan. Ini terjadi dalam kasus peminoritisasian terhadap Ahmadiyah di Indonesia pasca-Soeharto. Banyak elit Muslim dari kelompok-kelompok anti-Ahmadiyah menekan negara untuk melarang eksistensi Ahmadiyah di Indonesia dengan menggunakan segala mekanisme formal yang tersedia.[25] Rupanya tekanan mereka bekerja efektif, sehingga negara-melalui Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung-akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB)[26] pada tanggal 9 Juni 2008 untuk melarang aktivitas Ahmadiyah di Indonesia.[27]

Argumentasi yang digunakan untuk melarang aktivitas Ahmadiyah ini didasarkan pada UU No.1/PNPS/1965 yang berisi larangan menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan terhadap penafsiran suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaaan dari agama-agama itu tetapi menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu. Berdasarkan argumentasi itu, negara memandang Ahmadiyah sebagai bukan Islam dan karenanya tidak berhak mengaku Islam. Mereka dibolehkan berkeyakinan seperti sekarang dengan syarat tidak menggunakan atribut agama Islam.[28]

Hal demikian sungguh mengherankan kalau mengingat kehadiran Ahmadiyah yang telah ada di Indonesia sejak 1924 dan sepanjang itu pula mereka memperoleh hak untuk berkembang. Terlebih, selama ini sikap toleran dan bersedia menenggang rasa perbedaan di antara kita acapkali hanya diasosiasikan kepada umat beragama yang berbeda. Dalam konteks ini, maka membangun fikih toleransi[29]-meminjam istilah Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta-menjadi sangat penting.

 Fikih Toleransi

Menurut Amin Abdullah, fikih toleransi lebih banyak bertumpu pada cara berpikir, cara bergaul, dan cara berinteraksi. Sebastiano Mosso, dalam bukunya Tolleranza e Pluralismo, mengatakan bahwa toleransi pada hakikatnya berpangkal pada kesadaran diri manusia akan bisikan nurani yang benar, lurus, dan sehat.

Dengan demikian, fikih toleransi didasarkan atas sikap inklusif, pluralis, dan multikulturalis terhadap sesama. Fikih toleransi mengandaikan pilihan dasar positif manusia atas keadaan antar sesamanya yang terbelenggu dalam ketertindasan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan.

Sikap dasar itu adalah kesediaan untuk menerima, menghargai, dan menghormati sesama sebagai insan yang memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangan. Karenanya, fikih toleransi menuntut adanya keikhlasan dan keberanian moral manusia untuk mengakui serta menerima perbedaan dalam hidup sehari-hari tanpa disertai tindakan anarkis dan radikal, karena hal itu jelas bertentangan dengan Islam sebagai rahmatan lil’ālamīn.

Walhasil, jalan keluar di tengah konflik Ahmadiyah, menurut Maksun, dosen Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, bukan dengan cara meminta mereka untuk kembali kepada Islam mainstream atau keluar dari Islam dan membuat agama baru seperti disarankan Menteri Agama Maftuh Basyuni, melainkan dengan cara mencabut fatwa sesat MUI[30] dan membiarkan mereka untuk eksis hidup berdampingan dengan umat yang lain, dengan tetap mengedepankan sikap toleransi yang menuntut para pemeluk agama saling menghargai perbedaan dan menerima keyakinan masing-masing (Suara Merdeka, Jum’at, 25 Januari 2008).[31]

Sementara itu, dalam pembelaannya terhadap Ahmadiyah, Imam Ghazali Said[32] menyebutkan kiprah dan interaksi Ahmadiyah, baik aliran Lahore, di Indonesia populer dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) maupun aliran Qodiyan, yang populer dengan Jema’at Ahmadiyah Indonesia (JAI),  dengan tokoh nasionalis Indonesia, baik yang muslim maupun yang sekuler sejak 1920-an sampai 1980-an.

Dalam rentang waktu itu GAI dan JAI telah berkiprah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan ikut serta dalam mencerdaskan bangsa. Sayid Syah M. Muballig (ketua panitia pemulihan Pemerintahan RI dan penyusun program bahasa Urdu RRI Jakarta, 1950), Erfan Dahlan (putra pendiri Muhammadiyah, KH A. Dahlan), Abu Bakar Ayub, Abd. Wahid, dan masih banyak lagi, adalah tokoh-tokoh GAI dan JAI yang punya jasa besar dalam perjuangan dan mengisi kemerdekaan RI dengan cara bergabung dalam BKR, TKR, Kowani, dan KNI.

Dalam rentang waktu tersebut, mereka juga intens berinteraksi, baik sosial, politik, ekonomi, dan teologis dengan tokoh-tokoh dan organisasi Islam terpopuler di Indonesia, Muhammadiyah dan NU. Bahkan, dialog teologis pernah terjadi antara wakil GAI-JAI dengan A. Hassan (Persis) dan KH A. Wahid Hasyim (NU). Hasilnya menyatakan bahwa GAI dan JAI adalah saudara kita sesama muslim yang tinggal di negara tercinta Indonesia.

Lebih dari itu, tokoh GAI, R. Sudewo Parto Kusumo (1905-1970) sangat berjasa secara intelektual dan spritual dalam mengader kaum muda muslim terpelajar yang tergabung dalam Jong Islamitenbond (JIB). Juga masih banyak tokoh GAI dan JAI yang kemudian berjuang dalam organisasi Syarikat Islam (SI) dan Masyumi. Dengan demikian, apresiasi terhadap Ahmadiyah perlu dilakukan dengan mempertanyakan ulang keberanian umat Islam dalam menyesatkan Ahmadiyah dan menilai mereka sebagai bukan Muslim. Sebuah bentuk penilaian yang lebih didasarkan hanya pada permasalahan teologi[33] yang sedikit berbeda dengan mayoritas muslim Indonesia.

Lebih jauh, setelah melakukan kajian mendalam, membaca dan memahami kitab-kitab tentang aliran-aliran dalam Islam, di antaranya Al-Farq baina al-Firāq (al-Baghdadi), Al-Milāl wa al-Nihāl (Syahrastani), Al-fashl baina al-Milāl wa al-Nihāl (Ibn Hazm), Al-Iqtishād fi al-I’tiqād (al-Ghazali), Maqālat al-Islamiyyīn wa Ikhtilāf al-mushallīn (al-Asy’ari), Ghazali Said bersama beberapa kiai perwakilan seluruh provinsi di Indonesia, yang difasilitasi Komunitas Mata Air (Musthofa Bisri) dan Wahid Institute (Abdurrahman Wahid), pada 22-25 Maret 2008 di Jakarta, menyimpulkan bahwa manusia yang berucap dua kalimah syahadat, melaksanakan rukun Islam dan rukun iman, sekaligus tidak menentang satu pun dari dua rukun iman dan Islam, wajib dianggap dan dinilai sebagai saudara kita sesama muslim, yang hak-hak sipil[34]nya harus di lindungi.

Kriteria Muslim-Mukmin sebagaimana tersebut, mendapat pembenarannya setelah adanya kajian terhadap kitab Tadzkirah, testimoni, interogasi, dan dialog dengan para tokoh dan kaum awam pengikut JAI, yang ternyata mereka tidak keluar dari kriteria muslim dan mukmin.[35]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kesamaan yang tampak dalam keberagaman, selama ini telah tersamarkan dengan adanya keleuasaan formalisme syariah dalam kehidupan bernegara pasca runtuhnya rezim Soeharto. Ditandai dengan menguatnya kelompok Islam kanan yang berandil besar dalam menghilangkan keberagamaan.

Ironisnya, Indonesia dianggap sebagai laboratorium kerukunan umat beragama, lewat pernyataan Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini dan pendiri komunitas Sant` Egidio, Andrea Riccardi dalam pidato mereka pada pembukaan seminar internasional dengan tema: Unity in Diversity: The Indonesian Model for a Society in which to Live Together,[36] yang digelar pada 4 Maret 2009 di Roma.

Faktanya, kondisi kehidupan keagamaan di Indonesia saat ini diwarnai oleh adanya perbedaan-perbedaan dalam pemelukan agama. Penerimaan perbedaan tanpa pemahaman yang mendalam akan arti dan hakikat perbedaan tersebut ternyata masih sangat rentan terhadap godaan kepentingan primordialisme dan egosentrisme individu maupun kelompok.

Dengan kata lain, gangguan kedamaian itu akan mudah meluas manakala sentimen dan simbol-simbol keagamaan dipakai sebagai sumbu atau pemicu.

 Penutup

            Keberlangsungan gerakan Ahmadiyah sampai kini sudah 120 tahun lamanya semenjak didirikan pada tahun 1889, dan memasuki tahun yang ke-85, terhitung sejak kali pertama masuk ke Indonesia pada tahun 1924. Di Indonesia, pada awalnya gerakan Ahmadiyah terapresiasi sedemikian rupa. Namun, di era reformasi ini, keberpihakan umat Islam dan pemerintah kepada Ahmadiyah pada umumnya berbalik 180 derajat.

Suatu keadaan yang menggambarkan adanya ketidakharmonisan sebuah hubungan yang lebih didasarkan pada sentimen akidah ditambah kekurangdewasaan dalam menyikapi perbedaan teologis. Keadaan ini memposisikan Ahmadiyah di antara fakta dan data. Ahmadiyah berada pada kenyataan dimana ajaran-ajaran mesiahnya kurang bisa diterima. Meski tidak sedikit pula yang bersimpati kepadanya dan bahkan berterima kasih pada kiprah serta peran serta Ahmadiyah dalam berdakwah. Ahmadiyah disinyalir menyelewengkan akidah sebagaimana Mirza Ghulam Ahmad sendiri dinyatakan oleh anaknya, yakni Mirza Bassyiruddin Mahmud Ahmad (Ahmadiyah Qadiyan) bahwa Mirza Ghulam Ahmad mengalami pergeseran akidah, yaitu mengingkari “nubuatnya” sendiri.

 

 REFERENSI

Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Burhanuddin, Asep. Ghulam Ahmad: Jihad Tanpa Kekerasan, Yogyakarta: LKiS, 2005.

Effendy, Bahtiar. Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia, Jakarta: Paramadina, 1998.

Friedman, Yohanan. Prophecy Continuous: Aspects of Ahmadī Religious Thought and Its Medieval Background, London: University of California, 1989.

Kholiludin, Tedi. Ahmadiyah, Anarkhisme dan Pluralitas Pemikiran science-lens.blogspot.com.

Maksum, MUI, Ahmadiyah, dan Fikih Toleransi, Suara Merdeka, Jum’at, 25 Januari 2008.

Mudzakir, Amin, Politik Muslim dan Ahmadiyah di Indonesia Pasca Soeharto: Kasus Cianjur

dan Tasikmalaya, penelitianku.wordpress.com., Oktober 24, 2008.

———–, Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Dinilai Terbaik, www. depag.go.id, 28 Mei 2009.

Nasution, Harun dan Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensklopedia Islam Indonesia.

Nurhasim, Ahmad: resensi: Memahami Ahmadiyah yang Kontroversial. , 24 Februari 2006.

Said, Imam Ghazali, Membela Ahamdiyah yang dizalimi, Jawa Pos, 28 April 2008.

Sarwat, Ahmad Butir – Butir Kesesatan Ahmadiyah, July 19, 2005 1:47 PM

http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg01055.html.

Umam, Fawaizul. Membakar Massa dengan Fatwa, Newsletter, CRCS, 2008.

Zulkarnain, Iskandar. Gerakan Ahmadiyah di Indonesia,  Cet. I, Yogyakarta: LKiS, 2005.

Wikipedia, the free encyciclopedia.

http://www.ahmadiyah.org

www. depag.go.id.

http://www.icrp-online.org.

http://www.gusdur.net.


[1]“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (al-Nūr , 24: 55).

[2]”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada permulaan tiap-tiap abad orang yang akan memperbaharui baginya agamanya” (HR Abu Daud).

[3]Ahmadiyah didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Alqadiani, Mujaddid abad ke-14 Hijriyah yang bergelar Almasih dan Mahdi, berdasarkan ilham dari Allah SWT, yang ia terima pada tanggal 1 Desember 1888 (www.ahmadiyah.org).

[4]Mengutip laporan SETARA (Institute for Democracy and Peace), ditahun 2007 sekurangnya ada 185 tindak pelanggran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ahmadiyah mengalami 21 kasus kekerasan. Menurut SETARA, pelakunya adalah pemerintah. 92 pelanggaran dilakukan dalam bentuk penangkapan, pembatasan, penahanan, dan vonis terhadap meeka yang dianggap sesat. Sedangkan 93 bentuk pelanggaran lainnya karena negara membiarkan tindak kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok tertentu, seperti Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Indonesian Conference on Religion and Peace (IRCP) mengungkap bahwa korban kekerasan atas nama agama lebih banyak menimpa kelompok dari pada individu. ICRP sendiri menghitung, sepanjang 2007, terdapat 32 kelompok yang menjadi korban kekerasan atas nama agama. Lihat, Fawaizul Umam, Membakar Massa dengan Fatwa, Newsletter, CRCS, April 2008.

Kasus kekerasan terhadap anggota Ahmadiyah di berbagai daerah seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan lainnya beberapa bulan terakhir membuktikan bahwa “main hakim” sendiri masih menjadi modus operandi kelompok Islam dominan dalam menyelesaikan persoalan internal umat Islam. Yang lebih parah, kelompok Islam moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, seolah buta dan bisu menyaksikan sebagian umat Islam yang lain paham itu dianiaya tanpa ada pembelaan. Kasus ini dianggap “angin lalu” yang tidak perlu diperhatikan. Lihat, Ahmad Nurhasim dalam resensi; Memahami Ahmadiyah yang Kontroversial dari buku Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, LKiS Yogyakarta, Cet. I, Yogyakarta: LKiS, 2005 (www.icrp-online.org, 24 Pebruari 2006).

[5]Dua golongan Ahmadiyah, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Qodiyan dan Lahore mengalami kesimpangan pemikiran yang krusial dalam menyakini kebenaran akan adanya Nabi Pamungkas. Dalam hal ini pihak Qadiyan, khususnya Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, putera pendiri Gerakan Ahmadiyah. nampak telah menyalahpahami atas  apa yang telah diyakini pendiri Ahmadiyah itu sendiri, yakni Mirza Ghulam Ahmad, bahwa Muhammad saw adalah Nabi terakhir, sesudahnya tidak ada Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru sebagaimana tertulis di-Ayyām al-Shulh, hlm.74 (www.ahmadiyah.org).

Sedangkan Ahmadiyah Qadian berkeyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad meninggal, masih akan tetap muncul nabi-nabi lain sampai hari akhir. Nabi-nabi yang muncul setelah Nabi Muhammad disebut sebagai nabi buruzi, yaitu nabi yang tidak membawa syariat. Lihat, Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, Cet. I, (Yogyakarta: LKis, 2005), hlm. 101.

Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, putera pendiri Gerakan Ahmadiyah (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad), beberapa saat setelah ia terpilih menggantikan Maulvi Hakim Nuruddin. setelah ia wafat pada tanggal 13 Maret 1914, timbullah perbedaan pendapat yang penting dan mendasar. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad berpendapat bahwa; (1) Masih Mau’ud itu betul-betul Nabi, (2) beliau itu ialah Ahmad yang diramalkan dalam al-Qur’an (61: 6), dan (3) semua orang Islam yang tidak berbaiat kepadanya, sekalipun tidak mendengar nama beliau, hukumnya tetap kafir dan keluar dari Islam (Ainai Sadaqat, hal. 35). Lihat, GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA: Penegak Akidah Khatamun-Nabiyyin (www.ahmadiyah.org).

[6]Mīrzā Ghulām Aḥmad (Urdu: ميرزا غلام احمد, ਮਿਰਜ਼ਾ ਗੁਲਾਮ ਅਹਮਦ; February 13, 1835 – May 26, 1908 CE, or Shawal 14, 1250 – Rabi’ al-thani 24, 1326 AH) was a controversial Indian religious figure and founder of the Ahmadiyya  movement within Islam. He claimed to be the Mujaddid (divine reformer) of the 14th Islamic century, the Promised Messiah (“Second Coming of Christ”), the Mahdi awaited by the Muslims in the latter-days, and a “subordinate prophet”, with some qualifications. He declared that Jesus (Isa) had in fact survived the crucifixion and later died a natural death, after having migrated towards Kashmir and claimed that he had appeared in the spirit and power of Jesus. His claims, teachings, writings, prophecies and religious activities caused grave concern among religious circles particularly those of Christianity and Islam. He traveled extensively across the subcontinent of India preaching his new religious ideas and ideals and won a sizable following. He is known to have engaged in numerous debates and dialogues with the Muslim, Christian and Hindu priesthood and leadership. He founded the Ahmadiyya movement in 1889. The mission of the movement, according to him, was the propagation of Islam in its pristine form. He authored around 80 books on various religious, spiritual and theological issues. Many of his books bear a polemic and vindicatory tone. He promoted the peaceful propagation of Islam and emphatically argued against the necessity of Jihad in its form of physical fighting in the present age. He claimed to have received true dreams, visions and revelation even as a youth. In 1869 Muhammad Husein, a leader of the Ahl al-Hadits sect who had known Ahmad from childhood, came to Batala. Upon Ahmad’s visit to Batala, he was requested to hold a debate with Hussein. It is said that he sat himself in the Mosque opposite Muhammad Hussein where crowds had gathered eagerly awaiting an intellectual exchange between the two. He began by asking him what his position was regarding a certain theological point. Upon hearing his answer and finding that it was in accordance with the Islamic teaching he exclaimed “If that is your view it is most reasonable. There is nothing to be said against it” and he then left to the disapproval of his supporters who, thinking themselves humiliated, began shouting. Ahmad however was not moved and upon his return to Qadian claimed that God had revealed to him His appreciation regarding this matter and told him: “God is Pleased with your humble ways, He will shower his blessings on you, so much so that Kings would seek blessings from your garments” (Baraheen-e-Ahmadiyya, Vol IV p 520). See, Wikipedia, the free encyciclopedia.

[7]Sir Syed Ahmed Khan, (also Sayyid Ahmad Khan) (Urdu: سید احمد خان} (October 17, 1817 – March 27, 1898), commonly known as Sir Syed (although this is technically incorrect; he would have properly been called “Sir Ahmed” as Sayyid is itself a title in this case), was an Indian educator and politician, and an Islamic reformer and modernist. Sir Syed pioneered modern education for the Muslim community in India by founding the Muhammedan Anglo-Oriental College, which later developed into the Aligarh Muslim University. His work gave rise to a new generation of Muslim intellectuals and politicians who composed the Aligarh movement to secure the political future of Muslims in India. He is widely considered as a ‘traitor’ in leftist and patriotic circles of India.

One of the most influential Muslim politicians of his time, Sir Syed was suspicious of the Indian independence movement and called upon Muslims to loyally serve the British Raj. He denounced nationalist organisations such as the Indian National Congress, instead forming organisations to promote Muslim unity and pro-British attitudes and activities. Sir Syed promoted the adoption of Urdu as the lingua franca of all Indian Muslims, and mentored a rising generation of Muslim politicians and intellectuals. Although hailed as a great Muslim leader and social reformer, Sir Syed remains the subject of controversy for his views on Hindu-Muslim issues. See, Wikipedia, the fee encyclopedia.

[8]Aligarh Muslim University is a Residential Academic Institution. It was established in 1875 by Sir Syed Ahmed Khan and in 1920 it was granted a status of Central University by an Act of Indian Parliament. It is located in the city of Aligarh, Uttar Pradesh, India. Modelled on the University of Cambridge, it was among the first institutions of higher learning set up during the British Raj. Originally it was Mohammedan Anglo-Oriental College, which was founded by a great Muslim social reformer Sir Syed Ahmed Khan. Sir Syed Ahmed Khan, a great social reformer of his age felt the need for modern education and started a school in 1875 which later became the Mohammedan Anglo Oriental College and finally Aligarh Muslim University in 1920. In some courses, seats are reserved for students from SAARC and Commonwealth countries. The University is open to all irrespective of caste, creed, religion or gender (Wikipedia, the fee encyclopedia).

[9]Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, Cet. I, (Yogyakarta: LKis, 2005), hlm. 58.

[10]www.icrp-online.org, 24 Pebruari 2006.

[11]Lihat Tedi Kholiluddin, Ahmadiyah, Anarkhisme dan Pluralitas Pemikiran (science-lens.blogspot.com).

[12]AD&ART Ahmadiyah Qadian Departemen Indonesia disesuaikan dengan Organisasi Pusat Ahmadiyah di Qadian. Nama Ahmadiyah telah diganti dari Ahmadiyah Qadian Departemen Indonesia (AQDI) menjadi Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia (AADI), dan Mukatamar bulan Desember 1949 di Jakarta selain menyetujui AD&ART yang baru, juga mengganti nama organisasi dari Anjuman Ahmadiyah Indonesia menjadi Jema’at  Ahmadiyah Indonesia (JAI). Dalam perkembangan selanjutnya, organisasi ini telah mendapat pengesahan dari pemerintah republik Indonesia berupa badan hukum dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.J.A/5/23/13 tanggal 13 Maret 1953 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia nomor 26 tanggal 31 Maret 1953. Lihat, Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, Cet. I, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hlm. 196.

Dalam berdakwah, Ahmadiyah Qadiyan menggunakan sikap yang sopan, santun, dan tidak suka menempuh jalan kekerasan. Media yang digunakan dakwah antara lain: penerbitan, penerjemahan Al-Qur’an ke dalam 100 bahasa, lembaga pendidikan, seminar, dialog, kajian buku dan televisi melalui Muslim Television Ahmadiyah (MTA). Media yang ini terbilang sangat canggih, karena media elektronik tersebut mampu menjangkau kawasan seluruh dunia dan beragam latar belakang agama. Dalam berbagai kesempatan dakwah, orang-orang Ahmadie sangat percaya diri menyebarkan ajarannya dengan cara berdebat terbuka, sehingga, iklim dialogis sebenarnya mereka miliki sebagian dari strategi dakwah. Lihat, Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, Cet. I, (Yogyakarta: LKis, 2005) dalam Nurhasim, resensi; Memahami Ahmadiyah yang Kontroversial, (www.icrp-online.org, 24 Pebruari 2006).

[13]Jawa Pos, 28 April 2008.

[14]kesesatan dan penyimpangan itu bisa diringkas sebagai berikut: 1. Ahmadiyah  Qadyan berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari India itu adalah nabi dan rasul. Siapa saja yang tidak mempercayainya adalah kafir dan murtad. 2. Ahmadiyah Qadyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci “Tadzkirah”. 3. Kitab suci “Tadzkirah”adalah kumpulan “wahyu” yang diturunkan “Tuhan” kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad” yang kesuciannya sama dengan Kitab Suci Al-Qur’an dan kitab-kitab suci yang lain seperti; Taurat, Zabur dan Injil, karena sama-sama wahyu dari Tuhan. 4. Orang Ahmadiyah mempunyai tempat suci sendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam Haji Akbar ke Qadyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadyan adalah haji yang kering lagi kasar”. Dan selama hidupnya “Nabi” Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah pergi haji ke Makkah. 5. Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama-nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa  8. Zuhur  9. Tabuk 10. Ikha’ 11. Nubuwah  12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan HS. Dan tahun Ahmadiyah saat penelitian ini dibuat 1994M/ 1414H adalah tahun 1373 HS. Kewajiban menggunakan tanggal, bulan, dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas adalah perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu: Basyiruddin Mahmud Ahmad. 6. Berdasarkan firman “Tuhan” yang diterima oleh “Nabi” dan “Rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang berbunyi: Artinya: “Dialah Tuhan yang mengutus Rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya. (kitab suci Tadzkirah hal. 621). 7. Secara ringkas, Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan  dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke 4 yang bermarkas di London Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmadiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve kepada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir, sedang wanita Ahmadiyah haram dikawini laki-laki di luar Ahmadiyah. Orang yang tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran. 8. Berdasarkan “ayat-ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah”. Bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad.

[15]Ahmad Sarwat, Butir – Butir Kesesatan Ahmadiyah, July 19, 2005 1:47 PM

http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg01055.html.

[16]GAI adalah Gerakan yang mandiri, tidak ada hubungan organisatoris dengan organisasi manapun di dunia, termasuk dengan Ahmadiyah Anjuman Isya’ati Islam (Ahmadiyah Gerakan Penyiaran Islam) Lahore. Hubungan yang ada-hanyalah-bersifat spiritual saja. Lihat, GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA: Penegak Akidah Khatamun-Nabiyyin (www.ahmadiyah.org).

[17]In 1902 Maulana Muhammad Ali became the editor of the Review of Religions, one of the first Islamic journals in English. When Mirza Ghulam Ahmad established the Sadr Anjuman Ahmadiyya, the first governing body of the Ahmadiyya Movement, in 1905, he appointed Maulana Muhammad Ali as the Secretary of its executive council. (The successor to this body was the Ahmadiyya Anjuman Ishaat-i-Islam of Lahore.) At the time of Mirza Ghulam Ahmad’s death in 1908, he was succeeded by Maulana Hakim Noor-ud-Din, Khalifatul Masih I., who became Head of the Ahmadiyya Movement (Wikipedia, the fee encyclopedia).

[18]Nurhasim, resensi; Memahami Ahmadiyah yang Kontroversial, (www.icrp-online.org, 24 Pebruari 2006).

[19]Undang-undang keormasan dikeluarkan pemerintah Orde Baru pada tahun 1985, organisasi-organisasi mahasiswa dan sosial-keagamaan Islam seperti: NU, Muhammadiyah, MUI, HMI, PMII, harus menerima Pancasila sebagai asas organisasi mereka (Harun, 1986 , Harun dan Mulkhan, 1987, Effendy, tth: 58-128). Lihat, Bahtiar Effendy, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1998), hlm. 122.

[20]SUARA KARYA, 9 Agustus 1994, hlm. VIII, pada: D. AGAMA, 10.

[21]Dalam rumusannya, akidah Ahmadiyah Lahore menyatakan percaya dengan yakin bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir dan yang terbesar diantara sekalian Nabi. Dengan datangnya Nabi, agama telah disempurnakan oleh Allah. Oleh sebab itu sepeninggalnya tidak akan ada Nabi lagi yang diutus, akan tetapi pada tiap-tiap permulaan abad akan diutus Mujaddid (Pembaharu), untuk melayani dan menegakkan Islam. Disamping mengakui bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujaddid abad 14 H dan bukan Nabi dan tak pernah mengaku Nabi, juga meyakini bahwa Allah kerap kali mewahyukan sabda-Nya kepada orang-orang suci yang terpilih di antara kaum Muslimin, meskipun mereka bukan Nabi. Orang-orang semacam ini disebut Mujaddid atau Muhaddats, dengan kata lain, sebagai orang yang diberi sabda Allah. Anugerah semacam itu acapkali disebut Zill an-Nubuwah, artinya bayang-bayang kenabian. Sebagaimana kata zilullah, demikian pula kata zill an-Nabi atau bayang-bayang Nabi, ini bukan berarti Nabi. Ahmadiyah juga mengakui akan kebenaran Hadis Nuzul al-Masih atau turunnya al-Masih. Akan tetapi , Al-Qur’an sendiri dengan kata-kata yang jelas telah mengatakan bahwa Nabi Isa as telah wafat, maka mereka percaya bahwa al-Masih yang akan turun pada akhir zaman bukanlah Nabi Isa bangsa Israel, melainkan seorang Mujaddid yang sifat-sifatnya ada persamaannya dengan Nabi Isa as. Lihat Akidah Ahmadiyah sebagaimana yang telah dirumuskan oleh sekretaris Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Maulana Muhammad Ali dalam bukunya Al-Bayān fi al-Rujū’ ila al-Qur’an (1930: 33-35).

[22]Pengantar Azumardi Azra dalam Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, Cet. I, (Yogyakarta: LKis, 2005). Hlm. X.

[23](1) percaya dengan yakin akan Keesaan Allah dan Kenabian Nabi Suci Muhammad saw. (2) percaya dengan yakin bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir dan yang terbesar diantara sekalian Nabi. Dengan datangnya beliau, agama telah disempurnakan oleh Allah. Oleh sebab itu sepeninggal beliau tak akan ada Nabi lagi yang diutus, akan tetapi pada tiap-tiap permulaan abad akan diutus Mujaddid (Pembaharu), untuk melayani dan menegakkan Islam. (3) percaya dengan yakin bahwa Quran Suci adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Tak ada satu pun ayat yang harus dihapus (mansukh) dan ayat-ayatnya tetap murni untuk selama-lamanya. Sampai hari Qiyamat Quran menjadi pedoman petunjuk bagi kaum Muslimin. (4) mengakui bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujaddid abad 14 Hijriyah. Beliau bukan Nabi dan tak pernah mengaku Nabi.

(5) percaya bahwa Allah kerap kali mewahyukan sabda-Nya kepada orang-orang suci yang dipilih oleh Allah di antara kaum Muslimin, meskipun mereka bukan Nabi. Orang-orang semacam ini disebut Mujaddid atau Muhaddats, artinya orang yang diberi sabda Allah. Anugerah semacam itu acapkali disebut Zillun-Nubuwah, artinya bayang-bayang kenabian. Sebagaimana kata Zilullah, demikian pula kata Zillun-Nabi atau bayang-bayang Nabi, ini bukan berarti Nabi yang sungguh-sungguh. (6) barang siapa mengucapkan kalimah syahdat, Asyhadu alla ilaha illallah, wa-asyhadu anna Muhammadarrasulullah, dan percaya akan arti dan maksudnya, maka ia adalah orang Islam, bukan orang kafir. (7) menghormati dan memuliakan para sahabat, para Wali dan para Ulama besar Islam. Kita tak membeda-bedakan penghormatan kita terhadap para sahabat, para Wali, para Muhaddats dan para Mujaddid.

(8)  menyebut kafir kepada orang Islam adalah perbuatan yang amat keji. Oleh sebab itu, tak akan bersalat makmum di belakang siapa saja yang menyebut kafir kepada orang Islam; hal ini untuk menunjukkan betapa tak suka kita terhadap perbuatan semacam itu; sikap demikian kita lakukan terhadap siapa saja, baik itu orang Ahmadi atau pun bukan. Sebaliknya, kita mau bersalat makmum di belakang siapa saja yang tak mengafirkan Islam.

(9) mengakui akan benarnya Hadis Nuzulul-Masih atau turunnya al-Masih. Akan tetapi oleh Quran Suci sendiri dengan kata-kata yang terang telah berfirman bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, maka kita percaya bahwa Masih yang akan turun pada akhir zaman bukanlah Nabi Isa bangsa Israel, melainkan seorang Mujaddid yang sifat-sifatnya ada persamaannya dengan Nabi Isa a.s. (10) percaya bahwa tak ada paksaan untuk memeluk agama Islam, dan kita percaya pula bahwa tak ada Imam Mahdi yang datang menyiarkan Islam dengan pedang. Adapun Imam Mahdi yang sesungguhnya ialah seorang Mujaddid dan dianugerahi petunjuk dan sabda Allah untuk menegakkan, menjaga dan menghayati agama Islam yang sejati (www.ahmadiyah.org).

[24]Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa “kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan lain”. Dikutip dalam Taufik Adnan Amal dan Syamu Rizal Panggabean, Politik  Syariat Islam: Dari Indonesia hingga Nigeria (Jakarta: Alvabet, 2004), hlm. 98.

[25]Secara normatif mereka merujuk fatwa MUI yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah sesat. Fatwa mengenai sesatnya Ahmadiyah telah dua kali dikeluarkan MUI pada : (1)  Musyawarah Nasional II Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 11-17 Rajab 1400 H/26 Mei-1 Juni 1980; dan (2) Musyawarah Nasional MUI VII pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H./ 26-29 Juli 2005 M. Kedua fatwa MUI ini sebelumnya tidak pernah menentukan kebijakan negara. Pengaruhnya hanya bersifat moral dan jangkauannya hanya terbatas pada komunitas Islam tertentu saja (penelitianku.wordpress.com).

[26] SKB Menag, Mendagri, dan Jaksa Agung, disinyalir hanya berdasarkan tekanan kelompok yang merasa “paling Islam” dan rekomendasi fatwa MUI dan Bakorpakem. Sedangkan eksistensi MUI dan JAI itu sejajar dan keberadaan Bakorpakem tidak punya landasan hukum dan konstitusi yang kuat (Jawa Pos, 28 April 2008).

[27]Isi SKB tersebut berisi enam (6) butir: (1) Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agam; (2) Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jema’at Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW; (3) Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenani saksi sesuai peraturan perundangan; (4)  Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI; (5) Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dnan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku; dan (6) Memerintahkan setiap pemerintah daerah agar melakukan pembinaan terhadap keputusan ini (penelitianku.wordpress.com).

[28]Disarikan dari Amin Mudzakir, Politik Muslim dan Ahmadiyah di Indonesia Pasca Soeharto: Kasus Cianjur dan Tasikmalaya, penelitianku.wordpress.com, Oktober 24, 2008.

[29]Lihat, MUI, Ahmadiyah, dan Fikih Toleransi, Suara Merdeka, Jum’at, 25 Januari 2008.

[30]Fatwa penyesatan dan penilaian di luar Islam oleh MUI terhadap Ahmadiyah Qodiyan, 1 Juni 1980, dan diperkuat fatwa MUI 15 Juli 2005, muncul setelah aliran tertentu yang mengaku paling Islam, menyerang kantor pusat JAI di Parung, Bogor. Selanjutnya, tindak kekerasan menyebar ke berbagai daerah, kantor-kantor JAI diserang, sehingga menimbulkan korban. Ghazali Said menilai fatwa MUI tersebut telah memberi legitimasi diperkenankannya tindak kekerasan terhadap JAI yang tak pernah mengganggu secara fisik -apalagi menyerang- kelompok Islam lain yang berbeda. MUI mestinya mengeluarkan fatwa bagi penyerang (pelaku pidana), bukan menyesatkan pihak yang diserang (korban pidana). Dengan kata lain, MUI tidak adil dalam klarifikasi data. Pedoman MUI banyak didasarkan pada apa yang dikemukakan Amin Jamaluddin (LPII) dalam bukunya: Ahmadiyah Membajak Al-Qur’an, dan buku Hartono Ahmad Jaiz, Ahmadiyah Punya Nabi dan Kitab Suci Baru.
MUI dan organisasi-organisasi Islam yang lain mestinya menyadari bahwa vonis “luar Islam” akan berakibat tindak kekerasan dan mengurangi secara drastis persentase umat Islam Indonesia. Lihat, Imam Ghazali Said dalam Membela Ahamdiyah yang dizalimi, Jawa Pos, 28 April 2008.

[31]Diakses dari gusdur.net, 31 Januari 2008.

[32]Imam Ghazali Said adalah pengasuh Pesantren Mahasiswa “An-Nur” dan ketua FKUB Surabaya.

[33]Ensklopedia Islam Indonesia yang disusun oleh Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, diketuai Harun Nasution mengemukakan bahwa sebenarnya kedua golongan Ahamadiyah itu tetap percaya penuh kepada kitab suci al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad. Mereka beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Kiamat, dan Takdir-Nya, serta berpegang kepada rukun Islam yang lima: mengakui dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan naik haji. Pendeknya, kitab al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mereka pegang tidak berbeda dengan yang dipegang umat Islam. Mereka yakin bahwa Nabi Muhammad adalah Khātam al- Anbiyā’, namun mereka (Qadian) mentakhsiskan atau menyempitkan artinya menjadi penutup nabi-nabi yang membawa syariat. Nabi-nabi yang tidak membawa  syariat masih dibutuhkan kehadirannya pada masa-masa sesudah Nabi Muhammad. Mereka juga percaya pada hadits Nabi yang berbunyi lā nabiyya ba’dī (tidak ada nabi sesudahku), tetapi mereka sempitkan artinya menjadi “tidak ada nabi yang menyalahi atau menentangku”. Dengan demikian, tidak dinaifkan adnya nabi-nabi yang akan mendukung ajaran Nabi Muhammad seperti banyak nabi-nabi sesudah Nabi Musa yang bertugas menegakkan syari’at Nabi Musa.

[34] Realita yang ada menjelaskan kezaliman yang ditimpa JAI dan pengesampingan hak-hak sipil mereka. Hal tersebut dengan konstitusi kita UUD ’45 pasal 29, ayat 1 dan 2, di samping mengabaikan bahkan melanggar hak asasi manusia (HAM).

[35]Sebagaimana yang dilansir di Jawa Pos, 28 April 2009.

[36]Lihat, Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Dinilai Terbaik, www. depag.go.id, 28 Mei 2009.

Advertisements

A Vision of Effective Islamic Education dalam Prespektif Pemikiran Pendidikan: Filosofis-Psikologis

Vision

Di dalam mukadimah artikel berjudul A Vision of Effective Islamic Education, Dawud Tauhidi mengajukan kegelisahan akademiknya berupa pertanyaan, “Apa yang keliru dengan pendidikan Islam?” Sebuah pertanyaan yang berlatar belakang ketidak selarasan  kehidupan umat Islam sekarang dengan prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai keyakinan.

Lebih lanjut ia memandang, akhir-akhir ini Islam diajarkan sebatas sebagai informasi dan bukan pengalaman-pengalaman. Bagi kebanyakan peserta didik, Islam tidak memberi inspirasi serta nampak kurang berarti dan tidak relevan dengan kehidupan pribadi dan pengalaman-pengalaman mereka.

Pendidikan Islam pada kondisi teks kekinian memerlukan pemikiran- pemikiran baru. Sebuah visi pendidikan Islam yang efektif ditawarkan oleh Dawud Tauhidi, rasa-rasanya perlu untuk ditelaah lalu dianalisis sejauh mana efektivitas visi pendidikan Islam berdampak  pada anak didik.

Tantangan bagi Pendidikan Islam

Adanya pengaruh kuat paham matrealis sekular dan sistem nilainya menjadi tantangan tersendiri bagi baik individu maupun komunitas keagamaan. Tauhidi memandang hal demikian tergantung pada bagaimana kita mendidik  dan bergantung pada keberhasilan kita dalam mentransformasikan visi suci ataupun  pandangan hidup umat Islam. Ia menekankan pentingnya keberlangsungan spiritual serta moral anak didik dan masyarakat Muslim.

Tidak bisa dipungkiri, paham materialis sekular berdampak kuat pada kehidupan umat Islam. Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa Islam tidak menampik dunia materi bahkan memberi porsi tersendiri, menjadikan materi sebagai alat interaksi sosial, mengejewantahkan ajaran Islam lewat cara berbagi materi dan menjadikan pencapaian materi yang manusiawi sebagai bentuk lain peribadatan.

Materi merupakan aspek untuk bertahan hidup paling nyata saat ini, terlepas dari paham materialis sekular, kecenderungan seseorang meski ia seorang Muslim untuk mendapatkan banyak materi selalu ada. Hal demikian sesuai dengan  aspek biologis yang merupakan aspek orisinil. Sebuah aspek yang menurut Sigmund Freud berfungsi dengan berpegang pada prinsip “kenikmatan”, yaitu mencari keenakan dan menghindarkan diri dari ketidak-enakan. Saat inipun, sebagaimana orientasi pendidikan ala Ibn Khaldun, materi ditempatkan sebagai tujuan pertama pendidikan dengan bahasa peningkatan kualitas hidup menggantikan tujuan semula pendidikan Islam yaitu terbentuknya manusia yang bertaqwa, berkepribadian Muslim, menjadi insan kamil, ulul albab atau yang lainnya, sebab pada akhirnya tujuan-tujuan mulia itupun akan berhenti pada satu titik penting; materi sebagai tujuan sekaligus nyawa pendidikan.

Tauhidi menyadari pengaruh kuat paham materialis sekular yang berdampak pada pemarjinalan nilai-nilai ajaran Islam. Kegelisahan yang sama, banyak dialami pemerhati maupun praktisi pendidikan Islam. Banyak upaya yang telah dilakukan, seperti Islamisasi (al-Attas), naturalisasi (al-Ghazali), internalisasi (SH. Nasser), Easternisasi (dalam pandangan Bassam Tibi) sampai De-Westernisasi (menurut Adnin Armas) selalu menggusung dikotomi-independensi Barat-Timur: Sains-Agama yang pasti berakhir pada konflik berkepanjangan yang tidak berkesudahan. Belum ada upaya memberi ruang pengakomodiran sebagaimana anjuran Emmanuel Kant untuk menuju integralistik-holistik Barat-Timur. Mengacu pada pengalaman dari para pendahulunya, Tauhidi menyajikan pengulangan gagasan pendidikan Islam yang efektif, mengena di kehidupan nyata, tidak di awang-awang tapi landing sesuai dengan kebutuhan dan sejalan dengan minat peserta didik melalui pemahaman Islam yang tepat serta aplikatif (being Muslim).

Dengan tanpa pemahaman yang tepat akan sistem nilai Islam, ia meyakini bahwa tujuan (maqasid) pendidikan Islam akan sulit dicapai. Pada dasarnya, pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam memberikan solusi konkrit serta program-program yang akan membantu  pemahamam bagi peserta didik, juga dalam meningkatkan peranan dan tanggung jawab keluarga terhadap proses pendidikan.

Merespon wacana pembaharuan ini, Banyak yang berusaha keras untuk menemukan solusi riil dalam menghadapi permasalahan dan tantangannya, termasuk mengkaji ulang konsep how dan what yang telah diterapkan dalam pengajaran tentang Islam. Premis mendasar adalah bagaimana pendidik Muslim membangun kembali kurikulum kajian Islam-apa yang musti diajarkan dan bagaimana ia diajarkan- bila direlevansikan dengan daya tahan (the spiritual survival skill) sebagai Muslim yang hidup di abad 21.

Tauhidi menggaris bawahi visi baru pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi Muslim yang mempunyai tingkatan pemahaman, komitmen dan tanggung jawab sosial, yang mampu menyajikan Islam dan kemanusiaan secara efektif. Menurut dia, Pendidikan Islam harus bisa mencetak lulusan yang mampu mengenali, memahami lalu kemudian bisa bekerja sama menyelesaikan  permasalahan-permasalahan terkait erat dengan kehidupan yang telah diamanahkan. Permasalahannya adalah visi pengajaran yakni Islam sebagai materi ajar yang dengan sendirinya diharapkan berpengaruh dan mempunyai dampak positif terhadap perilaku-perilaku, tapi pada kenyataannya masih dibutuhkan proses penjadian perilaku-perilaku itu sendiri. Solusinya adalah bahwa tarbiyah wa ta’lim perlu diikuti dengan ta’dib.

Visi

Pada kenyataannya, visi ini bukanlah hal yang baru, lebih tepat jika dikatakan sebagai pembaharuan pandangan atau visi pendidikan Islam. Seperti kembali ke visi pendidikan klasik meski tidak tradisional ataupun konvensional jika merujuk ulang ke model pendidikan zaman Nabi, yakni mencakup praktek dan relevansi. Sebuah model pendidikan yang menekankan substansi pendidikan dan relevansinya berupa pengalaman-pengalaman keseharian dan permasalahan di awal Islam. Meskipun kandungan pendidikan Islam tidak diperdebatkan lagi disiplin ilmu mendasarnya seperti aqidah, tafsir, fiqh dan yang lainnya, tetapi proses pelaksanaannya musti dilakukan secara alami dan sejalan dengan minat peserta didik yang berkait erat dengan isu-isu yang muncul di konteks terkini pendidikan.

Perbedaan mendasar visi pendidikan Islam ditawarkan Dawud Tauhidi adalah pengajaran tentang Islam dan pengajaran bagaimana menjadi seorang Muslim. Tauhidi menegaskan bahwasanya pendidik Muslim dalam banyak hal lebih mengajarkan fakta-fakta tentang Islam dan belum menemukan pengembangan sebuah program yang sistimatis untuk mengajar tentang menjadi seorang Muslim secara alami.

Pendidik Muslim harus menjadi lebih sadar akan peranan penting faktor-faktor yang berperan dalam pembelajaran yang efektif, yaitu bermakna (meaningful), integral (integrative), bernilai dasar (value-based), menantang (challenging) serta aktif (active).

Pendidik Muslim harus menyadari bahwa tiap aspek dari pengalaman belajar mengajar benar-benar membawa nilai-nilai pada siswa dan memberi kesempatan bagi mereka untuk belajar tentang nilai. Oleh karena itu, pendidik harus meningkatkan kesadaran akan nilai/martabatnya serta bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi perilaku sebagai model peranan dan apa yang siswa pelajari dari pengalaman mereka sendiri, orang lain dan terkait dengan Islam.

Pengajar di pendidikan Islam bisa dibilang efektif kalau mempersiapkan diri dengan peningkatan pengetahuan dasarnya secara berkelanjutan, membetulkan tujuan dan kandungan pada kebutuhan siswa, mengambil manfaat dari kejadian yang terbentang dari momentum pengajaran serta mengembangkan percontohan yang secara langsung berhubungan dengan anak didik. Lebih lanjut, pembelajaran harus menjadi lebih aktif dengan menekankan aktifitas gerak tangan dan pikiran hand-on dan mind-on yang mengajak peserta didik bereaksi pada apa yang mereka pelajari serta menggunakannya di dalam kehidupan mereka yang berarti.

Faktor-faktor kunci yang diketengahkan Tauhidi diatas merupakan gambaran visi yang jelas yang berdasarkan dinamika pandangan Islam dan pendidikan Islam. Sebuah pandangan yang berakar pada misi Islam yang membawa dampak positif sedangkan tujuan pendidikan adalah menyiapkan generasi muda yang mampu membawa misi suci tersebut secara emosional, moral dan intelektual.

At-thariqatu ahammu min al-madda wa al-ustadzu ahammu min al-thariqah, bahwa cara atau metode itu mempunyai peranan yang lebih penting dari pada materi ajar tetapi pengajar jauh lebih penting dari cara itu sendiri.

Beranjak dari falsafah pendidikan yang merupakan aktivitas fikiran yang teratur sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan  proses pendidikan, nampaknya Tauhidi memahami betul capaian akhir pendidikan Islam, yakni tidak sekedar teori tapi praktek pelaksanaan; penguasaan ilmu keagamaan sekaligus menjadi seorang yang agamis dengan keilmuannya. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Mohd. Labib al-Najihi di dalam bukunya Pengantar pada Falsafah Pendidikan bahwa falsafah pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan ma’lumat-ma’lumat yang diusahakan untuk mencapainya. Dengan ini maka falsafah pendidikan dan pengalaman kemanusiaan merupakan anasir yang bersatu dan berpadu.

Bagaimanapun juga, Pendidikan adalah proses menuju kesempurnaan. Proses ini tidak ada batasnya dan tidak bisa dibatasi oleh beberapa faktor penting penunjang efektivitas pendidikan. Aksiologis dari psikologi pendidikan berupa manfaat terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan, seyogyanya menjadi model pendekatan psikis dalam mengoptimalkan potensi manusia agar bisa beranjak ke jenjang kesempurnaan.

Satu hal yang perlu digaris bawahi disini adalah bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila peserta didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila ia berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.

Referensi

Al-Najihi, Mohd. Labib. (1967), Pengantar pada Falsafah Pendidikan, Kaherah, Maktabah al-Englo al-Masriyah

Al-Syaibany, Omar Muhammad Al-Toumy. (1979), terj. Hasan langulung, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang

Suryabrata, Sumadi. (1990), Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali

Tauhidi, Dawud. (2008), A Vision of Effective Islamic Education, Islamic World

Current Teaching-Learning Approaches

teach

The emergence of various teaching approaches aiming at how students should learn emerges due to the change of teaching focus from teacher-centered instruction to student-centered one, were claimed to be applicable to various subject-matters such as Constructivist Approach, Contextual Approach, Quantum Teaching and Learning, Cooperative Learning, and various instructional approaches and models.

Constructivist Approach

The idea that learning is not a process of accumulating facts or developing skills, but a process where a child actively constructs understanding based on his/her experiences (Piaget) inspires constructivist to adopt it as an approach which is much used in the teaching of science.

The difference between Constructivist Approach and Objectivist (traditional) Approach is that Objectivist Approach emphasizes knowledge as an object, while Constructivist Approach thinking process to give meanings. Some characteristics of Constructivist Approach (CA) as compared with Objective Approach (OA) (Brooks and Brooks, 1999: 17) are: 1) in OA curriculum is presented part to whole, with emphasis on basic skills. In CA curriculum is presented whole to part with emphasis on big concepts, 2) in OA strict adherence to fixed curriculum is highly valued; while in CA pursuit of questions is highly valued, 3) curriculum activities in OA rely heavily on textbooks and workbooks but CA curriculum activities rely heavily on primary sources of data and manipulative materials, 4) students  in OA are viewed as “blank slates” onto which information is etched by teacher while in CA students are viewed as thinkers with emerging theories about the world, 5) in OA teachers generally behave in a didactic manner, disseminating information to students and In CA teachers generally behave in an interactive manner, mediating the environment for students, 6) while teachers in OA seek the correct answer to validate student learning, in CA seek the students’ points of view in order to understand students’ present conception for use in subsequent lessons,7) in OA assessment of student learning is viewed as separate from teaching and almost entirely through testing but in CA assessment of student learning is interwoven with teaching and occurs through teacher observations of students at and through student exhibitions and portfolios, 8) students primarily work alone in OA, but they work in groups in CA.

A model of teaching and learning process using Constructivist principles is 6E’s cycle (Johnston, 2001), namely: End, which means the target or objective of the learning. Engagement, i.e. involving students in the teaching-learning activities. Here the teacher may ask questions, present a problem, show contradicting events, or challenge commons beliefs. Exploration; which means researching an object, situation, or event; making relationship; finding patterns; identifying variables; or questioning an event. Explanation, namely the teacher asks students to explain the object, situation, or event which has just been observed of experienced. Then, the teacher gives scientific explanation.

Elaboration, which means to generalize from the concept, process, or skill being learned. This is continued with an experiment to apply, widen, or deepen those concept, process, or skill. Evaluation, i.e. the teacher conducts informal assessment by observing the teaching learning process from the beginning of the activities, and formal assessment of students’ achievement after elaboration step. This model is called a cycle because after the 6th step the process may be continued from the 1st step again.

Contextual Approach

Contextual Approach or Contextual Teaching and Learning (CTL) claims to be based on Constructivist Approach. This approach emphasizes teacher’s effort to relate teaching to students’ environments, and to relate students’ knowledge to its application in real life. Some characteristics to be developed in Contextual Approach (Suyanto and Latief, 2002) are emphasizing the importance of problem solving, acknowledging the need to conduct learning activities in various contexts, such as home, society, and work place. Guiding learning toward independent study, emphasizing learning on various contexts of students’ lives, encouraging students to learn from peers and group work, and using authentic/process assessment.

The elements of Contextual Approach are: 1) constructivism, which emphasizes the activation of learner’s background knowledge and reflection on student learning, 2) questioning, as a strategy to encourage, guide, and assess student learning, 3) inquiry, as an activity which consists of observing, questioning, hypothesizing, data gathering and drawing conclusion, 4) learning community, which suggests that learning outcomes be obtained through cooperation and learning with each other, 5) modeling, which is provided by the teacher or in cooperation with students, 6) reflection, which is done to review/reinforce what has been learned, 7) authentic assessment, as a process evaluation which is emphasized in this approach.  This approach can be used in learning procedure.

Quantum Teaching and Learning

Quantum Teaching and Learning (Degeng, 2001; DePorter, et al. 1999) is defined as interactions that transform energy into radiance, and Quantum the orchestration of the variety of the interactions that exist in and around the moment of learning. Quantum Teaching and Learning (QTL) also claims to be based on Approach. QTL has similarities with Suggestopedia. Suggestopedia focuses on language teaching, while QTL focuses on teaching and learning in general. QTL emphasizes efforts to create enjoyable learning activities to reach students’ welfare. QTL suggests that teacher enter students’ world and bring teacher’s world. The deeper the teacher enters the students’ world, the more influence can he/she give to students.

In the teaching and learning process, QTL attempts to create enjoyable learning atmosphere by growing student motivation to learn, developing sympathy and mutual understanding, creating cheerfulness and astonishment during the learning encouraging students to take a risk (trial) in learning, developing sense of belonging showing good models.

To build a strong foundation for learning through: 1) determining shared goals between teacher and students, 2) constructing shared principles and values, 3) growing self-confidence in teacher as well as students, 4)  making shared agreement, policy, procedure, and regulation for teaching and learning process, 5) establishing partnership in learning.

To arrange enjoyable learning environment by: 1) rearranging classroom/school environment (physical and non-physical) using attractive media (e.g. demonstration, OHP, Power-point), 2) arranging tables and chairs, so that students are comfortable in learning, 3) arranging plants (e.g. flowers), animals (e.g. fish in an aquarium), and classroom (so that it feels fresh), 4) using music as a background of teaching and learning process.

To orchestrate a dynamic teaching and learning process by: 1) uniting our world and student’s world, 2) adjusting learning to learner characteristics, 3) combining success, failure, and risk, 4) using the steps of enrolling/motivating, experiencing, labeling/naming, demonstrating, reviewing, and celebrating, 5) using metaphor, analogy, or suggestion.

The teaching- learning using model using QTL is as abbreviated as EEL Dr. C, namely: Enroll, ie. create a situation close to students’ real life, so that they can feel curious. Experience, i.e. create learning experience to which all students can be involved. Label, i.e. give name or key words to the topic being taught. Demonstrate, i.e. give chance for the students to show their knowledge or ability. Review, i.e. lead the students to review the lesson so that they know that they know. Celebrate, i.e. acknowledge the task completion, student participation, and acquisition of the new skill and knowledge.

Cooperative Learning

Cooperative Learning method (Slavin, 1995) hold the idea that students should

work together to learn and are responsible for their teammates’ learning as well as their own. Cooperative learning claims that group work is better than individual competition. In practice, cooperative learning in class is conducted in small groups.

Cooperative learning has five basic elements (Johnson, Johnson, and Holubec, Holt, 1993 :5). First, there should be positive interdependence among the group members. The students should perceive the principle of “sink or swim together”. If one fails, all fail. Therefore, all group members work for the benefit of him-/herself and also for the group. Second, there should be individual and group accountability. The group should be accountable for reaching its goal, and each member should contribute his/her share for the task (no-one is allowed to “hitch-hike” on others). Third, there is a face-to face interaction to promote to promote the shared success. They should help, support, encourage, and praise each other’s learning efforts. Fourth, there are interpersonal and small group skills. Besides learning academic tasks, the group members also learn appropriate communication, leadership, trust, decision making, and conflict management skills. Fifth, there is group processing. The group is given time and procedure to assess what worked and what did not, what should be maintained and what should be changed so that there is a continuous improvement.

Examples of cooperative learning models are Student Teams-Achievement

Divions (STAD)[1], Teams-Games-Tournaments (TGT), Group Investigation[2], Group Discussion, Group Project, Jigsaw[3], Jigsaw II[4], Numbered Heads Together, or Think-Pair[5]. The following are some examples, taken from Slavin (1995), and Frazee and Rudnitski (1995).

PAKEM

PAKEM stands for Pembelajaran yang Aktif Kreatif Efektif, dan Menyenangkan (active, creative, effective, and joyful learning), for both teacher and students. This is one of the learning models developed for Indonesian context. The characteristics of Teacher-active are: 1) to monitor students learning activities, 2) to give feedback , 3) to ask challenging questions, 4) to question students’ ideas.  Student-active: 1) asking questions, 2) expressing ideas, 3) questioning others’ ideas.  Teacher-creative: 1) developing variety of activities, 2) making simple learning media. Student-creative: 1) designing/making something , 2) writing/composing. Teacher-effective is achieving teaching/learning objectives. Student-effective is mastering required competence. Joyful is teacher should not make students afraid of making mistakes or being laughed at. Students are encouraged to try/make something, ask questions, express ideas or question others’ ideas

PAKEM should be supported by teacher’s attitudes which are open-minded

listening to students’ opinions, respecting students’ opinions, giving feedback, encouraging, growing self-confidence, letting students try before assisting, not mocking, making habits for students to listen to others, and tolerating errors and encouraging correction.

PAKEM creates classroom environment conducive for learning such as containing various learning sources, books, real objects, media, and students’ works, making learning materials and equipment available, making tables and chairs comfortable, and having reading corner. Recently, the acronym P AKEM has become P AIKEM, with the addition of I for

Innovative.

TEFL in 2004 Curriculum in Indonesia

The problems of TEFL in Indonesia are: (a) SMA graduates hardly speak and write in Englih, (b) good mastery of English is helped by attending private courses, (c) teachers rely to much on textbook, and (d) teachers focus too much on linguistic features.

The teaching of English in secondary schools in Indonesia in 2004 Curriculum uses the principles/characteristics that it adopts CLT with Discourse Approach (Celce-Murcia, Dornyei, and Thurrell, 1995). This approach puts discourse competence as the ultimate goal, which is supported by socio-cultural competence, linguistic competence, actional competence, and supported by strategic competence. Consequently, the target of English competence of secondary school students in Indonesia is an ability to produce various interpersonal, transactional, and functional text types (genres), such  narration, description, procedure, report, recount, news item, exposition, explanation, discussion, review, anecdote, and spoof.

Besides English is considered as a means for self development, obtaining knowledge, and global communication, the teaching procedure takes three-phase technique, namely, pre-activities, main activities, and post activities and all the materials in the standard of contents (SK-KD) should be taught. They include interpersonal, transactional, and functional text types. The teaching materials should also be from various subject-matters, and cover local, national, regional, and international areas.

Another principles are that the teaching focus should be on the skills of: Listening, Speaking, Reading, and Writing. The teaching approach should be contextualized to real-life of students; students are required to find other examples from their surrounding, in addition to the examples provided by the teacher/textbook.

There should be a guide for constructing texts, i.e. in determining the social function, text/meaning structure, and linguistic features of the texts. The teaching-learning target is students’ ability to produce oral and written texts and there should be interactive activities between teacher and student, among students.

While teaching-learning activities include face-to-face, structured exercises, and independent activities, activities should develop life skills: personal, social, academic, and vocational skills. Activities should aim at: (a) developing positive attitudes to diversity (kebhinekaan), and (b) respecting and appreciating local, national, regional, and international cultural values and they should focus on students and develop their initiative, creativity, critical thinking, and independent learning.

The Department of National Education has launched 4 standards for TEFL in Indonesia, namely: Standard of Contents, Standard of Outcomes, Standard of Learning Process, and Standard of Assessment. These are the minimum standards to be achieved.

REFERENCES

Fachurrazy. 2010. Teaching English as Foreign Language for Teachers in Indonesia. The State University of Malang.

Newton, A. Covell. 1984. Current Trends in Language Teaching. A TEFL Anthology.

Selected Articles from The English Teaching Forum. English Language

Program Division Educational and Culture Affairs. US Information Agency. Washington D.C. 20547.

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Students are assigned to four-member learning teams that are mixed in performance level, gender, and ethnicity. The teacher presents a lesson, and then students work within teams to make sure all team members have mastered the lesson. Then, all students individual quizzes on the material, at which time they may not help one another. Students’ quiz scores are compared to their own past averages, and points are awarded to team based on the degree to which students meet or exceed their own earlier performances. These points are then added to form team scores, and teams that meet certain criteria may earn certificates or other rewards.

[2] Groups are formed according to common interest in a topic. Students plan research (formulating research question, collecting data, writing report), divide learning assignments among members, synthesize/summarize findings, and present the findings to the entire class.

[3] Students are assigned to six-member teams to work on academic material that has been divided into sections. Each member reads a section; then members of different teams meet to become experts. Students return to groups and teach other members about their ions. Students must listen to their team-mates to learn other sections.

[4] Students work in four-/five-member teams as in STAD. Rather than being assigned specific parts, students read a common narrative (e.g. a chapter). Students also receive a topic on which to become an expert. Learners with the same topics meet together as in Jigsaw, and then they teach the material to their original group. Students take individual quizzes.

[5] Students are given a task (e.g. how to solve a traffic jam) and work individually. Then, students form pairs, and discuss their ideas. After that, each pair shares the results of their discussion with the whole class. In practice, a teacher may modify a model, combine two or more models, or even e his/her own cooperative learning model.

Trend of International School

Internasional

The presence of International Shools (SBI) proves a response of the public awareness toward the importance of quality schools. Malaysia, Philippina, Brunei, and Singapore have long had an international-standard school. In Indonesia, international schools, especially for elementary schools, newly developed in 2007. If Indonesia could not immediately develop an international standard school, some feared that the budget will be exhausted because many Indonesian citizens who continue their education abroad.

Of the various data collected by the Ministry of National Education, monthly averages of Indonesian students abroad receive a thousand dollar shipment. In fact, the number of Indonesian students reached more than a thousand people. It means that every month one million dollars or more than 10 billion rupiah, flowing out of the country.

Fortunately, the existence of an international school (SBI), which is now increasingly prevalent, becomes response evidence of public awareness of the importance of quality schools. The aim is to prepare future generations of morality, intelligent, independent, creative, innovative, and democratic. This is consistent with the acceleration of social change as part of global era engineering.

Righteously, that phenomenon should be an asset to do the best for performance in empowering the SBI, so that later will contribute to the progress of the nation. This requires an optimistic attitude and high sense of responsibility because the school is an institution with most complexes among the existing social institutions. Complexity is not only from the various entrances (intake), but in the process of learning that took place in it. According to what it is stated in Law No. 20/2003 on National Education System (Education System) of article 50 paragraph 3 states that the government or local government must hold at least one unit of education at all levels of education to be developed into an international educational unit.

Indonesia’s education system as stipulated in Law No. 20 Year in 2003 (with all its derivatives), is a legitimate national instrument for building quality education. To be a vital component to creating a quality community, according to destination countries, namely the intellectual life of the nation. As reported by the UNDP, Human Development Index in 2009 Indonesia was ranked 111th among 184 countries studied. The level of development of Indonesian society became the main focus in order to achieve this national aspiration. Of course, education is a primary component and instrument of social to make Indonesian superior and more civilized. Dynamics of Indonesian education is indeed an intricate narrative, always looking for alternative formats of national education, appropriate and affordable by the people of Indonesia, but still relevant to global development. In translating the format or alternative forms of education, current education, especially primary and secondary level is festived by the term SBI or International Level. New term SBI or RSBI (International Standard School) is sounding familiar to students, parents, students, academics, education analysts, and even to teachers and principals. For each unit of education (primary and secondary) in Indonesia now is to compete openly with other schools, to become International School (SBI).

The note that the legal standing or legal basis of established SBI Education is Law No. 20 Year 2003 earlier. Particularly Article 50 paragraph 3, ie, government and or local government held at least one unit of education at all levels of education to be developed into an international educational unit. This regulation, then gives way to regulations under the Regulation of the Minister of National Education (Permendiknas) No. 78 Year 2009 on the implementation of the International School at level of Elementary and Secondary Education. This Permendiknas organizes and explains in detail about the SBI. Then how the public perception is now brought into this new term, in order to remain able to understand in a holistic manner, of course people should know the definition of SBI. Article 1 paragraph 8 Permendiknas No. 78 Year 2009 stated that the International School of SBI hereinafter abbreviated is school which meets all the National Education Standards (SNP), which is enriched with a certain quality advantages derived from OECD countries member or other developed countries. This is necessary because in the middle of the community expressed the hope that school quality but affordable (up to remote areas), cheaper and even free school discourse only merely lip of government. SBI is then mocked to “School of International Fare,” because “reportedly” the name of SBI was certainly expensive, if expensive then access to attend the school where only rich people while poor people are prohibited from studying in SBI.

As a new regulation (Permendiknas was established and started in October 2009, then applied) certainly would cause widespread pro and contra. More over, the anecdote that the SBI had become an exclusive school because the payment is expensive, as its name was also “international”. SBI which is set out in regulation of minister has 35 articles, clearly has set associated things with SBI. Pursuant to Article 1 Paragraph 8, it still becoming reference standards / guidelines for the application of SBI is the SNP set out in Regulation No. 19 Year 2005 on National Education Standards. There are 8 (eight) national standards of education are summarized in. The eight standards to guide the principal must be fulfilled in the organization of education. Starting from the standard of content, processes, competence of graduates, facilities and infrastructure, educators and educational staff, management, financing and educational assessment. Especially for the SBI, the eight primary standards are then supplemented with the standards of quality excellence comes from countries in the world, who are members of Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Standard reference of SBI becomes more global (as the OECD) and the area of education when it is combined with the developed countries. In note, that the OECD is an international organization whose goal helped the government of its member countries to face the challenges of economic globalization. Well here it is clear that the emergence of the term “international” in SBI is one of them because the OECD.

In general, according to the SNP, there was nothing “weird” or wrong with the SBI implementation plan in Indonesia. But some important points from this SBI is the first that must be observed, the SBI management philosophy itself. What is the philosophy of government in making the national regulations to carry out this program? It is in the midst of an ever-changing global order, which is now a global village, the idea of globalization became the scourge of world population growth and development. Globalisation as a product of capitalism can be a magnet for attracting the countries in the world to its knees to him now. All dimensions of human life (not just education) are affected by globalization. Certainly the consequences of changes (due to globalization), this is what surely must be considered together, especially in Indonesia. Education for all that becomes the motto and even jargon of the political campaigns will not be realized, if the SBI was product of “failure” of government in the realization of cheap and quality education. Because in the term of the socio-pedagogical, execution or implementation of SBI should be in accordance with the spirit of the philosophy of education. If philosophy is to “internationalize”, it is clear that educational quality parameters seen as an sich-economic formalistic. Why is it said so? For the essence of the spirit of education has become more vivid and meaningful at the time he was friendly and touched all classes, or social strata. Friendly educational toward psychology students is to blend with the economic capacity of communities and of course an educational format that is not oriented to the results only, but rather on the process. It seem like the SBI policy is only an alibi form of state administrators, rather than improving the quality of national education (because of the international label), but forgot the principles of justice education that became the main thoughts of each policy.

Second is the empirical format of the implementation of SBI. Does the government have to think and analyze integratedly and comprehensively toward the implications of SBI in society later. No doubt, It takes an integrated policy analysis and honest for the government, for subsequent social mapping of these regulations. For instance, at this time although there is school that has become SBI, the community has predicted if the SBI is only for the rich, not for the people of Indonesia. Then it appears the term has now notoriously popular, that is “caste in school.” And it already occurred in Indonesian schools. Certainly, SBI means and even recognized internationally as an expensive, established especially for the rich, but there is also a regular school (all of which are mediocre), although somewhat expensive (because it remains to be paid) but can be accessed by the public. Next is the implementation of standards that apply semester credit system (SKS). Readiness of students with a curriculum and new methods should be considered together. Need to be re-examined how the psychological impact for the students. Although the goal is to make students both more independent, but still, if a policy without a preceded by a risk analysis then it is equal to sail without knowing the weather at sea.

That is also listed in the standard implementation of the OECD, an international organization that helps its members in the face of economic globalization. Countries such as USA, Canada, Japan, Australia, Germany, South Korea entered as a member that Indonesian also need to know and get clear information, especially from the government regarding the OECD. Why the OECD is chosen as a reference in education (SBI), what components became the parameters in the model description of the quality of education in OECD countries. This is an important component to be explained in a transparent manner by the Ministry of Education. Society worry lies in the readiness of public concerning both structurally (government, policy, funding, formats, etc.) and cultural (an analysis of socio-pedagogical, psychological, educational equity, etc.) by the government as shareholder control. It’s pity to say that it is like wearing too loose tank top, certainly did not fit and match the body. Likewise SBI, firstly, government review of education quality and equality in our country at every level of education on how mapping the distribution of teachers, access to information, media education, infrastructure and facilities including regional capability. International labels are not determinative of the quality parameters of national education. If the automatic international labels distributed education fairly and proportionately to the remote areas, of all the people agree with that. But if the addition of international labels will only become a “global consciousness”, without understanding the national education faces the same as re-education push the water into the soil hole deeper and darker.

Few points above are seen in the rules of in this article. Among them is about standardization or the competence of educators (teachers). SDBI level must have at least 10% of the total teachers in the educated SDBI S2/S3. SMPBI level must have at least 20% of the total teachers in such an educated SMPBI S2/S3, whereas SMABI at least 30% of teachers who educated S2/S3. The question now is the fact of how in any such educational unit. It is an objective reality to see together, if one school in what the number of teachers who educated S2/S3. Not only for the S2/S3, up to now the government is still completing a homework assignment to fulfill the Law of Teachers and Lecturers, especially the fulfillment of academic qualification (S1) and teacher certification programs. Professionalism of educators (teachers) in the context of SBI will be the price of death for an internationally standardized. A teacher at the SBI should be able to speak English or another foreign language, because in a classroom learning to use the language of instruction in English. Then move to the standards of financing, in Article 13 Permendiknas was mentioned that the government, local governments and communities are obliged to finance the implementation of SBI (paragraph 2). But in the next chapter mentioned SBI may pick up the cost of education for the shortfall, the cost of financing standards based on the School Development Plan. It is then that is a concern if later SBI will be school only for those rich since the cost of education in an SBI is more expensive than a regular school (independent category). Why expensive? Because SBI (state / private sector) can charge fees if they feel the cost of government / less-managed. With no doubt, the victim is society. This opportunity will then be utilized to capitalize the national education,

Now, it can be said that SBI is trend vis a vis justice and equitable education for all Indonesian people. The implementation of SBI later will be faced the reality of society, who (of course) compete to send their children to the SBI because of consideration that it has international standard, equipped educators, facilities and infrastructure and quality of internationally acclaimed, including implementing quality management system ISO 9001 and ISO 14000. But at that moment, it is again the society confronte with “unfriendly face” of SBI which takes side to the rich only, not impartial to the poor. The main task for policy makers is to find the new format. The substance is not paradoxical to the philosophy of education itself. Public perception on the “fare” not becomes an international reality, but a separate stimulus for the government to consider and evaluate every policy made. Of course with the noble goal of education distribution, with open access to education for all Indonesian people fairly and with dignity.

This article is translated from what Republika reported (Desember 17, 2008) along with what Satriwan[1] wrote in Kompas (April 5, 2010).

[1] Satriwan adalah Guru SMA Labschool Jakarta dan Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) UNJ.


[1] Satriwan is a teacher of SMA Labschool Jakarta, active in  Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) at State University of Jakarta (UNJ).

Muslim: Otentisitas v Modernitas

Identity

Secara leksikal, seantagonis apapun asumsi yang menyatakan bahwa Islam dan Muslim merupakan sumber persoalan karena ketidakmampuan mereka dalam melakukan adaptasi sosiologis dan kultural dengan realitas masyarakat Barat yang kristiani, sekuler, dan sedikit-banyak supremasis, itu perlu diyakini tanpa musti dibuktikan, sebab asumsi bukanlah anggapan atau jawaban sementara (hypothesis) yang masih perlu diuji kebenarannya.

Benar tidaknya ketidakmampuan umat Islam dalam melakukan adaptasi dengan dunia luar, sebenarnya dengan sangat mudah dapat diketahui dari bagaimana kecenderungan mereka dalam memposisikan diri, sebagai Muslim yang inklusif atau eksklusif. Sebab dengan memilih menjadi inklusif berarti dengan sendirinya umat Islam mampu menepis keraguan Barat akan ketidakmampuan mereka dalam berinteraksi dengan dunia luar. Sebaliknya, menjadi eksklusif berarti umat Islam merelakan diri untuk mendapatkan stigmatisasi sebagai Muslim yang mengisolir diri dan gagal dalam berasimilasi. Dalam ekslusivitas, Islam masih diperlakukan sebagai keyakinan dalam format lamanya meski zaman dan tempat telah berubah. Kebanyakan umat Islam kurang bisa mengerti. Mereka meyakini bahwa kandungan nilai-nilai Islam yang terangkum dalam ajaran-ajaranya musti dilindungi dengan tujuan agar tidak terkontaminasi.

Pertanyaan yang dapat dimunculkan terkait dengan sikap kehati-hatian umat Islam tersebut adalah bagaimana jika asumsi itu dibalik, bahwa Kristen dan Baratlah yang menjadi sumber persoalan karena ketidakmampuan mereka dalam melakukan adaptasi sosiologis dan kultural dengan realitas masyarakat pendatang yang islami dan cenderung inferior tapi menganggap diri rendah hati; low profile (tawadhu’). Konsekuensi logis dari pembalikan asumsi ini adalah adanya keyakinan sebaliknya bahwa Islam dan Timur itu egois, prejudis, dan takut terhadap dominasi dan hegemoni Barat dalam mengkukuhkan kekuasaan politik ekonominya melalui upaya westernisasi dengan agenda liberalisasi dan sekulerisasi yang dianggap dan bahkan diyakini berpotensi menggeser akidah Islam yang telah diyakini selama hampir 15 abad.

Kebenaran asumsi awal bahwa memang umat Islam tidak mampu beradaptasi atau mengadaptasikan Islam pada realitas sosial patut dicermati dengan cara mengenali faktor internal yang berperan dalam memuluskan kegagalan itu sendiri, yaitu ketidakberdayaan umat Islam di Barat dalam mengentaskan diri dari ketakutan terhadap interferensi negatif Barat sebagai buah dari asimilasi. Pemahaman umat Islam masih berkutat pada bagaimana menjadikan Islam sebagai filter atau perisai diri dan belum beranjak dari rigidnya pemahaman terhadap Islam itu sendiri. Fakta inilah yang mengantarkan umat Islam pada kekalahan dalam persinggungan sejarah peradaban.

Sebaliknya, dibalik keberhasilannya dalam mereduksi rasa takut terhadap kemungkinan kebangkitan Islam di Barat yang dianggap berpotensi menggeser political and economic powers yang telah diraihnya selama kurang lebih 200-an tahun, sebenarnya Barat telah memproklamasikan post power syndrome-nya.

Dari paparan diatas, diketahui dengan jelas bahwa dua kutub persepsi yang berseberangan akan terus mengalami kesulitan melakukan integrasi budaya, paham dan ideologi. Menguatnya corak Islam yang ideologis dan puritan cukup mengkhawatirkan. Diperlukan upaya kejelasan identitas bahwa Islam bukan Arab agar umat Islam mampu menyesuaikan Islam dengan kultur Barat. Nostalgia kemenangan Islam di Spanyol perlu direnungi sebagai kekalahan, terbukti dengan tidak diketemukannya sisa-sisa peninggalan kejayaan Islam di sana.

Ada beberapa teori yang telah membahas fundamentalisme yang muncul di dunia Islam. Yang paling banyak dikutip adalah kegagalan umat Islam menghadapi arus modernitas yang dinilai telah sangat menyudutkan Islam. Karena ketidakberdayaan menghadapi arus panas itu, golongan fundamentalis mencari dalil-dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar. Jika sekadar “menghibur,” barangkali tidak akan menimbulkan banyak masalah. Tetapi sekali mereka menyusun kekuatan politik untuk melawan modernitas melalui berbagai cara, maka benturan dengan golongan Muslim yang tidak setuju dengan cara-cara mereka tidak dapat dihindari. Ini tidak berarti bahwa umat Islam yang menentang cara-cara mereka itu telah larut dalam modernitas. Golongan penentang ini tidak kurang kritikalnya menghadapi arus modern ini, tetapi cara yang ditempuh dikawal oleh kekuatan nalar dan pertimbangan yang jernih, sekali pun tidak selalu berhasil.

Teori lain mengatakan bahwa membesarnya fundamentalisme lebih didorong oleh rasa kesetiakawanan terhadap nasib yang menimpa umat Islam di Palestina, Khasmir, Irak dan Afganistan. Teori lain juga mengatakan bahwa maraknya fundamentalisme lebih disebabkan oleh kegagalan negara mewujudkan keadilan sosial dan terciptanya kesejahteraan yang merata.

Dari ketiga teori ini, nampak fundamentalisme dalam Islam maupun Barat Kristen baik secara praksis maupun teoritis menjadi penghambat terbesar terciptanya dunia yang lebih egaliter dimana Islam menjadi penyeimbang Barat dalam menghadapi rusaknya arus modernitas dan sebalikya Barat mampu menjadikan Islam sebagai penyeiring perjalanan modernitas yang ia ciptakan.

Jadi, tanpa harus menuduh Barat sebagai “biang kerok” dari terjatuhnya peradaban Islam-meskipun dalam beberapa segi bisa dibenarkan-upaya kritik diri lebih patut untuk dipertimbangkan. Sebagai contoh adalah keheranan pernyataan yang dibuat oleh Jamaluddin al-Afgani bahwa ia mendapati Islam di Barat dan bukan di Timur. Argumentasi Iqbal pun membenarkannya, bahwa Barat telah berhasil membangun ‘dunia’, tetapi gagal membangun ‘akhirat’ sedangkan Islam berhasil membangun ‘akhirat’ tetapi gagal membangun ‘dunia’.

Dengan demikian, otentisitas dan modernitas menjadi kata kunci permasalahan. Pada satu sisi umat Islam ingin menjadi modern, tetapi pada saat yang sama, mereka takut kehilangan identitas keislaman mereka. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi umat Islam. Dirasa perlu untuk mampu menjawab pertanyaan bagaimana bisa umat Islam menjadi modern tanpa Barat, mengingat modernitas adalah produk peradaban Barat.

Dengan jaminan bahwa modernisme, sekularisme dan materialisme yang berkembang baik di Barat tidak akan mengikis “tradisi suci” umat Islam, saya fikir pemahaman ulang terhadap paham-paham tersebut sekaligus memahami penyebab trauma Barat akan berdampak pada terkuranginya sikap defensif umat Islam terhadap Barat. Dari sini umat Islam akan mengenali kelemahannya sekaligus mengetahui faktor kemunduran yang bemula dari sikap menolak apapun yang berbau Barat, terutama produk-produk pemikirannya.

Pendeknya, meski tidak mudah, mewujudkan keharmonisan berarti menyelaraskan kesenjangan peradaban dengan cara membuang jauh ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Hal terpenting adalah bagaimana kita menjaga otentisitas keislaman dengan tanpa musti menghindari arus modernitas. Hal ini cukup menjelaskan posisi netral dan bahkan universal umat Islam yang sebenarnya (live in between): la syarqiyyah wa la gharbiyyah, mengingat Timur dan Barat hanya milik Allah semata.

When Love and Hate Collide

Sepertinya, kata yang tepat untuk mewakili gambaran hubungan antara Islam dengan Barat adalah love and hate. Dan analogi tepatnya adalah sebagaimana persisnya hubungan Indonesia-Malaysia. Serumpun tapi tidak sama. Sama-sama pernah bersinggungan dan merasakan pahitnya torehan fakta sejarah yang membuahkan kebencian tiada tara (stronger than hatred) di antara keduanya. Korelasinya adalah kecintaan yang teramat sangat di masing-masing pihak, berbentuk narcissism malignant dalam keagamaan (ghulūw) dan chauvinism dalam berkebangsaan (hubbu al-wathan).

Pendek kata, Timur dan Barat: Islam dan Barat nampaknya sudah terlanjur diibaratkan bagaikan air dan minyak; sama-sama cair tapi beda simbol kimianya. Keduanya tidak bisa dipertemukan walau dalam wadah yang sama. Ekspansi Islam ibarat air bah, yang pada akhirnya surut juga. Sedangkan potensi dan supremasi Barat semisal minyak, bernilai politis-ekonomis tentunya. Sama halnya dengan air, pada akhirnya sumber minyak akan kering juga. Inilah hukum alam (natural law) dimana Tuhan membahasakannya sebagai sunnatullah dan sejarahwan secara fatal (jabariyah) menamainya sebagai ‘takdir sejarah’.

Permasalahannya, takdir tidak serta merta mutlak berada di tangan Tuhan. Pada dasarnya, Islam-Barat pun dilibatkan dalam penentuan takdirnya. Artinya, polemik hubungan antara keduanya bukanlah takdir semata yang harus diamini dengan kepasrahan. Terlebih, dunia adalah alam kodrat, dimana segala sesuatu mungkin berpeluang terjadi. Peluang itu adalah celah yang memungkinkan untuk bisa diisi dan dilakukan bersama-sama.

Sampai disini, saya menjadi pesimis terhadap fakta adanya upaya mempertemukan Islam dengan Barat, lebih-lebih kerjasama antara keduanya. Tidak sebagaimana yang telah sejarah paparkan, yaitu banyaknya upaya bijak dan signifikansinya dalam rangka mempertemukan Islam-Kristen. Kepesimisan saya bukannya tidak beralasan. Mengingat tidak hanya faktor kecerdasan dalam memahami alur dan fakta sejarah, tapi juga kedewasaan dalam menyikapi perbedaan yang terbungkus dalam keberagaman.

Meskipun ada, tapi itu tidak saya jumpai di kebanyakan umat Islam. Sebagaian besar kita, dapat dikatakan tidak paham sejarah (ahistoris) ditambah tidak dewasa dalam beragama, baik dalam pemikiran, penyikapan maupun memprilakukan keagamaan. Trend yang ada hanyalah kecenderungan untuk mengedepankan nostalgia kemenangan masa lalu. Bagi saya, ini adalah indikator keterbelakangan dimana rasa suka yang berlebihan terhadap kemenangan masa lalu tanpa disadari telah menyeret tidak sedikit umat Islam ke dalam kubangan ‘penderitaan manis’ masa silam (sweet misery). Pastinya, yang demikian ini bakal menjadi kendala besar dalam mentransformasikan kepahitan masa lalu (past perfect continuous pain) menjadi sebuah optimisme di masa yang akan datang.

Keoptimisan saya justru berada pada Barat. Masa lalunya sudah tergambarkan dan terprediksikan dalam al-Qur’an sebagai kemenangan yang gemilang di masa depan (lihat, al-Rūm:2-3). Barat, terlepas dari campur tangan Tuhan mampu menjadi pemenang. Mentalitas pemenang inilah yang menjadi acuan keoptimisan saya jika saja Barat mau menjadi pionir dalam menciptakan dunia yang lebih egaliter. Faktanya, banyak hal yang menunjukkan semestinya itu berada dan terjadi di dunia Islam, seperti budaya antri, kebiasaan tertib dan tepat waktu, terjaganya kebersihan, etika kesusilaan, pemanusiaan, rasa nyaman dari adanya keamanan, dan ekonomi ketuhanan. Untuk urusan ini, perlu diakui umat Islam gagal mewujudkan. Dan nyatanya, Baratlah yang memulai meski Islam lebih dahulu menyajikannya dalam bentuk ajaran.

Menjadi pertanyaannya adalah, apakah ajaran diciptakan untuk diyakini atau diaplikasikan. Intermeso kaitannya dengan ini adalah pada praktiknya umat Islam lebih suka mengatakan bahwa aturan diciptakan untuk ditinggalkan. Pendek kata, sebagian umat Islam adalah pecundang.

Seperti dalam konflik tak bertepi; Barat-Islam, sebagian umat Islam tidak pernah mau berusaha untuk jujur, untuk tidak mengatakan bahwa konflik yang berkepanjangan ini terjadi lebih dikarenakan adanya motif kepentingan agama. Apa perlunya agama melibatkan diri dengan memaksakan kepentingannya. Motif ini jelas tidak mempunyai relevansi dengan kalimah li i’lai kalimatillah. Sayangnya, sampai kini studi korelasi belum pernah dilakukan untuk menemukan hubungan motif kepentingan agama dengan slogan li i’lai kalimatillah. Saya fikir, dalam hal ini kritik pedas Hasan Hanafi terhadap kebanyakan umat Islam mendapatkan pembenarannya bahwa umat Islam selalu mementingkan dan mengedepankan hak-hak Tuhan dengan cara melalaikan atau mengesampingkan hak-haknya sendiri. Dalam bahasa sederhananya mendiang Gus Dur, memang benar Tuhan tak perlu dibela.

Dengan kata lain, sebenarnya motif kepentingan agama hanya dijadikan kedok belaka, untuk menutupi kefanatikan etnik (racialism), perasaan bangga berlebihan terhadap superioritas bangsa (the pride of being Arabian), dan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan serta kursi kekuasaan (political and economy powers).

Tidak seperti kebanyakan umat Islam, Barat lebih jujur menyuarakan kepentingan mereka yang dapat dibilang lebih suka mengesampingkan peran agama, mengingat Barat sendiri pernah mengalami trauma tidak hanya dengan gereja tetapi juga dengan teks-teks yang termaktub dalam kitab suci mereka.

Love not Dead

“A word is dead when it is said, some say.

I say it just begins to live that day.”

(Emily Dickinson, 1830–1886)

Some say a word is dead when it is said. Unlike that saying, Emily Dickinson (1955) seems to revise ‘her own dead word’ through the belief of poetic saying that is to live that day with or without word. Perhaps, love is a reason to live. Love is more than a word. It is a word which is better to do rather to say. In other words, I can say that it is great to live with or without love.

Some words in the English language tend to be overused and therefore lose their power.  These are called Dead Words such as the word also. Also is dead when it is overused to say or to write. More interesting alternatives that should be used in its place are too, moreover, besides, as well as, and in addition to instead. The question might rise up is the word love dead word?

The same destiny may occur on the word love. The assumption that overused word will reduce its power and finally lose it. Due to its frequent use, even a scared word like love may face the bitter fate. Love will eat its self, nothing left.

Lexically, Oxford Illustrated American Dictionary (1998) and Merriam-Webster Collegiate Dictionary (2000) define that love is any of a number of emotions related to a sense of strong affection and attachment. The word love can refer to a variety of different feelings, states, and attitudes, ranging from generic pleasure (“I loved that meal”) to intense interpersonal attraction (“I love my husband”). This diversity of uses and meanings, combined with the complexity of the feelings involved, makes love unusually difficult to consistently define, even compared to other emotional states.

The English word “love” can have a variety of related but distinct meanings in different contexts. Often, other languages use multiple words to express some of the different concepts that English relies mainly on “love” to encapsulate; one example is the plurality of Greek words for “love.” Cultural differences in conceptualizing love thus make it doubly difficult to establish any universal definition (Paul Kay, 1984: New Series 86 (1): 65–79).

Greek’s cultural view distinguishes several different senses in which the word “love” is used. For example, Ancient Greek has the words philia, eros, agape, storge, and xenia. However, with Greek (as with many other languages), it has been historically difficult to separate the meanings of these words totally. At the same time, the Ancient Greek text of the Bible has examples of the verb agapo having the same meaning as phileo.

In addition, the Latin language (Ancient Roman) has several different verbs corresponding to the English word “love.” Amāre is the basic word for to love, as it still is in Italian today. The Romans used it both in an affectionate sense as well as in a romantic or sexual sense. From this verb come amans—a lover, amator, “professional lover,” often with the accessory notion of lechery—and amica, “girlfriend” in the English sense, often as well being applied euphemistically to a prostitute. The corresponding noun is amor (the significance of this term for the Romans is well illustrated in the fact, that the name of the City, Rome—in Latin: Roma—can be viewed as an anagram for amor, which was used as the secret name of the City in wide circles in ancient times), which is also used in the plural form to indicate love affairs or sexual adventures. (Thomas Köves-Zulauf, Reden und Schweigen, 1972)

Whilst, Paul Oskar Kristeller, (1980) in Renaissance Thought and the Arts: Collected Essays asserts that as an abstract concept, love usually refers to a deep, ineffable feeling of tenderly caring for another person. Even this limited conception of love, however, encompasses a wealth of different feelings, from the passionate desire and intimacy of romantic love to the nonsexual emotional closeness of familial and platonic love to the profound oneness or devotion of religious love (Juan Mascaró, The Bhagavad Gita 2003).

Love in its various forms acts as a major facilitator of interpersonal relationships and, owing to its central psychological importance, is one of the most common themes in the creative art. Such as in a lyric of the song, the word love exists in the form of freedom of expression. One side, love becomes a wild word lives in the wild world. In other side, love is just an alternative word to use. And again, that word will end and rest in peace in the recycle bin.

Joe Tempest, singer of Europe, 80s rock band defines that the word love is no more of the other words to say. He states in the single hit; Prisoner in Paradise that love is just another word to say. Unlike Tempest, Antony kiddies (Red Hot Chili Pepper) believes that love is one of the hottest words ever exists in the world; the hottest word in the world.

Recently, love is a hard thing to find it cannot be reached even in the dating service or short message service; chat n ‘date. In contrast of a flamboyant rock star, who likes to spit words of love and place it like the other words, sacredly the word love becomes so hot; hotter than hell and being enfolded inaccessible. The easy thing associated with the word love is enough to acclaim.

As if it is associated with Qur’ban day, definitively, that emerges a definitive clarification of the word love is synonymous for sacrifice, the love is sacrifice, which is usually a minimum initial phases of hurt feeling as Abraham sacrifices his feelings to sacrifice his own beloved son; love is sacrifice, or to love is to sacrifice. The keyword for gaining the love is willingness to commit to kill a sense. Ironically, Rhoma Irama objects how it can happen while he agrees on what Nazareth reveals; Love hurt. For that reason, it is better to save love just in a word not in the real world. Sage advice of guitarist Brian May (Queen) confirms that too much love will kill you.

Along the way, in the conditions of present text, love has found its foreign formations. Along with the development and the changing times, love has entered the gates of the heart mix with almost no sense. There are circumstances that force people to learn to love; learn how to love and forget how to hate, so if you fall in love for the umpteenth time, there is no love song to play but love to make with no taste. Bin Hard, love observer in one of his essays asserts that there is no involvement of emotional feeling in the era of the numbers when love is measured in digital boundaries.

Currently, the level of love does not need to be clarified with the question; How your deepest love? (Beatless). Question will only bother the romance. Certainly, that hinders the love travel and marriage. Love does not have to be clearly expressed; There is a hole in my heart that can only be filled by you (Gary Cherone, Extreme: Love Song, 1991) or You always have a place within my heart (Mike Tramp, White Lion: Till Death Do Us Apart, 1989).

In my point of view, today love is to be a regular thing. Love is not as bombastic as Qais al- Qorni or laila Majnun’s love. Unlike Zuleika’s spectacular love to Joseph,  love is the practically simple thing in the end. Finally, love does not need strangely juxtaposed with Rabiah al-Adawiyah’s love. For Rudi Sujarwo, love is an inspiring for title of his film Ada Apa dengan Cinta and for a mama, love is her daughter called Laura.

Those are the end of love in the term of real love world. Simply, the death of love may because of the absolute value loss. Betrand Russell describes love as a condition of absolute value as opposed to relative value. As if it is overused and abused, perhaps love is one step closer to its grave. Yet, as a word love is love that cannot be replaced or substituted by interesting alternatives that should be used in its place.

In short, the fact shows that the death of love wordily never appears. Love is not dead but Cupid is dead.