Category: unbelieveable

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The new Boeing 787 Dreamliner can carry about 250 passengers. This blog was viewed about 1,700 times in 2012. If it were a Dreamliner, it would take about 7 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

When Love and Hate Collide

Sepertinya, kata yang tepat untuk mewakili gambaran hubungan antara Islam dengan Barat adalah love and hate. Dan analogi tepatnya adalah sebagaimana persisnya hubungan Indonesia-Malaysia. Serumpun tapi tidak sama. Sama-sama pernah bersinggungan dan merasakan pahitnya torehan fakta sejarah yang membuahkan kebencian tiada tara (stronger than hatred) di antara keduanya. Korelasinya adalah kecintaan yang teramat sangat di masing-masing pihak, berbentuk narcissism malignant dalam keagamaan (ghulūw) dan chauvinism dalam berkebangsaan (hubbu al-wathan).

Pendek kata, Timur dan Barat: Islam dan Barat nampaknya sudah terlanjur diibaratkan bagaikan air dan minyak; sama-sama cair tapi beda simbol kimianya. Keduanya tidak bisa dipertemukan walau dalam wadah yang sama. Ekspansi Islam ibarat air bah, yang pada akhirnya surut juga. Sedangkan potensi dan supremasi Barat semisal minyak, bernilai politis-ekonomis tentunya. Sama halnya dengan air, pada akhirnya sumber minyak akan kering juga. Inilah hukum alam (natural law) dimana Tuhan membahasakannya sebagai sunnatullah dan sejarahwan secara fatal (jabariyah) menamainya sebagai ‘takdir sejarah’.

Permasalahannya, takdir tidak serta merta mutlak berada di tangan Tuhan. Pada dasarnya, Islam-Barat pun dilibatkan dalam penentuan takdirnya. Artinya, polemik hubungan antara keduanya bukanlah takdir semata yang harus diamini dengan kepasrahan. Terlebih, dunia adalah alam kodrat, dimana segala sesuatu mungkin berpeluang terjadi. Peluang itu adalah celah yang memungkinkan untuk bisa diisi dan dilakukan bersama-sama.

Sampai disini, saya menjadi pesimis terhadap fakta adanya upaya mempertemukan Islam dengan Barat, lebih-lebih kerjasama antara keduanya. Tidak sebagaimana yang telah sejarah paparkan, yaitu banyaknya upaya bijak dan signifikansinya dalam rangka mempertemukan Islam-Kristen. Kepesimisan saya bukannya tidak beralasan. Mengingat tidak hanya faktor kecerdasan dalam memahami alur dan fakta sejarah, tapi juga kedewasaan dalam menyikapi perbedaan yang terbungkus dalam keberagaman.

Meskipun ada, tapi itu tidak saya jumpai di kebanyakan umat Islam. Sebagaian besar kita, dapat dikatakan tidak paham sejarah (ahistoris) ditambah tidak dewasa dalam beragama, baik dalam pemikiran, penyikapan maupun memprilakukan keagamaan. Trend yang ada hanyalah kecenderungan untuk mengedepankan nostalgia kemenangan masa lalu. Bagi saya, ini adalah indikator keterbelakangan dimana rasa suka yang berlebihan terhadap kemenangan masa lalu tanpa disadari telah menyeret tidak sedikit umat Islam ke dalam kubangan ‘penderitaan manis’ masa silam (sweet misery). Pastinya, yang demikian ini bakal menjadi kendala besar dalam mentransformasikan kepahitan masa lalu (past perfect continuous pain) menjadi sebuah optimisme di masa yang akan datang.

Keoptimisan saya justru berada pada Barat. Masa lalunya sudah tergambarkan dan terprediksikan dalam al-Qur’an sebagai kemenangan yang gemilang di masa depan (lihat, al-Rūm:2-3). Barat, terlepas dari campur tangan Tuhan mampu menjadi pemenang. Mentalitas pemenang inilah yang menjadi acuan keoptimisan saya jika saja Barat mau menjadi pionir dalam menciptakan dunia yang lebih egaliter. Faktanya, banyak hal yang menunjukkan semestinya itu berada dan terjadi di dunia Islam, seperti budaya antri, kebiasaan tertib dan tepat waktu, terjaganya kebersihan, etika kesusilaan, pemanusiaan, rasa nyaman dari adanya keamanan, dan ekonomi ketuhanan. Untuk urusan ini, perlu diakui umat Islam gagal mewujudkan. Dan nyatanya, Baratlah yang memulai meski Islam lebih dahulu menyajikannya dalam bentuk ajaran.

Menjadi pertanyaannya adalah, apakah ajaran diciptakan untuk diyakini atau diaplikasikan. Intermeso kaitannya dengan ini adalah pada praktiknya umat Islam lebih suka mengatakan bahwa aturan diciptakan untuk ditinggalkan. Pendek kata, sebagian umat Islam adalah pecundang.

Seperti dalam konflik tak bertepi; Barat-Islam, sebagian umat Islam tidak pernah mau berusaha untuk jujur, untuk tidak mengatakan bahwa konflik yang berkepanjangan ini terjadi lebih dikarenakan adanya motif kepentingan agama. Apa perlunya agama melibatkan diri dengan memaksakan kepentingannya. Motif ini jelas tidak mempunyai relevansi dengan kalimah li i’lai kalimatillah. Sayangnya, sampai kini studi korelasi belum pernah dilakukan untuk menemukan hubungan motif kepentingan agama dengan slogan li i’lai kalimatillah. Saya fikir, dalam hal ini kritik pedas Hasan Hanafi terhadap kebanyakan umat Islam mendapatkan pembenarannya bahwa umat Islam selalu mementingkan dan mengedepankan hak-hak Tuhan dengan cara melalaikan atau mengesampingkan hak-haknya sendiri. Dalam bahasa sederhananya mendiang Gus Dur, memang benar Tuhan tak perlu dibela.

Dengan kata lain, sebenarnya motif kepentingan agama hanya dijadikan kedok belaka, untuk menutupi kefanatikan etnik (racialism), perasaan bangga berlebihan terhadap superioritas bangsa (the pride of being Arabian), dan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan serta kursi kekuasaan (political and economy powers).

Tidak seperti kebanyakan umat Islam, Barat lebih jujur menyuarakan kepentingan mereka yang dapat dibilang lebih suka mengesampingkan peran agama, mengingat Barat sendiri pernah mengalami trauma tidak hanya dengan gereja tetapi juga dengan teks-teks yang termaktub dalam kitab suci mereka.

Sholat Ied

Disfungsi Masjid di Waktu Sholat Ied

Ketika praktik sholat sudah tidak mengindakan tempat, untuk sesaat fungsi masjid pun tergantikan. Lapangan, tanah kosong, halaman kampus, parkiran pertokoan dan jalan raya seolah menegaskan kullu ardhin masjidun bahwa bumi adalah tempat bersujud, persetan beralaskan terpal, kerdus ataupun koran.

Kemaren, sewaktu pengorbanan dirayakan didahului dengan ritual tahunan: sholat Ied, dimana takbir dikumandangkan sunnahnya di luar ruangan, disitu boleh jadi senandung gema ilahi menjadi tak tersekat atap internit masjid, tak terhalang dinding dan tak terbentur tembok bangunan yang disucikan.

Kondisi demikian seakan memberi pesan mustinya sesekali dalam setahun umat Islam wajib berdemonstrasi, unjuk gigi akan pentingnya kebersamaan, memamerkan prestasi persatuan yang dipandang masih terlalu jauh dari harapan, atau paling tidak reuni tahunan outdor ini menjawab kecemasan Muhammadiyin -bahwa bumi Allah itu luas- untuk tidak perlu khawatir terhadap meningkatnya populasi bani Adam dan menjamurnya industrialisasi yang mempersempit luas tanah, sehingga kekhawatiran dimana sholat Ied akan diadakan terkurangi seiring dengan keyakinan mereka bahwa mengikuti sunnah -dengan menyelenggarakan Ied di tanah lapang- berarti meninggalkan bid’ah.

Prakmatisnya, masjid adalah sebidang tanah komplit dengan bangunan serta fasilitasnya, dimana mestinya imam dan makmum menjadi betah ketika beribadah di dalamnya. Semantisnya, masjid adalah sedepa tanah tempat bersujud dimana umat Islam masih merasa perlu mengalasinya, dan itu bukan cuma sajadah tapi juga koran yang terkadang potret Julia Peres dengan senyuman menggodanya ada disana. Walhasil, sholat yang dirayakan waktu itu luarbiasa! Khatib kepanasan raut mukanya, tidak hanya oleh terik matahari yang mulai menyapa tetapi juga ulah para peserta sholat yang memilih lebih suka menatap dan bahkan membaca koran alas sajadahnya.

Puasa

Tidak ada yang istimewa dalam 3 hari puasa ini. Seperti yang sudah-sudah dikebanyakan kota, puasa telah menjadi bentuk lain sebuah hura-hura. Tidak sesunyi hari nyepi walau cuma sehari. Padahal secara generik puasa itu berarti nyepi. Faktanya, keramaian itu selalu berlangsung lama sampai 30 hari.

Belum lagi keluh-kesah mbok Yem, yang sukses memberi definisi lain tentang puasa; bahwa puasa adalah naiknya harga cabe keriting!. Senada dengan itu, puasa yang menurutku adalah pengiritan ternyata realitas sosial mampu mengubahnya menjadi pemborosan.

Ditambah, lagi-lagi FPI tak mampu mengendalikan diri untuk tidak menjadi Zabaniah dan Malik sang penjaga neraka. Maka lengkap sudah judul puasa ketika ditinjau dari segala aspeknya.

Policonomy

Good News or Bad News?
Dikabarkan seorang kawan, sebut saja Fulan akan segera dilantik bulan Agustus ini menjadi DPRD Malang.
Sambil tertawa dia menjawab pertanyaanku, kerjaannya apa?. Rapat!, setuju dibayar gak setuju juga dibayar, katanya.
Pertanyaan berikutnya yang enggak mungkin kutanyakan adalah apa yang kubingungkan kenapa orang begitu terpesona dengan profesi satu ini. Jika dibandingkan dengan kerjaannya kawan yang lain, yang motret sana motret sini: motret dibayar gak motret pastinya gak bakal dibayar, Fulan telah melakukan kemenangan finansial tapi ketika ketidaksetujuannya tidak berdampak pada tidak dibayarnya dia, ia telah dikalahkan oleh kemenangannya sendiri. And it’s mourning glory!
Plato boleh jadi benar dengan perlunya berpolitik dengan alasan daripada dipolitiki tapi ketika kita tahu bahwa politikus itu adalah teman kita sendiri bisa jadi kita menjadi risih di satu sisi, pada sisi lain kerisihan itu tidak membantu sama sekali dalam mengentaskan permasalahan ekonomi yang besar kemungkinan ia lagi hadapi. Dalam hal ini, Fulan menjadi begitu Marxis. Idealnya, ekonomi cuma pemicu awal. Faktanya, ia punya masalah dengan psikologi. Jadi ini adalah kabar bagus untuk kepul asap dapur sekaligus kabar pilu untuk kejiwaan yang sulit diobati.

Bulan

Bulan

diatas perbatasan Tuban-Lamongan

Sepertinya, perintah kakak iparku untuk membuka jendela merupakan awal tersingkapnya tabir yang menutupi mata malasku. Dengan susah kubuka daun jendela itu, sehingga tanpa sengaja kujatuhkan paku grendelnya. Konsekuensinya adalah untuk mengambil itu grendel aku musti melompati jendela. Walhasil, tidak cuma paku grendel yang kudapati, tapi bentangan luas pemandangan langit pagi hari. Satu yang menggoda di dalamnya adalah bulan purnama yang nampak tepat didepan mata.

Awalnya, biasa saja. Akupun tidak terkesima melihatnya. Tidak seperti Agus Mustafa yang terkesima di sidratul muntaha. Mata awamku mengatakan bahwa bulan sama saja, selalu menampakkan wajah kemayunya.

Tapi tidak di pagi itu, Minggu pagi usai subuh (12 April 2009). Tuhan berbaik hati menampakkan banyak sketsa wajah di kanvas bulan purnama-Nya.

Wajah imam Mahdi, The Last Savior yang ingin kubuktikan sebagaimana yang dilansir di www.theallfaith. com. Wajah imam ke dua belas dari keturunan Nabi yang nampak di bulan virtual sebuah situs spiritual nyaris tak kutemukan (di situs itu, ‘wajah bulan’ imam Mahdi nampak seperti wajah Nicholas Cage dalam Con Air). Alih-alih mengenali wajahnya, yang kudapati malah sketsa wajahku sendiri, wajah seorang mahasiswa sastra tahun 97an.

Ketidakpercayaanku akan apa yang baru kulihat tidak mengurangi nocturnal vision yang bisa melihat dalam cahaya terbatas atau redup. Terlebih, temaram kekuningan bulan pagi itu seperti cahaya lampu baca, memperjelas gambaran sketsa. Upayaku dalam mempertegas kemustahilan dari apa yang terlihat dengan cara mengucek-ucek mata, berpaling, dan melengos tidak menghasilkan apa-apa. Dengan kata lain, mataku untuk kedua kalinya menyaksikan hal yang sama, yaitu sketsa wajah mahasiswa yang masih perjaka. Dengan demikian, keniscayaan akan adanya penampakan bisa ditangkap baik oleh mata yang sehat maupun oleh mata yang katarak. Permasalahannya adalah seberapa malas mata seseorang bekerja, mengirim image ke otak secara utuh, separuh, seperempat atau tidak seper berapapun. Dan pastinya, jawaban sementara berupa hipotesa tidak adanya penampakan itu lebih dikarenakan kebanyakan mata umat Islam menderita amblyopia

Belum sempat tertuntaskan kegamanganku, di bulan itu nampak silih berganti dalam hitungan detik beberapa wajah asing, tak kukenali. Mimik mereka mengekspresikan keadaan yang sama; tenang dalam keterasingan, mempresentasikan wajah para ghurabā’.

Tidak berselang lama, nampak muka beberapa wanita, berkerudung tentunya. Aku berharap itu adalah sketsa wajah istriku dan wajah pacar-pacarku dulu. Tapi harapan tinggal harapan, selebihnya adalah kata asa yang mencari kata depannya: putus. Maka akupun berputus asa, sebab dunia eskatologi tidak mengenal kacamata, sedangkan mata istriku minus 9 dan berkaca mata tebal pastinya.

Penampakkan tidak berhenti seiring kekecewaan yang kudapati. Sebuah sketsa wajah dengan mulut terbuka lantaran tertawa seolah menertawaiku. Cukup menggelikan, lebih-lebih muncul selanjutnya wajah sang Lovin’ Jah, Bob Marley dengan rambut gimbalnya. ‘Gila’, umpatku. Aku melihatnya dengan kesadaran penuh, bebas dari ekstasi khayali minuman, obat ataupun ganja. Kesadaranku memaksaku utuk tetap terjaga. Aku tidak sedang mimpi atau memimpikan sesuatu, yaitu wajah-wajah yang menghantuiku, sebut saja penampakan berikutnya adalah wajah sang ilmuwan gila, Einstein, kemudian Che Guevara, dan wajah dingin sang teroris Imam Samudera.

Nampaknya, slide terus menggelinding begitu saja. Tidak semua terekam jelas. Ketidakfamiliaran wajah, keterasingan dan bisa jadi banyaknya wajah yang bermunculan silih berganti seakan memaksaku memasuki studio foto dimana banyak foto di pajang. Dan mataku lelah.

Lelah menatap bulan diatas perbatasan Tuban-Lamongan, yang menunjukkan durasi pendek sebuah tayangan yang berakhir dengan kesimpulan bahwa menyaksikan bulan itu lebih enak dari pada melihat istri kesakitan disaat datang bulan.

Cinta

Cupid is Dead

Aphrodite in Heat

Pengertian kata cinta bagi Joe Tempest, vokalis Europe, band rock 80-an adalah tak lebih sebagai kata lain untuk diucapkan. Ia bilang dalam single hitnya; Prisoner in Paradise bahwa Love is just another word to say. Nampaknya, ini sangat bertentangan dengan apa yang diyakini Antony Kiddies (Red Hot Chili Pepper) bahwa cinta merupakan satu kata terpanas yang pernah ada di dunia; the hottest word in the world.

Dalam pencariannya, cinta menjadi sangat sulit untuk ditemukan, terlebih di biro jodoh ataupun di layanan short message service; chat n’ date. Tidak sesemudah seorang rock star yang flamboyan, yang suka mengumbar kata cinta dan menempatkannya tak ubahnya sebagaimana kata-kata lainnya. Atau kebalikannya, saking sakralnya, kata cinta malah menjadi begitu panas; hotter than hell sulit dijangkau dan direngkuh. Hal termudah terkait dengan kata cinta adalah sekedar cukup untuk diaklamasikan.

Dan jika dikaitkan dengan hari raya Qur’ban, tentunya yang muncul adalah kejelasan definitif kata cinta yang memang identik dengan pengorbanan, yakni cinta adalah pengorbanan, yang biasanya fase awalnya berupa minimal korban perasaan sebagaimana Ibrahim as yang mengorbankan perasaannya atas perintah penyembelihan anak kinasihnya sendiri; love is sacrifice atau to love is to sacrifice. Kata kunci sukses tidaknya mereguk cinta adalah berani mengambil sikap membunuh rasa, meski Rhoma Irama bilang,”Teganya-teganya” mengamini Nazareth dalam lagunya; Love Hurt. Sebab yang demikian itu lebih baik dari pada berlebihan dalam bercinta seperti halnya nasehat bijak gitaris Brian May (Queen); too much love will kill you.

Dalam perjalanannya, cinta di kondisi teks kekinian telah menemukan formasi asingya. Seiring dengan perkembangan maupun perubahan zaman, cinta telah memasuki gerbang paduan hati nyaris tanpa rasa, yang ada adalah situasi dan kondisi yang memaksa orang untuk belajar mencinta; learn how to love and forget how to hate, sehingga seseorang jika lagi jatuh cinta untuk kesekian kalinya, yang ada bukannya nyanyian jatuh cinta berjuta rasanya tapi jatuh cinta aduh betapa tidak ada rasanya. Bin Hard, pemerhati cinta dalam salah satu tulisannya menyebutkan ketidakterlibatan emotional feeling di era angka-angka ketika cinta diukur dalam batasan digital.

Saat ini, kadar cinta tidak perlu diperjelas dengan pertanyaan; how deepest your love?(Beatless). Pertanyaan hanya akan merepotkan proses percintaan, menghambat perjalanan dan pastinya memperlambat jenjang pernikahan. Cinta tak perlu jelas diekspresikan; there is a hole in my heart that only can be filled by you (Garry Cherone, Extreme: Love Song, 1991) atau you always have a place within my heart (Mike Tramp, White Lion: Till Death Do Us Apart, 1989).

Dalam pandangan kaca mata kuda saya, hari ini cinta menjadi hal yang biasa, tidak sebombatis cintanya Qais al-Qarni ataupun Laila Majnun. Cinta adalah hal yang boleh dibilang sederhana pada akhirnya, tidak sesepektakuler cintanya Zulaika kepada Yusuf as. Dan rasa-rasanya, cinta gak perlu disandingkan dengan cinta anehnya Rabiah al-Adawiyah. Sebab menurut Rudi Sujarwo, cinta adalah nama dalam filmnya; Ada Apa dengan Cinta dan bagi seorang mama, cinta adalah anaknya yang benama Laura.