Muslim: Otentisitas v Modernitas

Identity

Secara leksikal, seantagonis apapun asumsi yang menyatakan bahwa Islam dan Muslim merupakan sumber persoalan karena ketidakmampuan mereka dalam melakukan adaptasi sosiologis dan kultural dengan realitas masyarakat Barat yang kristiani, sekuler, dan sedikit-banyak supremasis, itu perlu diyakini tanpa musti dibuktikan, sebab asumsi bukanlah anggapan atau jawaban sementara (hypothesis) yang masih perlu diuji kebenarannya.

Benar tidaknya ketidakmampuan umat Islam dalam melakukan adaptasi dengan dunia luar, sebenarnya dengan sangat mudah dapat diketahui dari bagaimana kecenderungan mereka dalam memposisikan diri, sebagai Muslim yang inklusif atau eksklusif. Sebab dengan memilih menjadi inklusif berarti dengan sendirinya umat Islam mampu menepis keraguan Barat akan ketidakmampuan mereka dalam berinteraksi dengan dunia luar. Sebaliknya, menjadi eksklusif berarti umat Islam merelakan diri untuk mendapatkan stigmatisasi sebagai Muslim yang mengisolir diri dan gagal dalam berasimilasi. Dalam ekslusivitas, Islam masih diperlakukan sebagai keyakinan dalam format lamanya meski zaman dan tempat telah berubah. Kebanyakan umat Islam kurang bisa mengerti. Mereka meyakini bahwa kandungan nilai-nilai Islam yang terangkum dalam ajaran-ajaranya musti dilindungi dengan tujuan agar tidak terkontaminasi.

Pertanyaan yang dapat dimunculkan terkait dengan sikap kehati-hatian umat Islam tersebut adalah bagaimana jika asumsi itu dibalik, bahwa Kristen dan Baratlah yang menjadi sumber persoalan karena ketidakmampuan mereka dalam melakukan adaptasi sosiologis dan kultural dengan realitas masyarakat pendatang yang islami dan cenderung inferior tapi menganggap diri rendah hati; low profile (tawadhu’). Konsekuensi logis dari pembalikan asumsi ini adalah adanya keyakinan sebaliknya bahwa Islam dan Timur itu egois, prejudis, dan takut terhadap dominasi dan hegemoni Barat dalam mengkukuhkan kekuasaan politik ekonominya melalui upaya westernisasi dengan agenda liberalisasi dan sekulerisasi yang dianggap dan bahkan diyakini berpotensi menggeser akidah Islam yang telah diyakini selama hampir 15 abad.

Kebenaran asumsi awal bahwa memang umat Islam tidak mampu beradaptasi atau mengadaptasikan Islam pada realitas sosial patut dicermati dengan cara mengenali faktor internal yang berperan dalam memuluskan kegagalan itu sendiri, yaitu ketidakberdayaan umat Islam di Barat dalam mengentaskan diri dari ketakutan terhadap interferensi negatif Barat sebagai buah dari asimilasi. Pemahaman umat Islam masih berkutat pada bagaimana menjadikan Islam sebagai filter atau perisai diri dan belum beranjak dari rigidnya pemahaman terhadap Islam itu sendiri. Fakta inilah yang mengantarkan umat Islam pada kekalahan dalam persinggungan sejarah peradaban.

Sebaliknya, dibalik keberhasilannya dalam mereduksi rasa takut terhadap kemungkinan kebangkitan Islam di Barat yang dianggap berpotensi menggeser political and economic powers yang telah diraihnya selama kurang lebih 200-an tahun, sebenarnya Barat telah memproklamasikan post power syndrome-nya.

Dari paparan diatas, diketahui dengan jelas bahwa dua kutub persepsi yang berseberangan akan terus mengalami kesulitan melakukan integrasi budaya, paham dan ideologi. Menguatnya corak Islam yang ideologis dan puritan cukup mengkhawatirkan. Diperlukan upaya kejelasan identitas bahwa Islam bukan Arab agar umat Islam mampu menyesuaikan Islam dengan kultur Barat. Nostalgia kemenangan Islam di Spanyol perlu direnungi sebagai kekalahan, terbukti dengan tidak diketemukannya sisa-sisa peninggalan kejayaan Islam di sana.

Ada beberapa teori yang telah membahas fundamentalisme yang muncul di dunia Islam. Yang paling banyak dikutip adalah kegagalan umat Islam menghadapi arus modernitas yang dinilai telah sangat menyudutkan Islam. Karena ketidakberdayaan menghadapi arus panas itu, golongan fundamentalis mencari dalil-dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar. Jika sekadar “menghibur,” barangkali tidak akan menimbulkan banyak masalah. Tetapi sekali mereka menyusun kekuatan politik untuk melawan modernitas melalui berbagai cara, maka benturan dengan golongan Muslim yang tidak setuju dengan cara-cara mereka tidak dapat dihindari. Ini tidak berarti bahwa umat Islam yang menentang cara-cara mereka itu telah larut dalam modernitas. Golongan penentang ini tidak kurang kritikalnya menghadapi arus modern ini, tetapi cara yang ditempuh dikawal oleh kekuatan nalar dan pertimbangan yang jernih, sekali pun tidak selalu berhasil.

Teori lain mengatakan bahwa membesarnya fundamentalisme lebih didorong oleh rasa kesetiakawanan terhadap nasib yang menimpa umat Islam di Palestina, Khasmir, Irak dan Afganistan. Teori lain juga mengatakan bahwa maraknya fundamentalisme lebih disebabkan oleh kegagalan negara mewujudkan keadilan sosial dan terciptanya kesejahteraan yang merata.

Dari ketiga teori ini, nampak fundamentalisme dalam Islam maupun Barat Kristen baik secara praksis maupun teoritis menjadi penghambat terbesar terciptanya dunia yang lebih egaliter dimana Islam menjadi penyeimbang Barat dalam menghadapi rusaknya arus modernitas dan sebalikya Barat mampu menjadikan Islam sebagai penyeiring perjalanan modernitas yang ia ciptakan.

Jadi, tanpa harus menuduh Barat sebagai “biang kerok” dari terjatuhnya peradaban Islam-meskipun dalam beberapa segi bisa dibenarkan-upaya kritik diri lebih patut untuk dipertimbangkan. Sebagai contoh adalah keheranan pernyataan yang dibuat oleh Jamaluddin al-Afgani bahwa ia mendapati Islam di Barat dan bukan di Timur. Argumentasi Iqbal pun membenarkannya, bahwa Barat telah berhasil membangun ‘dunia’, tetapi gagal membangun ‘akhirat’ sedangkan Islam berhasil membangun ‘akhirat’ tetapi gagal membangun ‘dunia’.

Dengan demikian, otentisitas dan modernitas menjadi kata kunci permasalahan. Pada satu sisi umat Islam ingin menjadi modern, tetapi pada saat yang sama, mereka takut kehilangan identitas keislaman mereka. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi umat Islam. Dirasa perlu untuk mampu menjawab pertanyaan bagaimana bisa umat Islam menjadi modern tanpa Barat, mengingat modernitas adalah produk peradaban Barat.

Dengan jaminan bahwa modernisme, sekularisme dan materialisme yang berkembang baik di Barat tidak akan mengikis “tradisi suci” umat Islam, saya fikir pemahaman ulang terhadap paham-paham tersebut sekaligus memahami penyebab trauma Barat akan berdampak pada terkuranginya sikap defensif umat Islam terhadap Barat. Dari sini umat Islam akan mengenali kelemahannya sekaligus mengetahui faktor kemunduran yang bemula dari sikap menolak apapun yang berbau Barat, terutama produk-produk pemikirannya.

Pendeknya, meski tidak mudah, mewujudkan keharmonisan berarti menyelaraskan kesenjangan peradaban dengan cara membuang jauh ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Hal terpenting adalah bagaimana kita menjaga otentisitas keislaman dengan tanpa musti menghindari arus modernitas. Hal ini cukup menjelaskan posisi netral dan bahkan universal umat Islam yang sebenarnya (live in between): la syarqiyyah wa la gharbiyyah, mengingat Timur dan Barat hanya milik Allah semata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s