Month: November 2009

Sholat Ied

Disfungsi Masjid di Waktu Sholat Ied

Ketika praktik sholat sudah tidak mengindakan tempat, untuk sesaat fungsi masjid pun tergantikan. Lapangan, tanah kosong, halaman kampus, parkiran pertokoan dan jalan raya seolah menegaskan kullu ardhin masjidun bahwa bumi adalah tempat bersujud, persetan beralaskan terpal, kerdus ataupun koran.

Kemaren, sewaktu pengorbanan dirayakan didahului dengan ritual tahunan: sholat Ied, dimana takbir dikumandangkan sunnahnya di luar ruangan, disitu boleh jadi senandung gema ilahi menjadi tak tersekat atap internit masjid, tak terhalang dinding dan tak terbentur tembok bangunan yang disucikan.

Kondisi demikian seakan memberi pesan mustinya sesekali dalam setahun umat Islam wajib berdemonstrasi, unjuk gigi akan pentingnya kebersamaan, memamerkan prestasi persatuan yang dipandang masih terlalu jauh dari harapan, atau paling tidak reuni tahunan outdor ini menjawab kecemasan Muhammadiyin -bahwa bumi Allah itu luas- untuk tidak perlu khawatir terhadap meningkatnya populasi bani Adam dan menjamurnya industrialisasi yang mempersempit luas tanah, sehingga kekhawatiran dimana sholat Ied akan diadakan terkurangi seiring dengan keyakinan mereka bahwa mengikuti sunnah -dengan menyelenggarakan Ied di tanah lapang- berarti meninggalkan bid’ah.

Prakmatisnya, masjid adalah sebidang tanah komplit dengan bangunan serta fasilitasnya, dimana mestinya imam dan makmum menjadi betah ketika beribadah di dalamnya. Semantisnya, masjid adalah sedepa tanah tempat bersujud dimana umat Islam masih merasa perlu mengalasinya, dan itu bukan cuma sajadah tapi juga koran yang terkadang potret Julia Peres dengan senyuman menggodanya ada disana. Walhasil, sholat yang dirayakan waktu itu luarbiasa! Khatib kepanasan raut mukanya, tidak hanya oleh terik matahari yang mulai menyapa tetapi juga ulah para peserta sholat yang memilih lebih suka menatap dan bahkan membaca koran alas sajadahnya.