Policonomy

Good News or Bad News?
Dikabarkan seorang kawan, sebut saja Fulan akan segera dilantik bulan Agustus ini menjadi DPRD Malang.
Sambil tertawa dia menjawab pertanyaanku, kerjaannya apa?. Rapat!, setuju dibayar gak setuju juga dibayar, katanya.
Pertanyaan berikutnya yang enggak mungkin kutanyakan adalah apa yang kubingungkan kenapa orang begitu terpesona dengan profesi satu ini. Jika dibandingkan dengan kerjaannya kawan yang lain, yang motret sana motret sini: motret dibayar gak motret pastinya gak bakal dibayar, Fulan telah melakukan kemenangan finansial tapi ketika ketidaksetujuannya tidak berdampak pada tidak dibayarnya dia, ia telah dikalahkan oleh kemenangannya sendiri. And it’s mourning glory!
Plato boleh jadi benar dengan perlunya berpolitik dengan alasan daripada dipolitiki tapi ketika kita tahu bahwa politikus itu adalah teman kita sendiri bisa jadi kita menjadi risih di satu sisi, pada sisi lain kerisihan itu tidak membantu sama sekali dalam mengentaskan permasalahan ekonomi yang besar kemungkinan ia lagi hadapi. Dalam hal ini, Fulan menjadi begitu Marxis. Idealnya, ekonomi cuma pemicu awal. Faktanya, ia punya masalah dengan psikologi. Jadi ini adalah kabar bagus untuk kepul asap dapur sekaligus kabar pilu untuk kejiwaan yang sulit diobati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.