Month: April 2009

Bulan

Bulan

diatas perbatasan Tuban-Lamongan

Sepertinya, perintah kakak iparku untuk membuka jendela merupakan awal tersingkapnya tabir yang menutupi mata malasku. Dengan susah kubuka daun jendela itu, sehingga tanpa sengaja kujatuhkan paku grendelnya. Konsekuensinya adalah untuk mengambil itu grendel aku musti melompati jendela. Walhasil, tidak cuma paku grendel yang kudapati, tapi bentangan luas pemandangan langit pagi hari. Satu yang menggoda di dalamnya adalah bulan purnama yang nampak tepat didepan mata.

Awalnya, biasa saja. Akupun tidak terkesima melihatnya. Tidak seperti Agus Mustafa yang terkesima di sidratul muntaha. Mata awamku mengatakan bahwa bulan sama saja, selalu menampakkan wajah kemayunya.

Tapi tidak di pagi itu, Minggu pagi usai subuh (12 April 2009). Tuhan berbaik hati menampakkan banyak sketsa wajah di kanvas bulan purnama-Nya.

Wajah imam Mahdi, The Last Savior yang ingin kubuktikan sebagaimana yang dilansir di www.theallfaith. com. Wajah imam ke dua belas dari keturunan Nabi yang nampak di bulan virtual sebuah situs spiritual nyaris tak kutemukan (di situs itu, ‘wajah bulan’ imam Mahdi nampak seperti wajah Nicholas Cage dalam Con Air). Alih-alih mengenali wajahnya, yang kudapati malah sketsa wajahku sendiri, wajah seorang mahasiswa sastra tahun 97an.

Ketidakpercayaanku akan apa yang baru kulihat tidak mengurangi nocturnal vision yang bisa melihat dalam cahaya terbatas atau redup. Terlebih, temaram kekuningan bulan pagi itu seperti cahaya lampu baca, memperjelas gambaran sketsa. Upayaku dalam mempertegas kemustahilan dari apa yang terlihat dengan cara mengucek-ucek mata, berpaling, dan melengos tidak menghasilkan apa-apa. Dengan kata lain, mataku untuk kedua kalinya menyaksikan hal yang sama, yaitu sketsa wajah mahasiswa yang masih perjaka. Dengan demikian, keniscayaan akan adanya penampakan bisa ditangkap baik oleh mata yang sehat maupun oleh mata yang katarak. Permasalahannya adalah seberapa malas mata seseorang bekerja, mengirim image ke otak secara utuh, separuh, seperempat atau tidak seper berapapun. Dan pastinya, jawaban sementara berupa hipotesa tidak adanya penampakan itu lebih dikarenakan kebanyakan mata umat Islam menderita amblyopia

Belum sempat tertuntaskan kegamanganku, di bulan itu nampak silih berganti dalam hitungan detik beberapa wajah asing, tak kukenali. Mimik mereka mengekspresikan keadaan yang sama; tenang dalam keterasingan, mempresentasikan wajah para ghurabā’.

Tidak berselang lama, nampak muka beberapa wanita, berkerudung tentunya. Aku berharap itu adalah sketsa wajah istriku dan wajah pacar-pacarku dulu. Tapi harapan tinggal harapan, selebihnya adalah kata asa yang mencari kata depannya: putus. Maka akupun berputus asa, sebab dunia eskatologi tidak mengenal kacamata, sedangkan mata istriku minus 9 dan berkaca mata tebal pastinya.

Penampakkan tidak berhenti seiring kekecewaan yang kudapati. Sebuah sketsa wajah dengan mulut terbuka lantaran tertawa seolah menertawaiku. Cukup menggelikan, lebih-lebih muncul selanjutnya wajah sang Lovin’ Jah, Bob Marley dengan rambut gimbalnya. ‘Gila’, umpatku. Aku melihatnya dengan kesadaran penuh, bebas dari ekstasi khayali minuman, obat ataupun ganja. Kesadaranku memaksaku utuk tetap terjaga. Aku tidak sedang mimpi atau memimpikan sesuatu, yaitu wajah-wajah yang menghantuiku, sebut saja penampakan berikutnya adalah wajah sang ilmuwan gila, Einstein, kemudian Che Guevara, dan wajah dingin sang teroris Imam Samudera.

Nampaknya, slide terus menggelinding begitu saja. Tidak semua terekam jelas. Ketidakfamiliaran wajah, keterasingan dan bisa jadi banyaknya wajah yang bermunculan silih berganti seakan memaksaku memasuki studio foto dimana banyak foto di pajang. Dan mataku lelah.

Lelah menatap bulan diatas perbatasan Tuban-Lamongan, yang menunjukkan durasi pendek sebuah tayangan yang berakhir dengan kesimpulan bahwa menyaksikan bulan itu lebih enak dari pada melihat istri kesakitan disaat datang bulan.

Advertisements