Month: December 2008

God’s Words

Katanya Tuhan

Meminjam kata-kata Tuhan

Komunikasi menjadi terhenti saat kata-kata Tuhan dipinjam dan dijadikan jubir pamungkas guna mengakhiri perbincangan yang mustinya panjang dan melelahkan rajutan saraf-saraf pengucap.

Dalil-dalil naqli itu lagi-lagi diposisikan sebagai pembungkam mulut lawan bicara, yang kalau diibaratkan sebagai menu makanan, teks tak ubahnya selalu menjadi makanan penutup yang mengenyangkan sesaat, meninabobokan otak dan menidurkan.

Tak sedikit orang yang suka mengobral kata agama, membuka kata melalui katanya Tuhan dengan tanpa disadari bahwa yang demikian merupakan tindakan lisan yang tidak menginginkan kelanjutan bahasan. Sebuah penutup yang terburu-buru dikedepankan (istinbath muqoddam), membuka kata sekaligus mengakhirinya dengan cukup sekian, sebagai akhir kata dari sebuah paragraf yang belum terselesaikan. Kata-kata Tuhan berubah menjadi sebatas iftitah sekaligus ihtitam. Pepatah Arab mengatakan qolla wa dalla, saya lebih suka mengatakan air beriak tanda kurang dari dua kula: memakai kata-kata langit lebih dikarenakan kehabisan kosa kata bumi.

30 tahunan yang lalu, tepatnya waktu benak fikiran saya masih dipenuhi dengan uforia sorga-neraka dimana teks adalah dalil suci yang jika dikumandangkan oleh seorang da’i menjadi sangat memikat hati, mempesona dan mempengaruhi seorang anak untuk semangat mengaji (belajar baca al-Qur’an). Sekarang, rasa-rasanya teks itu terlalu suci sebagai kata terucap Tuhan untuk diucapkan lagi meski oleh seorang da’i lebih-lebih oleh seorang akademisi. wa qolaallahu ta’ala fi al-Qur’an al-kariim ila akhiri al-ayat untuk keadaan saat ini merupakan rentetan keterasingan ucapan yang pada akhirnya hanya akan mengantarkan mitra tutur berada pada dua kondisi: pertama, terdiam dengan kebenaran kalam yang telah tuntas dituturkan dan kedua, justru akan mengantarkan pendengar pada rasa takut atau sebaliknya, malah akan membikin dia mengantuk.

Lepas dari ketidakmampuan diri untuk sejenak melepaskan diri dari teks, agar sedikit bisa leluasa berlogika dalam bertutur serta meracik dan merangkai kata dengan pemilihan diksi kata yang tepat (orang Jawa bilang biar gayeng marem) akan membikin lawan bicara merasa dilibatkan dalam pembicaraan tanpa musti merasa seolah digurui atau diludahi dengan nash al-Qur’an. Sebab yang demikian itu bukanlah hal yang salah dalam membahasakan sebuah dakwah. Kallimu an naas biqodri lughotihim dengan tidak menjejali mereka dengan yang bukan bahasanya.

Kalaupun kebanyakan kita mengabdikan diri di biro jasa layanan agama, dengan tidak menafi’kan balligū annī walau cuma satu ayat, semestinya kita perlu menghindari peminjaman kata-kata Tuhan sebagai pilihan awal untuk diucapkan, lebih-lebih hanya sekedar sebagai basa-basi ucapan mujammalatu al-kalam.