Month: September 2008

Romadhona & Romadhoni

kekacauan afiksasi

Usai Tarawih, tepatnya saat melafalkan niat puasa, secara spontan berhenti pada kata Romadhoni. Sanggahan cepat dengan sedikit bentakan keluar dari mulut seorang istri yang saya imami. “Romadhona” katanya ketus. Sebuah koreksi datang dari yang bukan ahlinya tentunya, lantaran ia cuma seorang akhwat (jama’ yang dimufrodkan) hasil tempaan Halaqoh Tarbiyah yang berlatar belakang Manajemen Agri Bisnis. Dan saya pun bertanya-tanya? .

Guyonan populer yang muncul selama ini, selalu sama di bulan puasa. Yaitu argumentasi kejelasan lafadz niat. Kata Ramadhan berakhiran ‘a’ atau berakhir dengan ‘i’, Romadhona atau Romadhoni?. Ujung-ujungnya berupa jawaban ketergantungan, tergantung siapa yang melafalkan. Kalau perempuan Romadhona, kalau laki ya Romadhoni sebagaimana nama Maddona yang kurang lebih berarti Dona yang gila atau Dona yang lagi marah. “Jadi kamu gak usah marah lebih-lebih menjadi gila kalau saya ucapkan bukan Romadhona” saya menceramahinya.

Ada alasan kebahasaan berkait erat dengan pengucapan kata Ramadhan. Memang Ramadhan ber-suffix ‘i’ tidak sepopuler Ramadhan berakhiran ‘a’. Yang paling aman adalah meniadakan kedua akhiran, yang kalau dinisbatkan pada guyonan Dona-Doni, bisa dikatakan menjadi sebagai pengaburan kesetaraan gender. Meminjam istilah fashion dalam revolusi berpakaian adalah unisex, yang berarti bisa laki-laki bisa perempuan. Sehingga yang muncul adalah semacam Nur Ramadhan, nama seorang reporter SCTV Malang atau Muhammad Romdhon, nama sekjur Bahasa Arab Universitas Negeri Jakarta atau seperti Prof Mahmud Yunus dalam kamus Arab-Indonesianya yang tidak mencantumkan tanda baca akhir pada kata Ramadhan. Dalam hal ini keindahan rhyme, bunyi suara yang berakhir sama, sama sekali tidak diindakan dan cenderung dikesampingkan. ..an ada‘i fardhis syahri romadhoni hadihis sanati..yang ada selama ini hanyalah Romadhona tanpa lebih dahulu mengetahui bahwa Ramadhan adalah bukan ism ghoiru munshorif.

Lebih aman lagi adalah menghindari pelafalan niat dengan cara nggeremeng hewes hewes haus haus atau ngedumel dalam hati (hati yang bicara) innamal a’malu binniyah dan niat gak perlu dikumandangkan terlebih digembar-gemborkan.


Advertisements