Iklan dan Popularitas

Stop in the Name of Poverty

Puluhan tahun yang lalu, waktu itu TVRI menjadi satu-satunya televisi rujukan informasi terkendali dengan tampilan warna cuma hitam putih.

Sudah cukup menghibur mata manakala bisa melihat orang kota dari kotak kaca 17 inci, memperhatikan senyum murah presiden, menatap senyum genit Elvi Sukaesi dan menyaksikan mulut komat-kamit penyaji berita ‘Dunia dalam Berita’.

Lebih menghibur lagi adalah acara ‘Mana Suka Siaran Niaga’ yang berdurasi setengah jam. Sebuah acara iklan yang dengan sendirinya juga menayangkan sekaligus mengantarkan popularitas Bagio di iklan bakso ajinomoto dan Benyamin di iklan sampan bermesin kubota. Sebagai pemandu iklan, mereka berdua lucu dan menyenangkan.

Akhir-akhir ini, dunia pertelevisian sering disibukkan dengan penayangan iklan ‘jual diri’. Sebuah iklan yang ditujukan untuk mengemis popularitas meski harus mengeluarkan biaya tinggi. Dari mulai purnawirawan jenderal pantang menyerah yang telah berhati nurani, dan yang mendadak menjadi ketua petani sampai yang gencar menjajakan diri dengan cara mengajak orang lain untuk berbuat lebih dalam hidup ini. Sebagai orang-orang yang dipandu oleh iklan, mereka bertiga tidak lucu dan cenderung menyebalkan.

Baik Bagio maupun Benyamin, keduanya adalah pelawak murni sedangkan Wiranto, Prabowo dan Sutrisno ketiga-tiganya adalah pelawak politik yang sedang menertawakan keadaan (coba kalo pilih saya, tentu gak bakal jadi begini keadaan ini he he he).

Belum lagi iklan ibu ketua arisan yang punya kecenderungan rasan-rasan. ‘Gotong royong’ ia kumandangkan sebab memang perempuan selalu berkemampuan kurang, perlu bantuan dari suami atau bapaknya untuk bergotong royong mengurangi ketidakmampuannya.

Terkait dengan bau-bauan, bagi saya iklan yang pas dan mengena serta cukup untuk mendongkrak popularitas produk jualnya adalah iklan penyegar badan pria yang beralih fungsi menjadi perangsang wanita.

Kaitannya dengan bau politik, mengais popularitas dengan cara mendekatkan diri pada kemiskinan dalam sebuah iklan sering diyakini mujarab sebagai jalan pintas pencapaian kesuksesan. Kemiskinan yang hampir begitu dekat dengan atau rentan kekufuran, lagi-lagi menjadi obyek penderita dan pelengkap program pendulangan suara. Menghindari kemiskinan berarti memiskinkan suara. Memanfaatkan suara orang miskin berarti rela mendengarkan suara sumbang mereka, seperti ‘Gara-gara miskin aku pilih Wiranto atau gara-gara miskin aku jadi anak buah Prabowo’. Bagi saya, pemilihan ini hanya akan mempertegas jurang strata sosial. Aku memilih priyayi sebab memang aku adalah kawulo alit. Mereka para ksatria dan aku cuma seorang sudra. Mereka muzakki dan aku mustahiq. Mereka dipilih dan nasib menjadikanku sebagai pemilih.

Dilain iklan, pengatas namaan kemiskinan dihindari sedemikian rupa dengan cara mengedepankan faktor vital penyebab kemiskinan, yaitu tidak adanya upaya pengentasan yang secara mendasar mustinya dimulai dari pelaku kemiskinan itu sendiri. Bahasa Sutrisno Bachir adalah perbuatan. Cukup halus untuk mengatakan bahwa kemiskinan itu ada lebih karena kemalasan. Lagi-lagi kemiskinan dipinjam lewat iklan untuk dijadikan agunan ketenaran persis melalui ajakan bijak untuk berbuat. Hidup adalah perbuatan!. Saya lebih suka mengatakan ‘Hidup adalah istirahat dari slogan perbuatan’.

Akhirul kalam, sesuai dengan penerawangan saya, telah terjadi (maaf) kontraproduktif pada pengiklan perbuatan. Orang awam pun akhirnya akan mempertanyakan perbuatan si pengiklan. Jangan-jangan cuma kaburo maqtan. Dan kalaupun disodori pilihan, saya lebih suka memilih Bob Marley dengan satu alasan sebagaimana alasan Anthony Kiddies yang bertutur dalam lirik lagunya tentang almarhum Bob bahwa ia berjalan sesuai dengan apa yang ia katakan. He walks like he talks.

One thought on “Iklan dan Popularitas

  1. enaknya bikin forum peduli iklan aja bro, yg fungsinya pura-pura nyensor iklan, tapi ya ujung2e golek link posisi yang puenak, gak peduli melok jendral pethal.
    masih mending jendral kancile adi bing slamet,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.