Month: August 2008

Iklan dan Popularitas

Stop in the Name of Poverty

Puluhan tahun yang lalu, waktu itu TVRI menjadi satu-satunya televisi rujukan informasi terkendali dengan tampilan warna cuma hitam putih.

Sudah cukup menghibur mata manakala bisa melihat orang kota dari kotak kaca 17 inci, memperhatikan senyum murah presiden, menatap senyum genit Elvi Sukaesi dan menyaksikan mulut komat-kamit penyaji berita ‘Dunia dalam Berita’.

Lebih menghibur lagi adalah acara ‘Mana Suka Siaran Niaga’ yang berdurasi setengah jam. Sebuah acara iklan yang dengan sendirinya juga menayangkan sekaligus mengantarkan popularitas Bagio di iklan bakso ajinomoto dan Benyamin di iklan sampan bermesin kubota. Sebagai pemandu iklan, mereka berdua lucu dan menyenangkan.

Akhir-akhir ini, dunia pertelevisian sering disibukkan dengan penayangan iklan ‘jual diri’. Sebuah iklan yang ditujukan untuk mengemis popularitas meski harus mengeluarkan biaya tinggi. Dari mulai purnawirawan jenderal pantang menyerah yang telah berhati nurani, dan yang mendadak menjadi ketua petani sampai yang gencar menjajakan diri dengan cara mengajak orang lain untuk berbuat lebih dalam hidup ini. Sebagai orang-orang yang dipandu oleh iklan, mereka bertiga tidak lucu dan cenderung menyebalkan.

Baik Bagio maupun Benyamin, keduanya adalah pelawak murni sedangkan Wiranto, Prabowo dan Sutrisno ketiga-tiganya adalah pelawak politik yang sedang menertawakan keadaan (coba kalo pilih saya, tentu gak bakal jadi begini keadaan ini he he he).

Belum lagi iklan ibu ketua arisan yang punya kecenderungan rasan-rasan. ‘Gotong royong’ ia kumandangkan sebab memang perempuan selalu berkemampuan kurang, perlu bantuan dari suami atau bapaknya untuk bergotong royong mengurangi ketidakmampuannya.

Terkait dengan bau-bauan, bagi saya iklan yang pas dan mengena serta cukup untuk mendongkrak popularitas produk jualnya adalah iklan penyegar badan pria yang beralih fungsi menjadi perangsang wanita.

Kaitannya dengan bau politik, mengais popularitas dengan cara mendekatkan diri pada kemiskinan dalam sebuah iklan sering diyakini mujarab sebagai jalan pintas pencapaian kesuksesan. Kemiskinan yang hampir begitu dekat dengan atau rentan kekufuran, lagi-lagi menjadi obyek penderita dan pelengkap program pendulangan suara. Menghindari kemiskinan berarti memiskinkan suara. Memanfaatkan suara orang miskin berarti rela mendengarkan suara sumbang mereka, seperti ‘Gara-gara miskin aku pilih Wiranto atau gara-gara miskin aku jadi anak buah Prabowo’. Bagi saya, pemilihan ini hanya akan mempertegas jurang strata sosial. Aku memilih priyayi sebab memang aku adalah kawulo alit. Mereka para ksatria dan aku cuma seorang sudra. Mereka muzakki dan aku mustahiq. Mereka dipilih dan nasib menjadikanku sebagai pemilih.

Dilain iklan, pengatas namaan kemiskinan dihindari sedemikian rupa dengan cara mengedepankan faktor vital penyebab kemiskinan, yaitu tidak adanya upaya pengentasan yang secara mendasar mustinya dimulai dari pelaku kemiskinan itu sendiri. Bahasa Sutrisno Bachir adalah perbuatan. Cukup halus untuk mengatakan bahwa kemiskinan itu ada lebih karena kemalasan. Lagi-lagi kemiskinan dipinjam lewat iklan untuk dijadikan agunan ketenaran persis melalui ajakan bijak untuk berbuat. Hidup adalah perbuatan!. Saya lebih suka mengatakan ‘Hidup adalah istirahat dari slogan perbuatan’.

Akhirul kalam, sesuai dengan penerawangan saya, telah terjadi (maaf) kontraproduktif pada pengiklan perbuatan. Orang awam pun akhirnya akan mempertanyakan perbuatan si pengiklan. Jangan-jangan cuma kaburo maqtan. Dan kalaupun disodori pilihan, saya lebih suka memilih Bob Marley dengan satu alasan sebagaimana alasan Anthony Kiddies yang bertutur dalam lirik lagunya tentang almarhum Bob bahwa ia berjalan sesuai dengan apa yang ia katakan. He walks like he talks.

Advertisements

Impotensi

It’s important not to be impotent

Beberapa catatan saya tulis dalam kesadaran tinggi dan jujur untuk dikatakan bahwa saya pernah mengalami impotensi disaat spiritualitas saya meninggi.

Pertama: Ibnu Sina tidak pernah salah soal sperma. Pembendungan libiditas hanya akan menyiksa kelamin saja. Artinya sperma tidak pernah betah tinggal diam di testikel manusia, bawaannya selalu pingin ngeluyur keruang vagina, lubang kamar mandi, got, selokan dan bak sampah.

Kedua: Hadits lemah yang menyatakan “Berpuasalah agar kamu sehat” shuumu tasihu saya lebih suka mengartikan “Berpuasalah agar kamu tidak impoten”. Pertanyaan saya, lalu mengapa terjadi penggerusan mut’ah kalau orang gak kuat tirakat menahan hasrat , lebih-lebih gak kuat berpuasa?.

Ketiga: Ngomong-ngomong soal sex tanpa merujuk ke bapak psikologi dunia, Sigmun Freud adalah ‘dosa ilmiah’. Pak Freud gerah atas pengekangan sexual dengan mengatas namakan norma dan agama. Meski memahami hudud adna dalam berpakaian, sayangnya dia belum pernah membaca kitab sex pesantren qurrotul uyun dan kalau saja dia mengetahui sejarah mut’ah dan mengerti makna matsna, tsulatsa wa ruba’a yang lebih sering diartikan 2, 3 dan 4 dari arti sebenarnya, insyaAllah pak Freud akan kecanduan akan sex yang ditawarkan oleh Islam.

Keempat: Kecenderungan untuk melakukan aktivitas sex, apa pernah disinggung perbedaan antara manusia dan hewan dalam teori evolusi? Hewan, apa pernah mengalami impotensi disaat batasan berpakaian mereka tidak terbatasi lagi? Paling-paling temenmu itu berpakaian waktu tampil di topeng monyet. Setahu saya, dalam berperilaku sex, tidak sebagaimana manusia dengan ragam orientasi sexnya yang membutuhkan lebih sekadar titik temu iltiqo’ul hitanain atau sederhananya yakfi bil yad. Exploitasi sex manusia telah merambah ranah ‘bermasalah’ pokoke ada lubang ada galian. Hewan tidak pernah melakukan masturbasi sebagaimana betinanya yang tidak pernah menstruasi.

Kelima: Seseorang tidak serta merta menjadi impoten lantaran pola pakaian, baik dengan cara memelototi orang yang berpakaian tapi telanjang maupun yang menyembunyikan bodi/diri dibalik pakaian. Tidak ada korelasi sama sekali antara mata yang jelalatan dengan ketidak berdayaan kelamin. Perlu dijadikan catatan bahwa orang buta pun masih bisa ereksi. Artinya, visible or invisible, the loaded gun is gonna find its target!.

Ereksi bisa terjadi di tempat yang jelas sekali perbedaannya, bisa di klub-klub malam maupun disaat melakukan thawaf.

Sebagaimana yang telah saya prologkan, impotensi besar kemungkinan terjadi di level tinggi spiritual dimana ketertarikan jasadi tereduksi seperti apa yang dialami Zulaeka yang tidak tertarik lagi sama don juannya, Yusuf alaihi salam.

Apa yang telah disimpulkan oleh Leonid dalam penelitiannya, menurut saya bukan karena penundaan ejakulasi tapi impotensi terjadi karena faktor gradasi luar biasa jasad wanita menjadi cuma seonggok daging biasa yang ketepatan hidup dan bernyawa. Kemudian menjadi sesuatu yang wajar dan lumrah yang akhirnya enggak ngefek apa-apa (gak nyetrum blas) disebabkan oleh pola pakaian yang sering dikenakan dan seringnya mata melihat. Layaknya seorang suami yang sering melihat puting dan payudara istrinya saat menyusui anaknya. Alih-alih punya pikiran ngesex, yang ada malah omelan seorang bapak terhadap anak, ‘lo habisin dah jatah gue!’.

Yang perlu digaris bawahi disini sebenarnya adalah vivid emotion yang mempunyai peranan penting dalam menentukan berhasil tidaknya interaksi sexual.