Month: June 2008

Jum’at

Tiba-tiba saja menyeruak keluar sisi FPI-ku. Rasa-rasanya aku pingin menonjok pemuda itu, yang melenggang santai di teras masjid. Aneh, sorot mata malasku memancarkan kemarahan, melihat sandal jepit yang dipakainya menapaki begitu saja beberapa meter lantai masjid.

Di hampir setiap sholat jum’at, saat khotib berceramah rasa kantuk selalu menyergapku, melumpuhkan daya ingatanku sedemikian rupa sehingga aku tak mampu mengingat isi pembicaraannya, juga tak bisa mengomel bahwa betapa tidak menariknya sang pengkhotbah. Aku selalu saja gagal mendapatkan pepatah lama undhur ma qola wa la tandhur man qola. Keduanya tak pernah kutemukan dalam jum’at mimbariah dari masjid sekaliber Istiqlal sampai masjid berpolemik di desaku.

Usai jum’atan kulewati lelaki tua yang mengingatkanku akan sosok seorang Abu Bakar Ba’asyir-sekilas wajahnya mirip banget-, berkopyah, gamis dan berjenggot putih sedang berjalan tanpa alas kaki. ”Bukan hal yang aneh kalau sandal hilang waktu jum’atan, ini Indonesia, pak!. Apapun bisa terjadi dan menjadi seolah tradisi disini” gumamku. ”Tapi ini aneh, di hari gini masih ada pejalan kaki telanjang tanpa sandal lain sebagai konversi. Bukankah masjid menyediakan banyak sandal, toh yang dibutuhkan cuma sepasang sebagai pengganti” selorohku. Jangan-jangan pemuda itu…

Belum selesai kecurigaanku tiba-tiba tangan kanan FPI-ku menonjok dengan telak tepat di ulu hati libelar-ku. Akupun terhuyung jatuh…