Month: May 2008

Ahmad Band dan Naif

“Pada akhirnya, keberadaan Ahmadiyah hanya akan memperkuat kelompok Islam yang merasa paling Islam”

Dalam perkembangannya, Ahmadiyah mendapatkan angin segar dari koloni penjajah. Sampai di Indonesia di tahun 1920an berkembang dengan kontribusi kurang lebih tidak begitu ‘menyesatkan’, malah sebaliknya. Sebagaimana yang telah dilansir di Jawa Pos senin 28 April, Imam Ghazali Said, pengasuh pesantren mahasiswa ‘an-Nur’ dan ketua FKUB Surabaya memaparkan kronologis historis kiprah dan jasa Ahmadiyah dalam perjuangan kemerdekaan dan andil mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hingga di tahun 2008 ini, Ahmadiyah tidak hanya mendapatkan angin, tetapi juga api, pentungan dan lemparan batu. Perusakan masjid Ahmadiyah berlangsung dengan lancar. Orang-orang marah, membakar masjid dengan minyak tanah bersubsidi. Kedepan, bisa saya pastikan akan terjadi pembakaran masjid dengan gas elpiji. Sampai suatu saat, ketika air ludah menjadi sebagai konversi elpiji, merekapun akan membakar masjid cukup dengan cara meludahi.

Fawaizul Umam dalam tulisannya berjudul ‘Membakar Massa dengan Fatwa” memantau ekskalasi kekerasan atas nama agama tiada berkesudahan bahkan memuncak. Ujung tulisannya mengerucut pada uraian singkat potensi dan kontribusi ulama yang terkait dalam badan resmi pemerintah, mengolah dan menyulut kekerasan.

Kegundahan masyarakat luas seolah-olah terobati dengan dimunculkannya fatwa penyesatan. Tentunya, fatwa menjadi tolok ukur kebenaran atas setiap kenyataan, disadari atau tidak, ekses lanjutan dari kebenaran sebuah fatwa adalah bagaimana menghentikan kesesatan sebuah aliran meski lewat amuk massa .

Dalam kasus ini, kebenaran fatwa yang secara hukum bersifat legal opinion telah menunjukkan kepemihakkannya. Pastinya kepemihakkan pada sekelompok muslim yang telah mendapatkan pembenaran atas tindak anarkisnya. Padahal, ‘kebenaran itu tidak pernah memihak’, kata Koran Jakarta. Sedangkan menurut hemat saya, kesalahan itu hampir selalu saja ada di semua pihak.

Kesalahan itu ada dengan tidak adanya niatan serius dalam mengkaji kitab Tadzkirah, testimoni, interogasi, dan dialog dengan para tokoh dan kaum awam Ahmadiyan. Naif memang, jika cuma buku Amin Jamaluddin dan Hartono Ahmad Jais dijadikan acuan penyesatan dengan tanpa menyandingkan buku-buku rujukan aliran-aliran dalam Islam, semisal karya al Baghdadi, Syahrastani, Ibnu Hazm, al Ghazali dan al Asy’ari.

Naif, memang band yang melejit lewat single hit ‘possessive’ dan kelompok Islam tertentu yang mengaku paling Islam terlalu naïf untuk terlalu memiliki Islam.