Subyek & Obyek

Faa’il dan Maf’uul
pekerja dan yang dikerjai
Dalam homogenitas asrama sebuah lembaga pendidikan Islam, seseorang bisa beranjak dari kekurang kerjaan ‘adamul fi’li melakukan suatu pekerjaan yang dengan sendirinya menjadikan dia sebagai pelaku dengan konotasi jahat tur bejat.

Pesantren, terlepas apa itu salaf atau khalaf, baik tradisional maupun yang mengaku modern merupakan ismul makan yang potensial memberi peluang dalam menyajikan ‘menu makanan sejenis’ atau homo kuliner. Memang ada yang dengan sengit sangat memerangi aktivitas sex satu ini, tapi tak sedikit juga yang terkesan cuek ignore this Goddamn shit dan ada pula yang bahkan sang super chef (baca, kyai) katanya memperbolehkannya. Perhaps, the chef eats too. Who knows? I don’t know!.

Terlebih, materi ajar pesantren berupa dan dititik tekankan pada ‘pesan-pesan yang selalu ngetrend dan tak lapuk dimakan waktu (sex study) mendasari serta memprovokasi santri si penangkap pesan yang sering antri kebelet dan kepingin mengaplikasikan teori fiqih sex yang telah dipelajari di qurrotul uyun sehingga muncul istilah istimta’ yaitu ritual self service yang kemudian melebar pemaknaannya pada adanya tuntutan obyek penderita maf’uul meski hanya pada tataran permukaan touch skin dan tidak mendalam. Dalam istilah Jawa lebih dikenal dengan sempetan. Sedangkan yang keminggris muncul kata mairil yaitu cara baca phonetic dari my real……..

Sama halnya dengan pondok modern, meski terminologi tersebut kurang begitu populer dan tidak cukup dikenal di kalangan penghuninya, ‘kelakuan’ (perilaku sex klasik umat Luth) tetap saja sama sebagai suatu hal yang tak termaafkan unforgiven karena sudah menyangkut pada tindak pelecehan sexual yang pada kenyataannya juga meningkat pada pemaksaan sexual. Dibandingkan dengan pesantren salaf, tingkat ekstrimitas perilaku sex yang tanpa buku rujukan yang diajarkan (Islamic sex education book), pondok modern boleh dibilang jauh lebih ngesex. Fenomena sex ganjil ini memunculkan istilah-istilah lucu yang merupakan ekspresi girang si pelontar/pengucap seperti zen, al, nyut serta ungkapan sayang ‘kucing kecilku’ kitty dan ungkapan ketidaksukaan, secara verbalnya adalah ghoiru zen dan yahanu al. Sedangkan bagi si pelaku muncul kata faa’il dan yang ‘laku’ yaitu maf’uul.

Derivasi pelaku perilaku sex kepepet (kepaksa) ini berawal dari kata kerja transitive mutaaddi yang membutuhkan atau diikuti obyek dan tidak laazim (intransitive) sebab memang ini adalah jenis hubungan badan yang tidak lazim dimana pekerja pemaksa (faa’il) katakan saja pemerkosa mengerjai obyek penderita yang sama maf’uulun bihi dan bukan biha.

Selebihnya baca ‘Dan Sigmund Freud pun tertawa’

One thought on “Subyek & Obyek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.