Month: February 2008

Subyek & Obyek

Faa’il dan Maf’uul
pekerja dan yang dikerjai
Dalam homogenitas asrama sebuah lembaga pendidikan Islam, seseorang bisa beranjak dari kekurang kerjaan ‘adamul fi’li melakukan suatu pekerjaan yang dengan sendirinya menjadikan dia sebagai pelaku dengan konotasi jahat tur bejat.

Pesantren, terlepas apa itu salaf atau khalaf, baik tradisional maupun yang mengaku modern merupakan ismul makan yang potensial memberi peluang dalam menyajikan ‘menu makanan sejenis’ atau homo kuliner. Memang ada yang dengan sengit sangat memerangi aktivitas sex satu ini, tapi tak sedikit juga yang terkesan cuek ignore this Goddamn shit dan ada pula yang bahkan sang super chef (baca, kyai) katanya memperbolehkannya. Perhaps, the chef eats too. Who knows? I don’t know!.

Terlebih, materi ajar pesantren berupa dan dititik tekankan pada ‘pesan-pesan yang selalu ngetrend dan tak lapuk dimakan waktu (sex study) mendasari serta memprovokasi santri si penangkap pesan yang sering antri kebelet dan kepingin mengaplikasikan teori fiqih sex yang telah dipelajari di qurrotul uyun sehingga muncul istilah istimta’ yaitu ritual self service yang kemudian melebar pemaknaannya pada adanya tuntutan obyek penderita maf’uul meski hanya pada tataran permukaan touch skin dan tidak mendalam. Dalam istilah Jawa lebih dikenal dengan sempetan. Sedangkan yang keminggris muncul kata mairil yaitu cara baca phonetic dari my real……..

Sama halnya dengan pondok modern, meski terminologi tersebut kurang begitu populer dan tidak cukup dikenal di kalangan penghuninya, ‘kelakuan’ (perilaku sex klasik umat Luth) tetap saja sama sebagai suatu hal yang tak termaafkan unforgiven karena sudah menyangkut pada tindak pelecehan sexual yang pada kenyataannya juga meningkat pada pemaksaan sexual. Dibandingkan dengan pesantren salaf, tingkat ekstrimitas perilaku sex yang tanpa buku rujukan yang diajarkan (Islamic sex education book), pondok modern boleh dibilang jauh lebih ngesex. Fenomena sex ganjil ini memunculkan istilah-istilah lucu yang merupakan ekspresi girang si pelontar/pengucap seperti zen, al, nyut serta ungkapan sayang ‘kucing kecilku’ kitty dan ungkapan ketidaksukaan, secara verbalnya adalah ghoiru zen dan yahanu al. Sedangkan bagi si pelaku muncul kata faa’il dan yang ‘laku’ yaitu maf’uul.

Derivasi pelaku perilaku sex kepepet (kepaksa) ini berawal dari kata kerja transitive mutaaddi yang membutuhkan atau diikuti obyek dan tidak laazim (intransitive) sebab memang ini adalah jenis hubungan badan yang tidak lazim dimana pekerja pemaksa (faa’il) katakan saja pemerkosa mengerjai obyek penderita yang sama maf’uulun bihi dan bukan biha.

Selebihnya baca ‘Dan Sigmund Freud pun tertawa’

ID

Prolog: Apalah arti sebuah ID kalau itu menjadikanmu tersekat tidak bisa melakukan sublimasi kanzul arsy.

Monolog:

Berupa curahan hati mantan seorang mahasiswa KAMMI

Saya enggak rela PKS membuka diri

Saya enggak habis berfikir PKS mau berkonsolidasi

Dan saya histeris mendapatkan PKS sudah tidak berkelamin lagi.

Sungguh mengherankan partai dakwah ini sudah tidak istiqomah lagi, pak!.

Rasa-rasanya pingin pindah ke Bulan Bintang saja dan memaksakan diri untuk menyukai senyuman menjengkelkan seorang Yusril Ihza Mahendra, atau ke partai nasional dengan amanat besar dimana ketuanya pernah bersitegang dengan Gusti Randa. Yang jelas tidak ke partainya para kyai, pak!. Doa istighosah mereka sudah terkontaminasi kepentingan itu ini, tasbih mereka sudah digantikan dengan ATM sementara telepati sudah berganti telepon seluler.

Saya suka melihat warna hijau lebih karena selendang Jibril berwarna hijau dan kemul Nabi juga berwarna hijau, tidak dengan warna biru yang menggambarkan suasana hatiku yang saat ini sedang kelabu, tidak juga warna keemasan, sebab kuning mengingatkan saya pada ‘jigong’ seorang teman seniman yang tidak pernah mau memahami hadits gosok gigi 5 kali laulaa an asyuqqo alaa ummatii….ila akhirihi, tidak pula warna merah, the red, cukup tinta merah filsafat yang menjadi warna merah raport saya, pak! disamping rasanya kok engak macho berlindung di balik ketiak wanita tua berkebaya merah’.

sekarang apa kamu masih punya ID?’

punya pak, ID saya: buroz kittun@yahoo. com’.