O

Hujan belum juga berhenti, bisa dibayangkan burung yang sedang terbang  jika kandungan minyak yang ada di kedua sayapnya menipis lalu habis, akan ada banyak burung berjatuhan atau turun mengalah dan akur dengan gravitasi.

Tapi tidak dengan burung satu ini, meski sedikit berkadar minyak disaat musim hujan begini malah mendongak tegak menolak tarikan bumi.

‘Dingin-dingin begini saya sering jadi resah, pak!’ kata seorang mahasiswa.

‘Loh mengapa?’ tanya saya.

‘Keterkaitan organ vitalku dengan panas bumi serta pengaruh musim hujan ini, lebih-lebih hujan di Malang hampir turun tiap hari lebih dari 6 bulanan, cukup lumayan panjang untuk menata detil vivid emosionalku yang terekam jelas dalam benak yang bermula dari hati sebagai perasaan, lebih dari sekedar cinta tapi asmara dengan muatan birahi tertampung dalam libiditas laki-laki terangkum hanya dalam belasan centimeter panjangnya!’.

‘O ya?’.

‘Turunnya hujan menaikkan panas bumi, lewat kaki sampai ubun-ubun kepala, sedikit panas saja sudah cukup menghangatkan organ bawah saya’.

‘Lalu yang atas?’.

‘Cukuplah dipanasi oleh isu pemanasan global dan rebutan gono-gini warisan budaya Indonesia-Malaysia’.

‘Berarti yang bawah damai-damai sajakan?, dalam batasan normal cukup terkendalikan, lalu apa yang diresahkan?’.

‘Bagian terpentingku kepanasan disaat saya kedinginan, pak’.

‘Dinginkan saja!’.

‘Bagaimana caranya?’.

“Berdamailah dengan gravitasi bumi’.

‘Kalau enggak bisa?’.

‘Berpuasahlah!’

‘Berpuasa?, sebagai mahasiswa sudah terlalu sering saya berpuasa, dari jaman wesel berubah menjadi transfer ATM, dari jaman supersemar mengucurkan beasiswa sampai supersemar menjadi masalah, dari jaman tarbiyah sebuah partai yang adil sampai berubah menjadi partai yang anggotanya pada sejahtera. Puasa bukan sebagai pelampiasan, pak! bagi orang miskin yang tak punya makanan dan alternative kedua penyaluran libido’.

‘Lah kamu termasuk kedua kriteria itu, sebagai mahasiswa miskin yang berlibido tinggi’.

‘Saya miskin karena sistem dan bukan sebab takdir Tuhan, kalaupun dikatakan takdir, ini adalah takdir muallaq tergantung upaya saya dalam mengentaskan diri dari kemiskinan. Sistem boleh merampok hak kaya saya tapi tidak libidoku’.

‘Bukannya sistem juga mengatur hasrat sexualmu?’.

‘Bukan mengatur, tapi memojokkan dan memaksaku untuk bertemu mahasiswi bernama Nani’.

‘O’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.