Month: September 2007

when the death come

when the death come
i feel so lonely
and as she calls
how can i pretend not to be happy
pseudo sufistic words

Kabar yang sama (sebagaimana dikabarkan meninggalnya Kyai Tijani Djauhari sebelum waktunya) pernah saya terima, yaitu meninggalnya seorang kawan lama sampai saya dikejutkan dengan munculnya dia di pernikahan Hilman Wajdi putra Kyai Hasim Muzadi, spontan saya berteriak kecil ‘ Musa Syarof masih idup!.

Performanya yang fundamentalis; sosok kurus berjenggot bercelana diangkat sedikit diatas tumit dengan sorot mata yang tajam tapi menyejukkan, sejenak memberi gambaran pembenaran akan warta kematiannya. Pikirku yang salah ‘jangan-jangan Musa yang hafidz ini pernah nyeberang perbatasan Pakistan-Afghanistan, selamat dan tak meninggal sampai akhirnya ke Malang mengantarkan adik kandungnya kuliah ditempat biasanya saya kerja’

Kabar kematian memang selalu cepat sampai, secepat kematian itu sendiri atau bahkan lebih cepat sebelum maut menjemput. Sebab ungkapan bela sungkawa merupakan wujud ekspresi duka mendalam dan menjadi kata-kata terakhir yang bisa dan layak diungkapkan. Sebab kalimat istirja’ adalah kata-kata terakhir yang menjadi pembuka doa untuk jenasah. Sebab innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun adalah ucapan penutup sebagai konklusi akhir kepemilikan.

‘nyawa bukanlah milik jasad sebagaimana halnya jasad yang bukan tempat istirahat, tapi tak lebih media ekspresi dan alat gerak bagi nyawa itu sendiri’

Itulah mengapa manusia di sebut sebagai binatang yang berkata-kata (belum ada riset yang menyatakan bahwa hewan mengungkapkan bela sungkawa). Karena komunikasi adalah indikasi akan hidupnya dia. Dia bicara maka dia ada dan ketidakbicaraannya dia adalah kematiannya, sehingga perlu kiranya agar segera dikabarkan untuk didoakan dan untuk dinyatakan dengan jelas status kepemilikan, bahwa harta adalah hak pewarisnya dan sebagian dari sisanya merupakan hak 8 asnaf sedangkan nyawa (ruh) mutlak hak dan milik Tuhan semata yang tidak bisa diwariskan lebih-lebih dihibahkan (sampai sini konsep tanasukiah reinkarnasi mendapatkan celanya dan sah saja jikalau dianggap edan pencetusnya) .

Sebenarnya warta kematian telah lama ada semenjak bayi di kandungan usia 4 bulanan, ditetapkan panjang umurnya, sorga nerakanya serta suka duka kehidupan yang bakal dijalaninya. Sedangkan tambahan detil ‘kapan waktu tiba’ ditandai secara umum dengan bertambahnya usia dan diperjelas dengan bertambahnya uban di kepala serta diketahui ketika raga mulai mengalami deregenerasi bisa dimensia bisa juga ketidak akuratan organ perasa atau yang lainnya.

Adapun kevalidan berita duka, terlepas dari kesalahan transformasi informasi, bagiku itu hampir sama dengan permainan bisik-bisik tetangga, tentunya tak akan menjamin keutuhan kandungan berita serta substansi maupun hakekatnya. Ya tergantung siapa yang meninggal dunia, karena apa yang kita anggap mati ternyata cuma meninggalkan dunia dan hidup di keabadian sampai tiba masa kehancuran. kullu syai in haalikun illa wajhahu

Advertisements

Musuh

you can not see

this is my destiny

I’m my own enemy

there is no one like you

can not see

this is my reality

I’m my own enemy

Cuplikan lirik lagu Yngwe Malmsteen tersebut cukuplah mengingatkan untuk mengkaji ulang pernyataan siap saja yang nyata-nyata bersedia dan mau menjadi musuh FPI.

Dalam sesi pertama sebuah seminar nasional, lewat retorika dan semangat juang 45, Habib Rizieq seolah-olah berhasil mendapatkan tempat dan perannya di hati peserta. Sejarah perjuangan kembali dikisahkan dengan mengedepankan sisi macho umat Islam. Satu hal yang mengganggu pikiranku adalah namanya yang Habib dan bukan penjelasan emosionalnya akan pembelaan Islam melalui forumnya, FPI. Pertanyaanku mempertanyakan kesamaan Habibnya dengan Habaib yang lainnya, lalu jawab mahasiswa yang duduk sebelahku ‘ cuma dia Habib yang keras, pak’ kemudian pikirku ‘ sama Habibnya tapi tidak jilbiahnya’.

Lain halnya Hidayat Nurwahid yang lebih kentara sosok akademisnya, dengan membawa dan merujuk buku-buku tebal, sang Amir kental terasa paparannya; komunikasi datar dan lancar meski selalu terkesan terburu-buru tutur katanya. Saya yakin tak satupun anggota FPI yang bisa memahami isi pembicaraannya.

Sementar itu Wiranto, muslim legal bersenjata, berusaha menampilkan diri sebagai sosok humanis yang berupaya menyatukan aneka bentuk selera; yang kerasan di garis keras, semi keras dan yang tengah-tengah (asyik saja) lewat kebersamaan ukhuwah wathoniyah. Saya pikir jika saja Naga Bonar dengar, tentunya dia akan tersenyum dan berkata ‘lah iyalah, jenderal!’

Di sesi kedua Hasyim Muzadi, sang Kyai komedian, bisa ditebak sukses mencandai semuanya, membawa peserta girang tertawa gembira dan mengakhiri seminar happy ending layaknya film-film Holywood, penonton jadi lega dengan dimenangkannya bintang pujaannya.

Sebagaimana biasanya, trade mark (nilai jual) omongan pemateri dari kalangan tradisionil selalu saja renyah, gayeng tur guyub, enak di dengar dan perlu, meski perlu di akui guyonan dan candanya tak mengurangi sedikitpun bobot pembicaraan dan bahkan sebaliknya mampu mengantarkan pendengar pada sebuah pemahaman yang gamblang tanpa musti mengerutkan kening dan mengeraskan wajah.

‘sometimes friend is smiley enemy and enemy is a friend, who can not smile’

Kalupun FPI dianggap musuh dalam Islam, coba bayangkan ‘bela Islam’ nya itu sebagai musuh dalam selimut yang dilihat dari prespektif hubungan mutual suami istri, bahwa dibalik selimut ada semacam ‘musuh’ siap melayani. Artinya ‘semusuh musuhnya’ dia pun istri kita dan sesalah-kaprahnya sepak terjang FPI dia adalah saudara sesahadatain kita yang masih diselimuti kesalahan presepsi dan interpretasi dan musti di selimuti dengan bla bla bla ila alkhirihi teruskan sendiri serta tak perlu di musuhi.

 

Puas,ah!


Melakukan puasa berarti merelakan diri menjadi miskin, sebab sebenarnya puasa adalah ibadahnya orang miskin. Tak ada yang bisa dimakan ya puasa sebagaimana Nabi pernah melakukannya.

Lewat bulan Ramadhan Tuhan menyeruhkan pemiskinan masal dengan cara berpuasa penuh sebulan, meski ada kecenderungan kebanyakan kaum puritan untuk menyudahi sehari lebih awal sebagaimana kaum tradisional yang cenderung melengkapi hingga genap 30 hari. Dari sini awal perselisihan jatuh tempo Iedul Fitri.

Kedekatan kata ‘miskin’ dan ‘lapar’ sudah lama sejak sama-sama menduduki jabatan kata yang sama, yaitu sebagai kata sifat yang saling mensifati meski modus operandi kerjanya berbeda. Sepertinya, predikat miskin termasuk af’alul qulub sedangkan rasa lapar pastinya adalah bawaan dari af’alul buthun. Kemiskinan dan kelaparan selalu menjadi satu rangkaian tak terpisahkan. ‘gimana gak lapar wong gak ada uang untuk makan’ atau ‘apa yang bisa dimakan wong dompet gak berisi uang’ merupakan ungkapan-ungkapan naif menyedihkan yang mengundang solidaritas perasaan untuk bersama merasakan hal yang sama; lapar! to feel the hungry is not to feed the hungry but feel it by doing like what they feel (fast by order).

Solidnya hubungan kedua belah pihak tersebut (mispar:miskin lapar) cukup mengoda setan untuk menyajikan menu lain model pengkufuran, lewat makanan, bermula dari perut yang keroncongan berasal dari ketidak berdayaan finansial yang berwujud kemiskinan. Kaadal faqru an yakuuna kufron, terjemahan ngawurnya bisa jadi adalah ‘ sudah miskin gampang jadi kafir lagi’ (according to theory of translation, it’s okay, that is the target language). Lagi-lagi yang melarat yang bisa diperalat, dijadikan alat untuk mengkonstruksi jembatan kekufuran poverty is such an easier way to lead into the gate of the hell, padahal tanpa kita sadari meski kita telah banyak ketahui bahwa orang miskinlah yang duluan masuk sorga. Akhir paragraf ini menyisakan satu kalimat tanya; sudahkah kita tanggalkan status kaya kita dengan cara puasa?

Ps. berupa bualan bid’ah
puaskan puasamu lantaran puasa adalah upaya untuk menghilangkan rasa laparmu’

Bukan Mimpi Basah

Semalam (sehari sebelum puasa) tepatnya sesudah adzan subuh, aku bermimpi bertemu Umar bin Khattab. Dalam mimpiku ‘sahabat masa lalu’ itu menganjurkanku untuk makan dengan porsi jumbo, belum sempat menelan ludah keburu musuh datang meminta ‘jemputan’, akupun diperintahkan bergegas meninggalkan makanan.

Sampai saat terjaga aku sempatkan berfikir sejenak, iya kalau Umar sudah pasti banyak musuhnya, lah orang macamku siapa pula yang mau memusuhiku. Boleh dibilang temanku terhitung banyak, dari yang root radical bertampang kriminal (bau terminal) sampai model ikhwan masjidan bercelana cingkrang, dari yang bernama Nyoman sampai yang punya nama Nur Ramadhan. Dari sini pencarian musuhku berhenti, sengaja kuhentikan karena memang tak kutemukan baik dalam bentuk konkrit sosok tak berteman yang selalu saja ada kecenderungan untuk melawan maupun dalam wujud makanan.

Selera makanku kembali terangsang kala teringat menu makanan dalam mimpi tersebut. Pikirku jangan-jangan ini adalah musuh yang hilang saat aku kesulitan menemukan atau musuh yang datang tanpa diundang. Makanan absurd dalam mimpi telah berubah menjadi musuh yang paling bernyali, datang ke alam maya sebagai penggoda dan selalu ada di alam nyata sebagai penyaji godaan.

Aku tak habis pikir, musuhku cuma seporsi makanan! kukunyah dan kutelan lalu aku muntahkan lewat mulut bawahku (bukan anorexia bulimia). Tidak, yang demikian bukanlah musuh tapi media permusuhan (belum sempat kuteruskan, keburu aku ditraktir teman 30 tusuk sate kambing) antara aku dan keinginan-keinginan perutku, antara lidah dan pencernaan, antara jiwa dan jasad yang menyiksa.

‘ah, biarlah perut bicara dengan bahasanya’ terucap lagi kalimat yang sama yang pernah kutulis tahunan yang lalu di tembok kamar kos2an, toh orang bisa sahid gara-gara perutnya sakit, lagian ini sudah akan mulai puasa yang merupakan jedah kerja alat cerna. Shuumu tashihu, hadits lemah yng gak pernah aku mentahrijnya tak menjadikanku lemah untuk mempercayainya bahwa aku selalu kuat untuk puasa (baca; aku selalu sehat dikala puasa) sampai aku dilemahkan datangnya waktu ta’jil hanya oleh semangkok kolak pisang atau sekotak nasi kiriman dari orang kaya serakah pahala, dobel ganjaran! to feel the hungry is to feed the hungry atau feeling the hungry by feeding the hungry, oalah orang pintar menyiasati puasa.

Selera makanku jadi hilang beberapa tahun terakhir ini, aku coba berpikir keras mengapa aku tak segembira menyambut puasa waktu kecil?, terasa puasa biasa-biasa saja, lapar-kenyang beda tipis jadinya. Tapi paling tidak telah kukenali permasalahannya, sebagaimana hukum yang selalu melompat seiring zaman dan tempatnya demikian juga halnya puasa. Yang jelas salah satu penyebabnya bukan karena maraknya ta’jil gratisan bermotif ganjaran yang tentunya tak sesegar sayur asem bikinan emak (belum sempat nyelesaikan paragraf ini, satu kotak berisi beberapa ‘apem’ bahasa arabnya katanya ‘afwan’, pisang dan lumpia kudapatkan, alhamdulillah/ ritual sesaji sambutan awal bulan puasa ditambah satu mangkok mie goreng buatan istri aku malah jadi kenyang tanpa musti/sebelum makan).

Mimpi, makanan dan musuh yang datang

Lewat mimpi seseorang dihadapkan pada tidak adanya pilihan, yaitu menyambut musuh meninggalkan makanan. Adalah mimpi yang tak perlu di ta’wili karena mimpi tak lebih kembang tidur sebab tak terpenuhinya keinginan, atau dari setan dan bisa jadi diberikan oleh penguasa alam. Dan bukankah makanan merupakan teman pereda rasa lapar dan musuh adalah teman yang mengingatkan? Coba bantu aku mendefinisikan bunga tidurku.