Month: August 2007

Dua Negara Kaya Syariah

Setelah invansi produk Cina yang mengandung timbal dan berformalin, kembali Indonesia dikerjai oleh dua negara yang mengklaim berbasis syariah; Malaysia & Saudi Arabia.

Malaysia karena keserumpunannya, tak hanya memberi Indonesia kontribusi positif dalam bahasa tapi juga menyajikan lapangan pekerjaan sekaligus penganiayaan. Kasus yang pastinya bukan yang terakhir, seorang wasit dianiaya 4 polisi sebagaimana biasanya/banyaknya babu rumah tangga diperlakukan aniaya oleh juragan mereka.

ah, orang indon dimata Malaysia sama saja, tak lebih dari pencari ringgit, baik mahasiswa, kuli tinta, wasit lebih-lebih pembantu rumah tangga. ‘untung aku gak jadi kuliah di Antar Bangsa’ kataku hari ini juga 15 tahun yang lalu.

Sama halnya dengan Arab Saudi, kesamaan dalam beragama tidak cukup bisa meminimalisir peristiwa yang sama, bahkan cenderung lebih, tak cuma penganiayaan tapi perkosaan, penculikan bahkan pembunuhan, karena asisten rumah tangga bagi mereka adalah budak ‘hamba saya’ (bukan sahaya).

duh, umat Muhammad terbanyak di dunia cuma ada di Indonesia dan Indonesia cukup lemah justru karena mayoritas umatnya yang menyebar dan mengais real di negeri petro dolar, ngalap berkah di negara tetangga.

Real telah bersetubuh dengan Ringgit, berselingkuh meludahi Rupiah.

Saya rasa Sukarno belum kehilangan momennya saat menyuarakan ‘Ganyang Malaysia’ untuk dimuntahkan di Saudi Arabia.

Advertisements

Dua Tanda Tanya

pada siapa Islam dipasrahkan, negara atau pemeluknya?

Ada semacam cellular phobia (salah pencet; secular phobia) menjangkiti pola pikir dan hati muslim saat ini, dengan sendirinya akan mereduksi kejernihannya dan memaksa seseorang berpikiran negatif serta terlalu berhati-hati dalam penyikapan melalui pengedepanan asumsi bahwasanya sekuler adalah bla bla bla ila akhirihi.

Saya belum pernah ke Amerika (mimpipun tidak) tapi sudah terlanjur sering mengkonsumsi aura kebebasannya sebab hati inipun pada prinsipnya tak menolak untuk dibebaskan.

Amerika yang disinyalir dan terbukti sebagai negara sekuler ternyata malah menjadi markas hijrahnya ‘orang-orang buangan’ untuk mengakomodir karir maupun kebebasan dalam berperilaku keagamaan, sebut saja Anna Kournikova, David Beckham, Amina Wadud, Syeh Kabbani serta Abdullah Ahmad Na’im yang mengajukan penerapan negara sekuler dan menyatakan Indonesia cukup potensial untuk beranjak kesana.

Seorang alim melihat Islam justru ada di belahan barat yang menawarkan sekaligus menerapkan konsep in time lebih dari sekedar on time dan in line tertib antrian, kebersihan serta kedisiplinan yang merupakan indikator cerminan ajarannya.

Lain halnya kakak iparku yang kebingungan melihat tayangan berita seringnya tindak kekerasan fisik atau non fisik bahkan keduanya terhadap tenaga kerja wanita juga jamaah haji Indonesia di negera berbasis Islam.

Ini adalah fenomena jungkir balik yang menempatkan seorang guru besar mengambil jalan tengah lewat riset empiriknya, live in between fundamentalist and secularist-west n’ east-memunculkan jargon ‘Negara Sekuler Yes, Masyarakat Sekuler No’

Hatiku mendua manakala Hizbuttahrir menyajikan solusi kepemimpinan melalui konferensi khilafah internasional dan ketika Abdullah Ahmad Na’im dalam bukunya Islam dan Negara menegosiasikan masa depan syariah, menyerukan penolakan negara Islam yang malah menurutnya memunafikkan pemeluknya.

Sempat terbesit di pikiran nakalku ‘ngapain gembar gembor tentang khilafah dan mengupayakan perwujudannya toh nanti akan muncul di Baitul Maqdis seiring di munculkannya Imam Mahdi, kurang kerjaan tuh orang-orang Hizbuttahrir’. Tapi setelah 35 tahun melakoni hidup di Indonesia dengan carut marut model pemerintahannya, batinku mengatakan oke juga tuh HTI gak ada salahnya coba-coba): namun saat dinyatakan dalam arrohma.com bahwa konferensi khilafah mengundang khilafiyah saya jadi tertawa pada saat yang sama isi kepala ini menerima wacana masa depan syariah tidak usah sajalah diserahkan ke negara.

enough with one vagina

Cahyadi Takariawan
man behind the woman

Selagi membaca ‘Bahagiakan Diri dengan Satu Istri’ senyum akhwat si pembaca buku tersebut kelihatan manis sekali dan nampak jelas menggambarkan asli kewanitaannya.

Si penulis, Cahyadi Takariawan telah berhasil mengembangkan kembali senyuman para kader wanitanya yang sempat manyun untuk beberapa lama lantaran ketar-ketir (jangan-jangan) sang suami akan ‘mengoptimalkan’ kelaki-lakiannya.

Tapi tidak dengan para pentolan PKS yang rata-rata beristri lebih, mereka sama-sama menyayangkan terbitnya buku tersebut yang sudah terlanjur menjadi buku bacaan wajib para kader wanitanya. Lebih-lebih sang muallif adalah ustadz yang kredibilitasnya sangat diakui di majelis syuro.

ah, dunia ini tak pernah sepi dari isu poligami..

Lagi-lagi soal poligini-laki- laki dan kelibihan libiditas mencakup tak hanya urusan biologis tapi masalah sosial dan peneladanan serta semangat menjadi lelananging jagad dengan cara beristri lebih-terlalu sering dipaparkan kronologis sejarahnya, dikedepankan sisi maslahanya dan dijadikan patok ajaran (saya lebih suka mengatakan, tepatnya diprovokasikan untuk dilaksanakan) juga melulu dibicarakan baik diluar maupun didalam liqo’ sebagai wacana menantang untuk ditindak lanjuti.

Pada prinsipnya, kodrat kelaki-lakianku tak memungkiri wadah lain penyaluran tanpa musti dikompori dan dijelentrehkan secara normatif hak, kewajiban dan fungsi laki-laki. Dengan tanpa ada niatan baik mendukung maupun menafikan kandungan buku itu, saya cukup angkat topi untuk seseorang ustadz Cahyadi yang cukup berani mencerahi paradigma lama sebuah organisasi.