Dua Suami

Diam-diam aku mengagumi Sukarno, laki-laki yang ‘dinashkan’ pernah menjadi pemimpin bangsa sakit ini, Semasa mahasiswa sudi menikahi ibu kostnya, Inggid dan setelah jadi presiden menyunting Fatmawati, salah satu pengibar bendera pusaka.

Tidak demikian dengan pemimpin di zaman mekanik yang di penuhi digit angka ini, yang lebih suka main petak umpet atau kucing-kucingan kemudian bahkan uring-uringan jika disinggung soal pernikahan.

Adalah hal yang lumrah bahwasanya konsekuensi tertinggi menjadi pegawai negeri dimana beban hidup terkait dengan pembiayaannya ditanggung oleh negara, untuk cukup-maaf-hanya satu vagina. Dalam hal ini, poligini bagi laki-laki negeri menjadi hal yang tabu, wagu dan mengerikan.

Zaenal Ma’arif telah merasakan akibatnya, terpental dari posisi kepejabatannya dan terakhiri karir politiknya cuma karena melakoni bagian hidup kodrat lelaki sebagi seorang genito philia.

Sebaliknya sang presiden, mengatas namakan harga diri laki-laki pilihan negeri memungkiri pernikahan sebelumnya dan bahkan dengan mengedepankan hukum akan menuntut si penuding lewat jalur hukum tentunya. Just wait n’ see the big match, Derby!.

Polemik negeri ini telah merambah ruang paling privasi, yaitu kamar dan isi aktifitas didalamnya. Satu sisi, yang takut istri memberikan istri keleluasaan untuk berintervensi dalam memutuskan suatu keputusan, sebaliknya si pemberani memastikan istri bahwa ada ‘ranjang lain’ yang berhak untuk ditiduri meski dengan resiko terjaga dari tidur dan mendapatkan diri ditelanjangi, lepas dari atribut kepegawaian.

Walhasil, ujung dari permasalahan ini merupakan titik temu dua suami yang berpangkal dari kedua belah pihak istri. Yang tertuding kesandung dengan istri ‘tudingan’ pertamanya sedangkan si penuding yang beristri dua kesepak oleh atau sebab istri kedua tertuding.

Terlepas dari baju formalitas dan aturan main negara, bisa jadi kedua orang ini akan menyudahi pertemuan mereka katakan di warung kopi sambil sesekali melirik mbakyu penjualnya, saling berkata mereka bersautan, ‘Ojo rame ae kang! sampeyan iku koyok gak ngerti wong lanang’. ‘ Enggih pak pres, aku paham tapi tidak istri sampeyan!’.

2 thoughts on “Dua Suami

  1. trik kuno seperti ini memang sering digunakan buat menjatuhkan lawan, terutama di dunia politik. meskipun kuno, tp trik ini cukup ampuh. lihat, betapa habisnya kharisma seorang aa gym, hanya gara2 dia memutuskan buat berpoligini.

    berpoligini bagi seorang muslim bukanlah hal yg tabu. tp, dia akan menjadi “haram” oleh hukum sosial, bila sang muslim merupakan seorang tokoh. kesalehan bagi seorang muslim-tokoh, tidak cukup dengan terma agama saja, tapi juga harus mengikuti “maunya” masyarakat. ada sebuah hidden category bagi seorang tokoh, yakni “setia pada satu istri”.

    maka, bila handoko berniat menjadi seorang public figure, bersiaplah menahan diri untuk tidak perpoligini…. hehehe….

  2. Menarik sekali…
    Selain terkait dengan sifat dasar manusia / wanita yang tidak mau diduakan, hal lain yang sangat penting dicermati adalah apa yg dikatan Vison tentang – hidden category bagi seorang tokoh, yakni “setia pada satu istri”. Konsep “setia pada satu istri” ini merupakan doktrik/dogma ajaran kritiani tentang perkawinan monogami sampai mati memisahkan dua orang yg terikat dalam pasangan suami-istri. Bila dalam perjalanan perkawinan ada ketidak cocokan akut maka akan ditempuh pisah ranjang dan pisah rumah, tapi tidak bercerai. Nah doktrin inilah yang telah dipegang kuat oleh masyarakat barat kristiani dalam kehidupan sosial perkawinan mereka. Doktrin ini rasanya “bersesuaian” dengan selera wanita yang pada dasarnya tiak mau diduakan tadi – KLOP. Jadilah menggelinding ke seantero jagad tetang ajaran baru yang diresapi, diamini dan “diperjuangkan” dengan sepenuh hati. Sesungguhnya pendukung monogami/monogini bersandar pada apa kecuali selainkedua hal tersebut di atas. Apakah kita sudah menyadarinya bahwa sebagian kita telah mengagungkan ajaran/doktrik kristiani…tanpa reserve?
    Wallahualam bis sawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.