Jodoh

 

man-woman.jpg marry me and I’ll give you mine
Sepi ini membunuh perlahan bagiku dan bagi dua orang teman bujangan, like a cancer eats time after time, tak ada sapa lebih-lebih kata-kata, lebih tepatnya tidak ada patner untuk diajak bercengkerama atau beranjang sana ke negeri antaberanta (wrestland) sehingga mulut terbungkam diam tak berkata menjadi pasif dan terputus asa, tidak ada gairah; garing dan merana.

Terbesit dipikiranku untuk sedikit mengorek keterangan dari ragam pikiran banyak teman dari mulai yang designer, dosen, ustadz sampai staff kedutaan, pastinya akan menyajikan banyak tanggapan dengan resiko terjadi perbedaan.

Tentang keyakinan selama ini yang boleh dibilang cukup mengkaburkan pandangan dan memandegkan pikiran awam serta menjadikan banyak orang tak lebih domba gembalaan.

Tentang jodoh, sebagaimana dz yang dengan nakal menyusupkan opininya di kartu undangan pernikahan adik teman sepermainannya (itung-itung sebab budgetnya rendah jadi konversi rupiah dengan kata-kata). Yaitu kesepakatan dua insan adalah ketetapan-Nya. Ungkapan lain yang senada mustinya berbuyi begini ‘jodoh ada di tangan kedua mempelai dan Tuhan cuma membubuhi tanda tangan sambil bilang ‘okay, man! you may kiss the bride antum libaasul lahunna wa hunna libaasul lakum make love not war! bercinta sajalah jangan bercerai!

Pada buku biografi Gusdur, penerbit menyusupkan semacam ‘view bar’ bertuliskan kurang lebih ‘jodoh, rejeki, mati adalah rahasia Tuhan termasuk juga Gusdur!. Dengan tanpa menyadari political background fatalisnya Muawiyah banyak orang menjadi pasrah jabariyah sampai dalam ruang yang sangat privasi, kamar personal peraduan, pelaminan ketemunya dua jenis kelamin; jodoh!.

Dalam hal ini, saya lebih suka mempermasalahkan waktu, maksudku cuma masalah waktu kapan tautan biologis itu iltiqoul hitanain dan bukan pada siapa sang penentu, manusia sebagai pelaku atau Tuhan sebagai penentu. Lagian, bukankah penentu keputusan ya-gak/jadi- tidaknya yang berujung pada sebuah kesepakatan itu manusia juga, wanita dengan diamnya, laki-laki dengan ‘obat machonya’ dan orang tua dengan kerelaannya representatif keridhoan Tuhan ridhoallahu fi ridho waalidain.

3 thoughts on “Jodoh

  1. apa memang benar2 masalah waktu saja??
    apa memang benar2 tidak ada masalah lain yang bersangkutan dengan jodoh..?
    rasanya terlalu dangkal maknanya jika itu dihubungkan pula dengan iltiqoul khitanain, walaupun tidak bisa disangkal bahwa itu masih berada didalamnya.

  2. Nani iku sopo, Ndok?
    Bagaimana caranya mahasiswa tidak terlalu lama kuliah.
    Bila perlu setamat SMA sudah bekerja.
    Kuliah bisa dilakukan jarak jauh sambil bekerja.
    Pendidikan harus direvolusi…
    Sehingga si Nani nggak jadi langganan para mahasiswa tadi.
    Weleh3..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.