Month: July 2007

Dua Suami

Diam-diam aku mengagumi Sukarno, laki-laki yang ‘dinashkan’ pernah menjadi pemimpin bangsa sakit ini, Semasa mahasiswa sudi menikahi ibu kostnya, Inggid dan setelah jadi presiden menyunting Fatmawati, salah satu pengibar bendera pusaka.

Tidak demikian dengan pemimpin di zaman mekanik yang di penuhi digit angka ini, yang lebih suka main petak umpet atau kucing-kucingan kemudian bahkan uring-uringan jika disinggung soal pernikahan.

Adalah hal yang lumrah bahwasanya konsekuensi tertinggi menjadi pegawai negeri dimana beban hidup terkait dengan pembiayaannya ditanggung oleh negara, untuk cukup-maaf-hanya satu vagina. Dalam hal ini, poligini bagi laki-laki negeri menjadi hal yang tabu, wagu dan mengerikan.

Zaenal Ma’arif telah merasakan akibatnya, terpental dari posisi kepejabatannya dan terakhiri karir politiknya cuma karena melakoni bagian hidup kodrat lelaki sebagi seorang genito philia.

Sebaliknya sang presiden, mengatas namakan harga diri laki-laki pilihan negeri memungkiri pernikahan sebelumnya dan bahkan dengan mengedepankan hukum akan menuntut si penuding lewat jalur hukum tentunya. Just wait n’ see the big match, Derby!.

Polemik negeri ini telah merambah ruang paling privasi, yaitu kamar dan isi aktifitas didalamnya. Satu sisi, yang takut istri memberikan istri keleluasaan untuk berintervensi dalam memutuskan suatu keputusan, sebaliknya si pemberani memastikan istri bahwa ada ‘ranjang lain’ yang berhak untuk ditiduri meski dengan resiko terjaga dari tidur dan mendapatkan diri ditelanjangi, lepas dari atribut kepegawaian.

Walhasil, ujung dari permasalahan ini merupakan titik temu dua suami yang berpangkal dari kedua belah pihak istri. Yang tertuding kesandung dengan istri ‘tudingan’ pertamanya sedangkan si penuding yang beristri dua kesepak oleh atau sebab istri kedua tertuding.

Terlepas dari baju formalitas dan aturan main negara, bisa jadi kedua orang ini akan menyudahi pertemuan mereka katakan di warung kopi sambil sesekali melirik mbakyu penjualnya, saling berkata mereka bersautan, ‘Ojo rame ae kang! sampeyan iku koyok gak ngerti wong lanang’. ‘ Enggih pak pres, aku paham tapi tidak istri sampeyan!’.

Advertisements

Follow The Leader

‘Ikuti saja sang pemimpin’ adalah salah satu hit single sebuah band kafir amrik nu-metal, Korn. Dikait-kaitkan dengan pilkada ibukota Indonesia, lirik lagu tersebut cukup menempeleng wajah sebagian kita yang nota bene muslim yang sering berperilaku makmum tapi punya ambisi besar dengan bervisi sebagai imam (nada kecaman serupa bisa di dapat di lirik ‘Destroy one’s ambition’ by VOD voice of disorder).

Walhasil, muncul kecenderungan politis, yaitu menjadikan ataupun mendukung seseorang dengan kapabilitas serta mental makmum sebagai imam (baca; pemimpin). Sebut saja PKS dengan Adang Dorojatunnya dan Fauzi Bowo dengan PAN sebagai pendukungnya.

Entah karena Rupiah atau apa, beberapa tokoh Betawi memberi dukungan lewat kampanye iklan Tv dengan mencuatkan isu nasab keturunan. Demikian juga banyak selebritis sinetron Betawi-betawian menegaskan khalayak ramai untuk memilih pemimpin asli Betawi.

Rano Karno pun, yang brain image dan mind set nya sudah ‘Betawi’ habis rela mundur dari pencalonan orang nomor 1 DKI demi melapangkan salah satu kandidat asli Betawi meski kudu berani mengambil resiko tinggi di cap sebagai’ murtasyi‘ seiring maraknya isu beberapa milyar buat kompensasi.

Thus, trah putra daerah! laiknya orang Kauman yang diklaim paling berhak mewarisi darah biru Muhammadiyah atau priyayi Jombang yang hanya mampu dan layak mewarisi darah hijau NU.

Bisa diingat kembali, bagaimana orang Jakarta Din Syamsuddin yang mementahkan mitos Kauman Jogja dengan terpilihnya dia sebagai pucuk pimpinan Muhammadiyah dan Hasyim Muzadi yang asli Tuban mewarisi tahta dinasti Jombang. Keduanya toh bercokol dan berkantor di Jakarta.

Secara pribadi, kalau saya dipaksa memilih, saya berusaha untuk mengikuti pimpinan yang tidak memintah upah (naif bung! hari geene?), ironisnya zaman sekarang calon pemimpin tak cuma meminta upah tapi berani mengupahi banyak orang untuk memilih dia. Jadi kalaupun memilih, saya pilih Sujewo Tejo sajalah yang sukses menebarkan pesona ‘naudzubillah’.

Jodoh

 

man-woman.jpg marry me and I’ll give you mine
Sepi ini membunuh perlahan bagiku dan bagi dua orang teman bujangan, like a cancer eats time after time, tak ada sapa lebih-lebih kata-kata, lebih tepatnya tidak ada patner untuk diajak bercengkerama atau beranjang sana ke negeri antaberanta (wrestland) sehingga mulut terbungkam diam tak berkata menjadi pasif dan terputus asa, tidak ada gairah; garing dan merana.

Terbesit dipikiranku untuk sedikit mengorek keterangan dari ragam pikiran banyak teman dari mulai yang designer, dosen, ustadz sampai staff kedutaan, pastinya akan menyajikan banyak tanggapan dengan resiko terjadi perbedaan.

Tentang keyakinan selama ini yang boleh dibilang cukup mengkaburkan pandangan dan memandegkan pikiran awam serta menjadikan banyak orang tak lebih domba gembalaan.

Tentang jodoh, sebagaimana dz yang dengan nakal menyusupkan opininya di kartu undangan pernikahan adik teman sepermainannya (itung-itung sebab budgetnya rendah jadi konversi rupiah dengan kata-kata). Yaitu kesepakatan dua insan adalah ketetapan-Nya. Ungkapan lain yang senada mustinya berbuyi begini ‘jodoh ada di tangan kedua mempelai dan Tuhan cuma membubuhi tanda tangan sambil bilang ‘okay, man! you may kiss the bride antum libaasul lahunna wa hunna libaasul lakum make love not war! bercinta sajalah jangan bercerai!

Pada buku biografi Gusdur, penerbit menyusupkan semacam ‘view bar’ bertuliskan kurang lebih ‘jodoh, rejeki, mati adalah rahasia Tuhan termasuk juga Gusdur!. Dengan tanpa menyadari political background fatalisnya Muawiyah banyak orang menjadi pasrah jabariyah sampai dalam ruang yang sangat privasi, kamar personal peraduan, pelaminan ketemunya dua jenis kelamin; jodoh!.

Dalam hal ini, saya lebih suka mempermasalahkan waktu, maksudku cuma masalah waktu kapan tautan biologis itu iltiqoul hitanain dan bukan pada siapa sang penentu, manusia sebagai pelaku atau Tuhan sebagai penentu. Lagian, bukankah penentu keputusan ya-gak/jadi- tidaknya yang berujung pada sebuah kesepakatan itu manusia juga, wanita dengan diamnya, laki-laki dengan ‘obat machonya’ dan orang tua dengan kerelaannya representatif keridhoan Tuhan ridhoallahu fi ridho waalidain.

Man, Money and Marketplace

sebuah kontemplasi pasif inkam
Seminggu lebih kondisi aktualisasi diri memasuki stadium satu: payah dan menyebalkan, tak selembarpun tulisan keluar baik dari otak kiri maupun otak kanan.

‘Biarlah perut berbicara dengan bahasanya sebagaimana perut membiarkan uang menjejali kebutuhan dietnya’ celoteh sang omnivora mendasari libiditas belanja yang terus dirangsang oleh model baru bentuk penjajahan; konsumerisme.

Dunia iklan telah merambah juga menyusup sampai sumsum tulang kehidupan dan dunia sudah kehabisan celah untuk bisa menghindarinya, the more you hate the more you fall in love with. Iklan juga ada di sisi lain kehidupan, katakan akhirat, lihat persuasif surga dengan kemilau cahaya betis bidadarinya yang menyuarakan kesenangan tiada tara, more than just pleasure (plesiran orang jawa bilang) but bliss!. Preview surga begitu menggoda memaksa banyak orang untuk memperbanyak ibadah, inden mengkavling zona venusnya.

Marketing in Venus? mbel gedes, laki-laki cuma butuh pengakuan dan sedikit jadi kuasa dengan tanpa memungkiri ruang privasi (home), kaki transportasi (wheel) dan gradual ejakulasi (sex). Selebihnya (baca; sebagian besarnya) sudah dimaharkan kepada istri baik yang disimpan dalam hati atau yang jadi simpanan yang perlu ekstra hati-hati agar tidak di ketahui banyak orang.

Persetubuhan antara keinginan dan kebutuhan sudah mutlak dinisbahkan dan menjadi bentuk kepemilikan kuat perempuan, laki-laki hanya menjadi media penyenang karena uangnya untuk dihamburkan di pasar terluas dan terpanas, Venus!. Here is machoside of man’s life.

Lain contoh yang menjungkir balikkan konsep pemasaran yang menjadikan perempuan sebagai target sasaran adalah Simon Cowell, juri American Idol, dengan ketajaman kata-katanya ‘buat apa membeli seikat bunga kalau mampu membeli payudara’ menjadikannya sebagai preman pasar yang sukses mengobok-obok ranah wanita dengan tanpa bermanis kata membelikan bunga, artinya dia tidak mau menjadi ATM di dompet wanita.

Laki-laki, uang dan papan iklan adalah tiga deret kata bernyawa berafiliasi satu sama lainnya. Lewat iklan dia dapat uang dan dengan uang diapun bisa menuntaskan kelaki-lakiannya.