Makronah

Mie Goreng
Tak terbayangkan sebelumnya, mie goreng itu selalu menjadi salah satu menu utama sarapan kita. Hidangan ringan menyenangkan ini sudah cukup efisien untuk untuk dicerna menjadi kalori dikeluarkan tubuh berupa energi.

‘Pencernaan’ menu umum yang khas Cina ini, memaksa kita untuk mengapresiasi kemudian mengakui ‘Tionghoa’ sebagai referensi kulinari dan rujukan ilmu bela diri.
Kalaupun keberadaan hadits dhoif ‘utlubil ilma walau bissin’ benar adanya sebagai hadist bukan dari Nabi ( akal-akalane ulama), kandungan isinya pasti lebih dari sekedar Nabi memerintah ‘belajar masak mie dan membela diri’.

Karena Cina sudah jauh dikenal sebelumnya akan filosofi peradabannya, seni budayanya, dan akidah ke’Islamannya’. Tao, Yin-Yang tak perlu dijelaskan, saya takut dan tak ingin memunculkan kesan ‘Islam agama saduran*’ (ya Allah saya bukan anggota JIL). Ini murni imaji liar (dzon) yang memperdayai sisi jahat pemikiran. Tapi karena memang sebagian besar kosmologi Islam mengingatkan kita akan kosmologi Cina. Tao dengan wajah Yin-Yangnya adalah Taichi yang tak lebih merupakan Shidratul Muntaha Confucius sendiri yang mengatakannya. Bukannya saya menyandingkan memberi ‘wajah lain Islam’ tapi benar kalau Nabi memerintahkan berburu ilmu ke Cina bukan ke negeri asalnya tapi ke Dia ‘kota ilmu’ lewat Ali sebagai gerbangnya, karena di dalam Islam ternyata ‘Cina’ ada disana. Lebih dari itu, universalitas bawaan Islamlah yang menyadur, menyepuh, menggubah dan menyempurnakan lengkap dan meliput segala ajaran dan jurusan.

Menjurus ke Ilahian (ke kebenaran) banyak dan beragam cara sebagaimana aneka menu makanan bervariasi tapi tetap satu tujuan (God as a goal) is like to eat is to be Full. Mie dengan panjang dan zig-zagnya tak hanya menawarkan aroma serta rasa tapi selera perenungan (taste to illuminate), sedang capaian Ilahi mengantarkan pada tangga titian gapaian (stairway to God). Keduanya menyublim saling mencerahkan: dirasa lidah, direkam otak, ditampung perut dan dicerna hati yang berfikir (qolbun ya’qil).

* Sadur -pb kelihatan, keadaan (maksud tabiat) yang sebenarnya.
Menyadur-menyusun kembali tanpa merusak garis besar isinya.
mengolah (hasil penelitian, laporan) mengikhtisarkan.
Saduran -hasil menyepuh (sepuhan) menggubah (gubahan)
ringkasan, ikhtisar, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi tiga, hal, 976
Jakarta: Balai Pustaka

One thought on “Makronah

  1. Mie???? Wah, dadi kelingan Double Trouble. Tiap hari dihajar mie…Ronny, Ucang, NDOK, Pur, Petruk….kuabeh manusia mie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.