Heart

Hati
Bukan sebuah asumsi
Setelah sekian lama, 16 tahun yang lalu Gontor telah memaksaku untuk belajar (saya lebih suka mengatakan ‘menghapal’) kembali, satu dari sekian banyak alumninya ‘memaksaku’ untuk membuka Fathurrahman, swear! seumur-umur baru kali ini saya membukanya, kalo enggak karena ente ‘Ndra yang meminta.
Jadi ingat lagi ujian Fathul Munjid, keparat juga tu Abu Lewis dimana dia naruh kosa kata yang diujikan, setengah jam lamanya saya obok-obok tak kutemukan juga, dasar yahudi pintar! atau ustadz pengujinya saja yang kepintar2an (ana yg goblok) atau Gontornya yang keyahudi2an (dalam berbahasa Gontor merujuk ke yahudi, Munjid sebagai rujukan).
Hati yang dipermasalahkan sebenarnya telah lama menjadi sebuah kesepakatan, jadi mustinya saya gak perlu berhati-hati kalo ngomong soal hati, karena Al-Quran sendiri telah menegaskan, surat Al Haj ayat 46 semestinya jadi acuan: Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang didalam dada.
Yup, hati ternyata tak cuma bisa memahami, tapi juga bisa buta blind heart.
Heart, organ dalam dada yang memompa darah dan menyalurkannya keseluruh tubuh adalah jantung. Masih dengan kata yang sama, hati yang merupakan pusat perasaan seseorang terutama cinta adalah pusat dari sesuatu; isi, inti centre of something / al qolb: al lubb (oxford learner’s pocket dictionary p.194 / kamus Al Munawwir hal.1145/ kamus Al Bisri hal.609).
Sedangkan liver, organ besar didalam tubuh berfungsi membersihkan darah adalah hati ketika kamu sakit hati (bukan catu rasa) berarti kamu kena liver. Lain halnya dengan liver binatang yang jadi lauk makanan (atine kewan) hanya untuk nambah zat besi saya rela ‘makan hati’.
Otak, organ dalam kepala yang mengontrol pikiran, perasaan, ingatan dan intelejen, dengan demikian benak merupakan bagian dari otak seseorang dimana pikiran berada.
‘makanya pakai otak dong!’ ungkapan ini mungkin kurang lebih mirip dengan sumpah serapah ‘otakmu mana?!’ kurang berperasaan memang, karena hati tidak disertakan dalam penulisan, padahal kenyataannya hati terlibat dan memberi makna tak beda kalau saja ditulis ‘pakai hati dong!’ atau ‘dasar gak punya hati!’ ilustrasi ini menunjukkan betapa otak dan hati memiliki arti yang sama (al aqlu : al qolbu- kamus Al Munawwir hal. 957 / kamus Al Bisri hal.519 sedangkan al qolbu : al aqlu kamus Al Munawwir hal. 1146 / kamus Al Bisri hal. 609).
Atau gabungkan sajalah ‘pakai otak dan hati!’ (bahasa orang yang mengalah lebih karena saya menyerah)

One thought on “Heart

  1. g-mn sich Cara ngilangin rasa kezel kt ma org laen…
    aneh deh tiba-tiba koq teman2 w ngacangin w ya…??? kt-nya sich… w ithu tukang ngadu.. tp, w g tw salah w apha?? ngadu?? kapan…???
    w anak SMPN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.