disaster

Bencana
Aku sendiri terjebak dalam kata-kataku yang bikin aku muak. Coretan tentang bencana ini seolah menempatkanku menjadi orang pertama yang merasa menikmati mensyukuri adanya musibah, padahal kalau mau jujur jadi manusia ‘Siapa sih yang mau kena petaka?’

Pertanyaan lumrah lagi logis ini bisa menjadi indikasi ketidaksukaan akan ketetapan Ilahi, tak salah memang jika yang demikian akan memunculkan pertanyaan baru ‘Maunya apa sih Tuhan dengan semua bencana ini?’.

Meski bodoh, pertanyaan diatas aku yakini mewakili hampir semua pikiran orang-orang yang ketar-ketir akan kena musibah dan yang berkeluh kesah komplain dengan kebuntuhan berfikir, menyoal Tuhan mempertanyakan jawaban.

Tolak saja takdir! toh Nabi pun dalam hal ini melarang kita bertawakal berpasrah diri.

Aku menolak curah hujan tinggi di Malang Allahumma Hawalaina wala alaina untuk dipindahkan ke pegunungan bebukitan,perut bumi lembah ngarai, dan hutan belantara. Apa lacur, jangankan belantara, pepohonan di hutanpun telah tiada (yo tetep banjir).

Aku menyesali do’a yang Nabi ajarkan -meski masih sering keprucut aku lantunkan- lebih karena aku menolak jadi pawang hujan ‘reda disini-banjir disana’.

Menjadi asyik dengan bencana merupakan hal sulit untuk disosialisasikan lebih-lebih diterapkan. Tapi tak sedikit orang yang bisa melakukan, semisal bohemian, pegiat sufi, biksu atau orang semacam marlboro man yang mengalir ibarat air sungai, atau seperti seniman tak berkarya sebab dirinya dan kehidupannya cukup sudah jadi maha karya masterpiece. Bahkan bagi seorang penyair, bencana petaka musibah yang merupakan muara derita menjelma menjadi sebuah kebutuhan yang dimutlakkan baginya untuk menulis syair-syairnya, like a poet needs pain, like rose needs rain.

Sesulit apaun menikmati ‘siksa dunia’ yang ada, rasa-rasanya kok kita perlu belajar dan meneladani ‘sisi asyik’ mereka yang cuek dengan derita dunia.

One thought on “disaster

  1. nampaknya ente cukup piawai dalam mengemas kata2 menjadi sebuah ungkapan yang menarik dan cukup nyeni walau kadang agak membingungkan,mungkin juga karna keterbatasan pembaca dalam menafsir sebuah expresi dari jiwa yang unik dari seorang hamba Allah….ndok,tiada sebuah karya dari seorang manusia manapun yang melebihi karya Sang Pencipta yang darinya tercipta insan2 yang mengerti akan exsistensinya sebagai seorang HAMBA yang siap mengabdi kepadaNYA yang semata-mata mengharap ridho dan ampunanNYA,atau insan2 yang benar2 durhaka yang dengannya mengupayakan berbagai cara untuk mengaburkan dan kemudian memadamkan cahayaNYA,dan darinya pula memberikan peringatan akan siksaNYA yang amat pedih bagi ‘insan2 yang bukan ini maupun bukan itu’ alias…………mudah2an bukan kita…
    Cahaya Allah itulah AL-Qur’an,some people say it’s The Last Testament, The Guidance Book for Human Being,Sebuah Kitab Sastra Tertinggi,The OriginalOne,whatever,ialah sebuah Maha Karya dari Sang Pencipta Alam Semesta,dan tiada karya2 di dunia ini yang sebanding dengannya,namun sayang sungguh sayang sedikit diantara kita yang mau memahaminya…Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.