God’s Project

God’s Project
Membaca apa yang telah ditulis Heri Azwan, berarti sudi menangkap kesan, rela menerima pesan bahwa di abad 21 ini Tuhan telah meninggalkan manusia.
Kalau iya? Apa bencana menjadi indikasinya dimana sidik jari-Nya ada dimana-mana terutama di Indonesia yang nota bene enggak pernah mau berbenah yang selalu cuma mengandalkan ritual bid’ah gak ilmiah dan dianggap salah. Blame on Arifin Ilham! sebagi biangnya (itu orang memang kurang kerjaan, kenapa zikir saja musti dikomunalkan jamaatan, menjadi acara tv yang pada akhirnya menjadi semacam ‘case laundry’ cuci permasalahan.
Zikir kebersamaannya telah menggeser tak hanya personal uzla, magic khalwat, tapi juga do not disturb ‘privat tahannuts room’. Cuma perlu diketahui bahwa sesuatu yang plural dalam artian jamak tidak singular jika tertata dan terorganize tidak bisa kita pungkiri memang di anjurkan (nash) dan dianggap memiliki nilai lebih. Well managed tentunya menghasilkan well paid, sampai sini saya berfikiran jangan-jangan Arifin Ilham konsultasi dulu sama sang maestro manajemen MM, Akbar Zainuddin sebelum menemukan formulasi zikir bebarengan yang dianggap lebih afdol ketimbang dilakukan sendirian atau sesudah dia menemukan rujukan naqli (hadits qudsi) plus aqli yang dijadikan ayat pemback up itu kerjaan.
Human error dalam sebuah ‘proyek’ memang tidak bisa diperbaiki dengan cara menggoda Tuhan atau melobby lewat tawassullan sholawatan. Itbais sayiatal hasanata tamhuha kurang menjadi populer di ranah proyek basah ini karena memang tidak menguntungkan. Ali Zainal Abidin selaku pelaku pemberontak intelektual kali pertama dalam sejarah Islam atas faham fatalis Muawwiyah pastinya tidak rela Tuhan dilibatkan dalam kesalahan manusia.
Sesalah apapun manusia, lebih-lebih tidak berdaya untuk memperbaiki kesalahan infrastruktur yang dibuatnya (lebih-lebih dia gak bermental tukang reparasi, baca) satu sisi dia tak mampu melakukan perbaikan ya menjadikan sisi lain sebagi pelampiasan; Deal with the God.
Goddamn, I am so wise!
Didalam proyek Tuhan ini manusia mendapatkan peran utamanya, dari mulai sebagai arsitektur, pemborong, mandor sampai kuli bangunan. Sedang mahluk lain tidak lebih sebagai figuran. Bumi beserta isi dan goyangannya (earth quake) dan langit dengan curah hujan dan puting beliungnya (twister, katrina) menempati posisi sebagai dhorof makan (adverb of place) sedangkan kalender four seasons (barat) dan kemarau&hujan (timur) adalah dhorof zaman (adverb of time). Settingan waktu tempat ini pastinya punya pengaruh dalam proses perwujudan proyek ini, karena terkait dengan ‘kesalahan’ pasti ada hukuman dan hukum tentunya berubah menyesuaikan tempat dan zamannya.
Dalam mega drama ini setelah raising action, conflict tentunya ada diikuti climax (bukan orgasm) diakhiri falling action, setelah kesemuanya ini (grand design) lebih-lebih telah terjadi distorsi peran dan improvisasi berlebihan (guluw) apa iya Tuhan tega meninggalkan…dan berpangku tangan..bagaimana bisa seorang tukang/pembikin arloji meninggalkan profesi/pekerjaannya? kalau iya SO WHAT THE HELL GOD’S DOING RIGHT NOW? God is on vacation? Holiday in the sun (sex pistol) istawa fil arsy atau God wants to break free (queen) and get a cup of coffee?
Man, my eyes are too sleepy to watch that lazy God!

One thought on “God’s Project

  1. the writer is god damn brilian,where is the others?
    i hope the writer never stop his brilian words .
    thats all.
    but,can he share his fuckin’ brilian brain with me?
    i hope so……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.