Otentisitas v Modernitas

Posted March 6, 2010 by )x(
Categories: unbreakable

Secara leksikal, seantagonis apapun asumsi yang menyatakan bahwa Islam dan Muslim merupakan sumber persoalan karena ketidakmampuan mereka dalam melakukan adaptasi sosiologis dan kultural dengan realitas masyarakat Barat yang kristiani, sekuler, dan sedikit-banyak supremasis, itu perlu diyakini tanpa musti dibuktikan, sebab asumsi bukanlah anggapan atau jawaban sementara (hypothesis) yang masih perlu diuji kebenarannya.

Benar tidaknya ketidakmampuan umat Islam dalam melakukan adaptasi dengan dunia luar, sebenarnya dengan sangat mudah dapat diketahui dari bagaimana kecenderungan mereka dalam memposisikan diri, sebagai Muslim yang inklusif atau eksklusif. Sebab dengan memilih menjadi inklusif berarti dengan sendirinya umat Islam mampu menepis keraguan Barat akan ketidakmampuan mereka dalam berinteraksi dengan dunia luar. Sebaliknya, menjadi eksklusif berarti umat Islam merelakan diri untuk mendapatkan stigmatisasi sebagai Muslim yang mengisolir diri dan gagal dalam berasimilasi. Dalam ekslusivitas, Islam masih diperlakukan sebagai keyakinan dalam format lamanya meski zaman dan tempat telah berubah. Kebanyakan umat Islam kurang bisa mengerti. Mereka meyakini bahwa kandungan nilai-nilai Islam yang terangkum dalam ajaran-ajaranya musti dilindungi dengan tujuan agar tidak terkontaminasi.

Pertanyaan yang dapat dimunculkan terkait dengan sikap kehati-hatian umat Islam tersebut adalah bagaimana jika asumsi itu dibalik, bahwa Kristen dan Baratlah yang menjadi sumber persoalan karena ketidakmampuan mereka dalam melakukan adaptasi sosiologis dan kultural dengan realitas masyarakat pendatang yang islami dan cenderung inferior tapi menganggap diri rendah hati; low profile (tawadhu’). Konsekuensi logis dari pembalikan asumsi ini adalah adanya keyakinan sebaliknya bahwa Islam dan Timur itu egois, prejudis, dan takut terhadap dominasi dan hegemoni Barat dalam mengkukuhkan kekuasaan politik ekonominya melalui upaya westernisasi dengan agenda liberalisasi dan sekulerisasi yang dianggap dan bahkan diyakini berpotensi menggeser akidah Islam yang telah diyakini selama hampir 15 abad.

Kebenaran asumsi awal bahwa memang umat Islam tidak mampu beradaptasi atau mengadaptasikan Islam pada realitas sosial patut dicermati dengan cara mengenali faktor internal yang berperan dalam memuluskan kegagalan itu sendiri, yaitu ketidak berdayaan umat Islam di Barat dalam mengentaskan diri dari ketakutan terhadap interferensi negatif Barat sebagai buah dari asimilasi. Pemahaman umat Islam masih berkutat pada bagaimana menjadikan Islam sebagai filter atau perisai diri dan belum beranjak dari rigidnya pemahaman terhadap Islam itu sendiri. Fakta inilah yang mengantarkan umat Islam pada kekalahan dalam persinggungan sejarah peradaban.

Sebaliknya, dibalik keberhasilannya dalam mereduksi rasa takut terhadap kemungkinan kebangkitan Islam di Barat yang dianggap berpotensi menggeser political and economic powers yang telah diraihnya selama kurang lebih 200-an tahun, sebenarnya Barat telah memproklamasikan post power syndrome-nya.
Dari paparan diatas, diketahui dengan jelas bahwa dua kutub persepsi yang berseberangan akan terus mengalami kesulitan melakukan integrasi budaya, paham dan ideologi. Menguatnya corak Islam yang ideologis dan puritan cukup mengkhawatirkan. Diperlukan upaya kejelasan identitas bahwa Islam bukan Arab agar umat Islam mampu menyesuaikan Islam dengan kultur Barat. Nostalgia kemenangan Islam di Spanyol perlu direnungi sebagai kekalahan, terbukti dengan tidak diketemukannya sisa-siasa peninggalan kejayaan Islam disana.

Ada beberapa teori yang telah membahas fundamentalisme yang muncul di dunia Islam. Yang paling banyak dikutip adalah kegagalan umat Islam menghadapi arus modernitas yang dinilai telah sangat menyudutkan Islam. Karena ketidakberdayaan menghadapi arus panas itu, golongan fundamentalis mencari dalil-dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar. Jika sekadar “menghibur,” barangkali tidak akan menimbulkan banyak masalah. Tetapi sekali mereka menyusun kekuatan politik untuk melawan modernitas melalui berbagai cara, maka benturan dengan golongan Muslim yang tidak setuju dengan cara-cara mereka tidak dapat dihindari. Ini tidak berarti bahwa umat Islam yang menentang cara-cara mereka itu telah larut dalam modernitas. Golongan penentang ini tidak kurang kritikalnya menghadapi arus modern ini, tetapi cara yang ditempuh dikawal oleh kekuatan nalar dan pertimbangan yang jernih, sekali pun tidak selalu berhasil.

Teori lain mengatakan bahwa membesarnya fundamentalisme lebih didorong oleh rasa kesetiakawanan terhadap nasib yang menimpa umat Islam di Palestina, Khasmir, Irak dan Afganistan. Teori lain juga mengatakan bahwa maraknya fundamentalisme lebih disebabkan oleh kegagalan negara mewujudkan keadilan sosial dan terciptanya kesejahteraan yang merata.

Dari ketiga teori ini, nampak fundamentalisme dalam Islam maupun Barat Kristen baik secara praksis maupun teoritis menjadi penghambat terbesar terciptanya dunia yang lebih egaliter dimana Islam menjadi penyeimbang Barat dalam menghadapi rusaknya arus modernitas dan sebalikya Barat mampu menjadikan Islam sebagai penyeiring perjalanan modernitas yang ia ciptakan.

Jadi, tanpa harus menuduh Barat sebagai “biang kerok” dari terjatuhnya peradaban Islam-meskipun dalam beberapa segi bisa dibenarkan-upaya kritik diri lebih patut untuk dipertimbangkan. Sebagai contoh adalah keheranan pernyataan yang dibuat oleh Jamaluddin al-Afgani bahwa ia mendapati Islam di Barat dan bukan di Timur. Argumentasi Iqbal pun membenarkannya, bahwa Barat telah berhasil membangun ‘dunia’, tetapi gagal membangun ‘akhirat’ sedangkan Islam berhasil membangun ‘akhirat’ tetapi gagal membangun ‘dunia’.

Dengan demikian, otentisitas dan modernitas menjadi kata kunci permasalahan. Pada satu sisi umat Islam ingin menjadi modern, tetapi pada saat yang sama, mereka takut kehilangan identitas keislaman mereka. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi umat Islam. Dirasa perlu untuk mampu menjawab pertanyaan bagaimana bisa umat Islam menjadi modern tanpa Barat, mengingat modernitas adalah produk peradaban Barat.

Dengan jaminan bahwa modernisme, sekularisme dan materialisme yang berkembang baik di Barat tidak akan mengikis “tradisi suci” umat Islam, saya fikir pemahaman ulang terhadap paham-paham tersebut sekaligus memahami penyebab trauma Barat akan berdampak pada terkuranginya sikap defensif umat Islam terhadap Barat. Dari sini umat Islam akan mengenali kelemahannya sekaligus mengetahui faktor kemunduran yang bemula dari sikap menolak apapun yang berbau Barat, terutama produk-produk pemikirannya.

Pendeknya, meski tidak mudah, mewujudkan keharmonisan berarti menyelaraskan kesenjangan peradaban dengan cara membuang jauh ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Hal terpenting adalah bagaimana kita menjaga otentisitas keislaman dengan tanpa musti menghindari arus modernitas. Hal ini cukup menjelaskan posisi netral dan bahkan universal umat Islam yang sebenarnya (live in between): la syarqiyyah wa la gharbiyyah, mengingat Timur dan Barat hanya milik Allah semata.

When Love and Hate Collide

Posted February 14, 2010 by )x(
Categories: unbelieveable

Sepertinya, kata yang tepat untuk mewakili gambaran hubungan antara Islam dengan Barat adalah love and hate. Dan analogi tepatnya adalah sebagaimana persisnya hubungan Indonesia-Malaysia. Serumpun tapi tidak sama. Sama-sama pernah bersinggungan dan merasakan pahitnya torehan fakta sejarah yang membuahkan kebencian tiada tara (stronger than hatred) di antara keduanya. Korelasinya adalah kecintaan yang teramat sangat di masing-masing pihak, berbentuk narcissism malignant dalam keagamaan (ghulūw) dan chauvinism dalam berkebangsaan (hubbu al-wathan).

Pendek kata, Timur dan Barat: Islam dan Barat nampaknya sudah terlanjur diibaratkan bagaikan air dan minyak; sama-sama cair tapi beda simbol kimianya. Keduanya tidak bisa dipertemukan walau dalam wadah yang sama. Ekspansi Islam ibarat air bah, yang pada akhirnya surut juga. Sedangkan potensi dan supremasi Barat semisal minyak, bernilai politis-ekonomis tentunya. Sama halnya dengan air, pada akhirnya sumber minyak akan kering juga. Inilah hukum alam (natural law) dimana Tuhan membahasakannya sebagai sunnatullah dan sejarahwan secara fatal (jabariyah) menamainya sebagai ‘takdir sejarah’.

Permasalahannya, takdir tidak serta merta mutlak berada di tangan Tuhan. Pada dasarnya, Islam-Barat pun dilibatkan dalam penentuan takdirnya. Artinya, polemik hubungan antara keduanya bukanlah takdir semata yang harus diamini dengan kepasrahan. Terlebih, dunia adalah alam kodrat, dimana segala sesuatu mungkin berpeluang terjadi. Peluang itu adalah celah yang memungkinkan untuk bisa diisi dan dilakukan bersama-sama.

Sampai disini, saya menjadi pesimis terhadap fakta adanya upaya mempertemukan Islam dengan Barat, lebih-lebih kerjasama antara keduanya. Tidak sebagaimana yang telah sejarah paparkan, yaitu banyaknya upaya bijak dan signifikansinya dalam rangka mempertemukan Islam-Kristen. Kepesimisan saya bukannya tidak beralasan. Mengingat tidak hanya faktor kecerdasan dalam memahami alur dan fakta sejarah, tapi juga kedewasaan dalam menyikapi perbedaan yang terbungkus dalam keberagaman.

Meskipun ada, tapi itu tidak saya jumpai di kebanyakan umat Islam. Sebagaian besar kita, dapat dikatakan tidak paham sejarah (ahistoris) ditambah tidak dewasa dalam beragama, baik dalam pemikiran, penyikapan maupun memprilakukan keagamaan. Trend yang ada hanyalah kecenderungan untuk mengedepankan nostalgia kemenangan masa lalu. Bagi saya, ini adalah indikator keterbelakangan dimana rasa suka yang berlebihan terhadap kemenangan masa lalu tanpa disadari telah menyeret tidak sedikit umat Islam ke dalam kubangan ‘penderitaan manis’ masa silam (sweet misery). Pastinya, yang demikian ini bakal menjadi kendala besar dalam mentransformasikan kepahitan masa lalu (past perfect continuous pain) menjadi sebuah optimisme di masa yang akan datang.

Keoptimisan saya justru berada pada Barat. Masa lalunya sudah tergambarkan dan terprediksikan dalam al-Qur’an sebagai kemenangan yang gemilang di masa depan (lihat, al-Rūm:2-3). Barat, terlepas dari campur tangan Tuhan mampu menjadi pemenang. Mentalitas pemenang inilah yang menjadi acuan keoptimisan saya jika saja Barat mau menjadi pionir dalam menciptakan dunia yang lebih egaliter. Faktanya, banyak hal yang menunjukkan semestinya itu berada dan terjadi di dunia Islam, seperti budaya antri, kebiasaan tertib dan tepat waktu, terjaganya kebersihan, etika kesusilaan, pemanusiaan, rasa nyaman dari adanya keamanan, dan ekonomi ketuhanan. Untuk urusan ini, perlu diakui umat Islam gagal mewujudkan. Dan nyatanya, Baratlah yang memulai meski Islam lebih dahulu menyajikannya dalam bentuk ajaran.

Menjadi pertanyaannya adalah, apakah ajaran diciptakan untuk diyakini atau diaplikasikan. Intermeso kaitannya dengan ini adalah pada praktiknya umat Islam lebih suka mengatakan bahwa aturan diciptakan untuk ditinggalkan. Pendek kata, sebagian umat Islam adalah pecundang.

Seperti dalam konflik tak bertepi; Barat-Islam, sebagian umat Islam tidak pernah mau berusaha untuk jujur, untuk tidak mengatakan bahwa konflik yang berkepanjangan ini terjadi lebih dikarenakan adanya motif kepentingan agama. Apa perlunya agama melibatkan diri dengan memaksakan kepentingannya. Motif ini jelas tidak mempunyai relevansi dengan kalimah li i’lai kalimatillah. Sayangnya, sampai kini studi korelasi belum pernah dilakukan untuk menemukan hubungan motif kepentingan agama dengan slogan li i’lai kalimatillah. Saya fikir, dalam hal ini kritik pedas Hasan Hanafi terhadap kebanyakan umat Islam mendapatkan pembenarannya bahwa umat Islam selalu mementingkan dan mengedepankan hak-hak Tuhan dengan cara melalaikan atau mengesampingkan hak-haknya sendiri. Dalam bahasa sederhananya mendiang Gus Dur, memang benar Tuhan tak perlu dibela.

Dengan kata lain, sebenarnya motif kepentingan agama hanya dijadikan kedok belaka, untuk menutupi kefanatikan etnik (racialism), perasaan bangga berlebihan terhadap superioritas bangsa (the pride of being Arabian), dan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan serta kursi kekuasaan (political and economy powers).

Tidak seperti kebanyakan umat Islam, Barat lebih jujur menyuarakan kepentingan mereka yang dapat dibilang lebih suka mengesampingkan peran agama, mengingat Barat sendiri pernah mengalami trauma tidak hanya dengan gereja tetapi juga dengan teks-teks yang termaktub dalam kitab suci mereka.

Love not Dead

Posted January 5, 2010 by )x(
Categories: untouchable

“A word is dead when it is said, some say.

I say it just begins to live that day.”

(Emily Dickinson, 1830–1886)

Some say a word is dead when it is said. Unlike that saying, Emily Dickinson (1955) seems to revise ‘her own dead word’ through the belief of poetic saying that is to live that day with or without word. Perhaps, love is a reason to live. Love is more than a word. It is a word which is better to do rather to say. In other words, I can say that it is great to live with or without love.

Some words in the English language tend to be overused and therefore lose their power.  These are called Dead Words such as the word also. Also is dead when it is overused to say or to write. More interesting alternatives that should be used in its place are too, moreover, besides, as well as, and in addition to instead. The question might rise up is the word love dead word?

The same destiny may occur on the word love. The assumption that overused word will reduce its power and finally lose it. Due to its frequent use, even a scared word like love may face the bitter fate. Love will eat its self, nothing left.

Lexically, Oxford Illustrated American Dictionary (1998) and Merriam-Webster Collegiate Dictionary (2000) define that love is any of a number of emotions related to a sense of strong affection and attachment. The word love can refer to a variety of different feelings, states, and attitudes, ranging from generic pleasure (“I loved that meal”) to intense interpersonal attraction (“I love my husband”). This diversity of uses and meanings, combined with the complexity of the feelings involved, makes love unusually difficult to consistently define, even compared to other emotional states.

The English word “love” can have a variety of related but distinct meanings in different contexts. Often, other languages use multiple words to express some of the different concepts that English relies mainly on “love” to encapsulate; one example is the plurality of Greek words for “love.” Cultural differences in conceptualizing love thus make it doubly difficult to establish any universal definition (Paul Kay, 1984: New Series 86 (1): 65–79).

Greek’s cultural view distinguishes several different senses in which the word “love” is used. For example, Ancient Greek has the words philia, eros, agape, storge, and xenia. However, with Greek (as with many other languages), it has been historically difficult to separate the meanings of these words totally. At the same time, the Ancient Greek text of the Bible has examples of the verb agapo having the same meaning as phileo.

In addition, the Latin language (Ancient Roman) has several different verbs corresponding to the English word “love.” Amāre is the basic word for to love, as it still is in Italian today. The Romans used it both in an affectionate sense as well as in a romantic or sexual sense. From this verb come amans—a lover, amator, “professional lover,” often with the accessory notion of lechery—and amica, “girlfriend” in the English sense, often as well being applied euphemistically to a prostitute. The corresponding noun is amor (the significance of this term for the Romans is well illustrated in the fact, that the name of the City, Rome—in Latin: Roma—can be viewed as an anagram for amor, which was used as the secret name of the City in wide circles in ancient times), which is also used in the plural form to indicate love affairs or sexual adventures. (Thomas Köves-Zulauf, Reden und Schweigen, 1972)

Whilst, Paul Oskar Kristeller, (1980) in Renaissance Thought and the Arts: Collected Essays asserts that as an abstract concept, love usually refers to a deep, ineffable feeling of tenderly caring for another person. Even this limited conception of love, however, encompasses a wealth of different feelings, from the passionate desire and intimacy of romantic love to the nonsexual emotional closeness of familial and platonic love to the profound oneness or devotion of religious love (Juan Mascaró, The Bhagavad Gita 2003).

Love in its various forms acts as a major facilitator of interpersonal relationships and, owing to its central psychological importance, is one of the most common themes in the creative art. Such as in a lyric of the song, the word love exists in the form of freedom of expression. One side, love becomes a wild word lives in the wild world. In other side, love is just an alternative word to use. And again, that word will end and rest in peace in the recycle bin.

Joe Tempest, singer of Europe, 80s rock band defines that the word love is no more of the other words to say. He states in the single hit; Prisoner in Paradise that love is just another word to say. Unlike Tempest, Antony kiddies (Red Hot Chili Pepper) believes that love is one of the hottest words ever exists in the world; the hottest word in the world.

Recently, love is a hard thing to find it cannot be reached even in the dating service or short message service; chat n ‘date. In contrast of a flamboyant rock star, who likes to spit words of love and place it like the other words, sacredly the word love becomes so hot; hotter than hell and being enfolded inaccessible. The easy thing associated with the word love is enough to acclaim.

As if it is associated with Qur’ban day, definitively, that emerges a definitive clarification of the word love is synonymous for sacrifice, the love is sacrifice, which is usually a minimum initial phases of hurt feeling as Abraham sacrifices his feelings to sacrifice his own beloved son; love is sacrifice, or to love is to sacrifice. The keyword for gaining the love is willingness to commit to kill a sense. Ironically, Rhoma Irama objects how it can happen while he agrees on what Nazareth reveals; Love hurt. For that reason, it is better to save love just in a word not in the real world. Sage advice of guitarist Brian May (Queen) confirms that too much love will kill you.

Along the way, in the conditions of present text, love has found its foreign formations. Along with the development and the changing times, love has entered the gates of the heart mix with almost no sense. There are circumstances that force people to learn to love; learn how to love and forget how to hate, so if you fall in love for the umpteenth time, there is no love song to play but love to make with no taste. Bin Hard, love observer in one of his essays asserts that there is no involvement of emotional feeling in the era of the numbers when love is measured in digital boundaries.

Currently, the level of love does not need to be clarified with the question; How your deepest love? (Beatless). Question will only bother the romance. Certainly, that hinders the love travel and marriage. Love does not have to be clearly expressed; There is a hole in my heart that can only be filled by you (Gary Cherone, Extreme: Love Song, 1991) or You always have a place within my heart (Mike Tramp, White Lion: Till Death Do Us Apart, 1989).

In my point of view, today love is to be a regular thing. Love is not as bombastic as Qais al- Qorni or laila Majnun’s love. Unlike Zuleika’s spectacular love to Joseph,  love is the practically simple thing in the end. Finally, love does not need strangely juxtaposed with Rabiah al-Adawiyah’s love. For Rudi Sujarwo, love is an inspiring for title of his film Ada Apa dengan Cinta and for a mama, love is her daughter called Laura.

Those are the end of love in the term of real love world. Simply, the death of love may because of the absolute value loss. Betrand Russell describes love as a condition of absolute value as opposed to relative value. As if it is overused and abused, perhaps love is one step closer to its grave. Yet, as a word love is love that cannot be replaced or substituted by interesting alternatives that should be used in its place.

In short, the fact shows that the death of love wordily never appears. Love is not dead but Cupid is dead.

Sholat Ied

Posted November 28, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Disfungsi Masjid di Waktu Sholat Ied

Ketika praktik sholat sudah tidak mengindakan tempat, untuk sesaat fungsi masjid pun tergantikan. Lapangan, tanah kosong, halaman kampus, parkiran pertokoan dan jalan raya seolah menegaskan kullu ardhin masjidun bahwa bumi adalah tempat bersujud, persetan beralaskan terpal, kerdus ataupun koran.

Kemaren, sewaktu pengorbanan dirayakan didahului dengan ritual tahunan: sholat Ied, dimana takbir dikumandangkan sunnahnya di luar ruangan, disitu boleh jadi senandung gema ilahi menjadi tak tersekat atap internit masjid, tak terhalang dinding dan tak terbentur tembok bangunan yang disucikan.

Kondisi demikian seakan memberi pesan mustinya sesekali dalam setahun umat Islam wajib berdemonstrasi, unjuk gigi akan pentingnya kebersamaan, memamerkan prestasi persatuan yang dipandang masih terlalu jauh dari harapan, atau paling tidak reuni tahunan outdor ini menjawab kecemasan Muhammadiyin -bahwa bumi Allah itu luas- untuk tidak perlu khawatir terhadap meningkatnya populasi bani Adam dan menjamurnya industrialisasi yang mempersempit luas tanah, sehingga kekhawatiran dimana sholat Ied akan diadakan terkurangi seiring dengan keyakinan mereka bahwa mengikuti sunnah -dengan menyelenggarakan Ied di tanah lapang- berarti meninggalkan bid’ah.

Prakmatisnya, masjid adalah sebidang tanah komplit dengan bangunan serta fasilitasnya, dimana mestinya imam dan makmum menjadi betah ketika beribadah di dalamnya. Semantisnya, masjid adalah sedepa tanah tempat bersujud dimana umat Islam masih merasa perlu mengalasinya, dan itu bukan cuma sajadah tapi juga koran yang terkadang potret Julia Peres dengan senyuman menggodanya ada disana. Walhasil, sholat yang dirayakan waktu itu luarbiasa! Khatib kepanasan raut mukanya, tidak hanya oleh terik matahari yang mulai menyapa tetapi juga ulah para peserta sholat yang memilih lebih suka menatap dan bahkan membaca koran alas sajadahnya.

Puasa

Posted August 26, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Tidak ada yang istimewa dalam 3 hari puasa ini. Seperti yang sudah-sudah dikebanyakan kota, puasa telah menjadi bentuk lain sebuah hura-hura. Tidak sesunyi hari nyepi walau cuma sehari. Padahal secara generik puasa itu berarti nyepi. Faktanya, keramaian itu selalu berlangsung lama sampai 30 hari.

Belum lagi keluh-kesah mbok Yem, yang sukses memberi definisi lain tentang puasa; bahwa puasa adalah naiknya harga cabe keriting!. Senada dengan itu, puasa yang menurutku adalah pengiritan ternyata realitas sosial mampu mengubahnya menjadi pemborosan.

Ditambah, lagi-lagi FPI tak mampu mengendalikan diri untuk tidak menjadi Zabaniah dan Malik sang penjaga neraka. Maka lengkap sudah judul puasa ketika ditinjau dari segala aspeknya.

Policonomy

Posted July 30, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Good News or Bad News?
Dikabarkan seorang kawan, sebut saja Fulan akan segera dilantik bulan Agustus ini menjadi DPRD Malang.
Sambil tertawa dia menjawab pertanyaanku, kerjaannya apa?. Rapat!, setuju dibayar gak setuju juga dibayar, katanya.
Pertanyaan berikutnya yang enggak mungkin kutanyakan adalah apa yang kubingungkan kenapa orang begitu terpesona dengan profesi satu ini. Jika dibandingkan dengan kerjaannya kawan yang lain, yang motret sana motret sini: motret dibayar gak motret pastinya gak bakal dibayar, Fulan telah melakukan kemenangan finansial tapi ketika ketidaksetujuannya tidak berdampak pada tidak dibayarnya dia, ia telah dikalahkan oleh kemenangannya sendiri. And it’s mourning glory!
Plato boleh jadi benar dengan perlunya berpolitik dengan alasan daripada dipolitiki tapi ketika kita tahu bahwa politikus itu adalah teman kita sendiri bisa jadi kita menjadi risih di satu sisi, pada sisi lain kerisihan itu tidak membantu sama sekali dalam mengentaskan permasalahan ekonomi yang besar kemungkinan ia lagi hadapi. Dalam hal ini, Fulan menjadi begitu Marxis. Idealnya, ekonomi cuma pemicu awal. Faktanya, ia punya masalah dengan psikologi. Jadi ini adalah kabar bagus untuk kepul asap dapur sekaligus kabar pilu untuk kejiwaan yang sulit diobati.

Bulan

Posted April 20, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Bulan

diatas perbatasan Tuban-Lamongan

Sepertinya, perintah kakak iparku untuk membuka jendela merupakan awal tersingkapnya tabir yang menutupi mata malasku. Dengan susah kubuka daun jendela itu, sehingga tanpa sengaja kujatuhkan paku grendelnya. Konsekuensinya adalah untuk mengambil itu grendel aku musti melompati jendela. Walhasil, tidak cuma paku grendel yang kudapati, tapi bentangan luas pemandangan langit pagi hari. Satu yang menggoda di dalamnya adalah bulan purnama yang nampak tepat didepan mata.

Awalnya, biasa saja. Akupun tidak terkesima melihatnya. Tidak seperti Agus Mustafa yang terkesima di sidratul muntaha. Mata awamku mengatakan bahwa bulan sama saja, selalu menampakkan wajah kemayunya.

Tapi tidak di pagi itu, Minggu pagi usai subuh (12 April 2009). Tuhan berbaik hati menampakkan banyak sketsa wajah di kanvas bulan purnama-Nya.

Wajah imam Mahdi, The Last Savior yang ingin kubuktikan sebagaimana yang dilansir di www.theallfaith. com. Wajah imam ke dua belas dari keturunan Nabi yang nampak di bulan virtual sebuah situs spiritual nyaris tak kutemukan (di situs itu, ‘wajah bulan’ imam Mahdi nampak seperti wajah Nicholas Cage dalam Con Air). Alih-alih mengenali wajahnya, yang kudapati malah sketsa wajahku sendiri, wajah seorang mahasiswa sastra tahun 97an.

Ketidakpercayaanku akan apa yang baru kulihat tidak mengurangi nocturnal vision yang bisa melihat dalam cahaya terbatas atau redup. Terlebih, temaram kekuningan bulan pagi itu seperti cahaya lampu baca, memperjelas gambaran sketsa. Upayaku dalam mempertegas kemustahilan dari apa yang terlihat dengan cara mengucek-ucek mata, berpaling, dan melengos tidak menghasilkan apa-apa. Dengan kata lain, mataku untuk kedua kalinya menyaksikan hal yang sama, yaitu sketsa wajah mahasiswa yang masih perjaka. Dengan demikian, keniscayaan akan adanya penampakan bisa ditangkap baik oleh mata yang sehat maupun oleh mata yang katarak. Permasalahannya adalah seberapa malas mata seseorang bekerja, mengirim image ke otak secara utuh, separuh, seperempat atau tidak seper berapapun. Dan pastinya, jawaban sementara berupa hipotesa tidak adanya penampakan itu lebih dikarenakan kebanyakan mata umat Islam menderita amblyopia

Belum sempat tertuntaskan kegamanganku, di bulan itu nampak silih berganti dalam hitungan detik beberapa wajah asing, tak kukenali. Mimik mereka mengekspresikan keadaan yang sama; tenang dalam keterasingan, mempresentasikan wajah para ghurabā’.

Tidak berselang lama, nampak muka beberapa wanita, berkerudung tentunya. Aku berharap itu adalah sketsa wajah istriku dan wajah pacar-pacarku dulu. Tapi harapan tinggal harapan, selebihnya adalah kata asa yang mencari kata depannya: putus. Maka akupun berputus asa, sebab dunia eskatologi tidak mengenal kacamata, sedangkan mata istriku minus 9 dan berkaca mata tebal pastinya.

Penampakkan tidak berhenti seiring kekecewaan yang kudapati. Sebuah sketsa wajah dengan mulut terbuka lantaran tertawa seolah menertawaiku. Cukup menggelikan, lebih-lebih muncul selanjutnya wajah sang Lovin’ Jah, Bob Marley dengan rambut gimbalnya. ‘Gila’, umpatku. Aku melihatnya dengan kesadaran penuh, bebas dari ekstasi khayali minuman, obat ataupun ganja. Kesadaranku memaksaku utuk tetap terjaga. Aku tidak sedang mimpi atau memimpikan sesuatu, yaitu wajah-wajah yang menghantuiku, sebut saja penampakan berikutnya adalah wajah sang ilmuwan gila, Einstein, kemudian Che Guevara, dan wajah dingin sang teroris Imam Samudera.

Nampaknya, slide terus menggelinding begitu saja. Tidak semua terekam jelas. Ketidakfamiliaran wajah, keterasingan dan bisa jadi banyaknya wajah yang bermunculan silih berganti seakan memaksaku memasuki studio foto dimana banyak foto di pajang. Dan mataku lelah.

Lelah menatap bulan diatas perbatasan Tuban-Lamongan, yang menunjukkan durasi pendek sebuah tayangan yang berakhir dengan kesimpulan bahwa menyaksikan bulan itu lebih enak dari pada melihat istri kesakitan disaat datang bulan.

Cinta

Posted January 5, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Cupid is Dead

Aphrodite in Heat

Pengertian kata cinta bagi Joe Tempest, vokalis Europe, band rock 80-an adalah tak lebih sebagai kata lain untuk diucapkan. Ia bilang dalam single hitnya; Prisoner in Paradise bahwa Love is just another word to say. Nampaknya, ini sangat bertentangan dengan apa yang diyakini Antony Kiddies (Red Hot Chili Pepper) bahwa cinta merupakan satu kata terpanas yang pernah ada di dunia; the hottest word in the world.

Dalam pencariannya, cinta menjadi sangat sulit untuk ditemukan, terlebih di biro jodoh ataupun di layanan short message service; chat n’ date. Tidak sesemudah seorang rock star yang flamboyan, yang suka mengumbar kata cinta dan menempatkannya tak ubahnya sebagaimana kata-kata lainnya. Atau kebalikannya, saking sakralnya, kata cinta malah menjadi begitu panas; hotter than hell sulit dijangkau dan direngkuh. Hal termudah terkait dengan kata cinta adalah sekedar cukup untuk diaklamasikan.

Dan jika dikaitkan dengan hari raya Qur’ban, tentunya yang muncul adalah kejelasan definitif kata cinta yang memang identik dengan pengorbanan, yakni cinta adalah pengorbanan, yang biasanya fase awalnya berupa minimal korban perasaan sebagaimana Ibrahim as yang mengorbankan perasaannya atas perintah penyembelihan anak kinasihnya sendiri; love is sacrifice atau to love is to sacrifice. Kata kunci sukses tidaknya mereguk cinta adalah berani mengambil sikap membunuh rasa, meski Rhoma Irama bilang,”Teganya-teganya” mengamini Nazareth dalam lagunya; Love Hurt. Sebab yang demikian itu lebih baik dari pada berlebihan dalam bercinta seperti halnya nasehat bijak gitaris Brian May (Queen); too much love will kill you.

Dalam perjalanannya, cinta di kondisi teks kekinian telah menemukan formasi asingya. Seiring dengan perkembangan maupun perubahan zaman, cinta telah memasuki gerbang paduan hati nyaris tanpa rasa, yang ada adalah situasi dan kondisi yang memaksa orang untuk belajar mencinta; learn how to love and forget how to hate, sehingga seseorang jika lagi jatuh cinta untuk kesekian kalinya, yang ada bukannya nyanyian jatuh cinta berjuta rasanya tapi jatuh cinta aduh betapa tidak ada rasanya. Bin Hard, pemerhati cinta dalam salah satu tulisannya menyebutkan ketidakterlibatan emotional feeling di era angka-angka ketika cinta diukur dalam batasan digital.

Saat ini, kadar cinta tidak perlu diperjelas dengan pertanyaan; how deepest your love?(Beatless). Pertanyaan hanya akan merepotkan proses percintaan, menghambat perjalanan dan pastinya memperlambat jenjang pernikahan. Cinta tak perlu jelas diekspresikan; there is a hole in my heart that only can be filled by you (Garry Cherone, Extreme: Love Song, 1991) atau you always have a place within my heart (Mike Tramp, White Lion: Till Death Do Us Apart, 1989).

Dalam pandangan kaca mata kuda saya, hari ini cinta menjadi hal yang biasa, tidak sebombatis cintanya Qais al-Qarni ataupun Laila Majnun. Cinta adalah hal yang boleh dibilang sederhana pada akhirnya, tidak sesepektakuler cintanya Zulaika kepada Yusuf as. Dan rasa-rasanya, cinta gak perlu disandingkan dengan cinta anehnya Rabiah al-Adawiyah. Sebab menurut Rudi Sujarwo, cinta adalah nama dalam filmnya; Ada Apa dengan Cinta dan bagi seorang mama, cinta adalah anaknya yang benama Laura.

God’s Words

Posted December 18, 2008 by )x(
Categories: untouchable

Katanya Tuhan

Meminjam kata-kata Tuhan

Komunikasi menjadi terhenti saat kata-kata Tuhan dipinjam dan dijadikan jubir pamungkas guna mengakhiri perbincangan yang mustinya panjang dan melelahkan rajutan saraf-saraf pengucap.

Dalil-dalil naqli itu lagi-lagi diposisikan sebagai pembungkam mulut lawan bicara, yang kalau diibaratkan sebagai menu makanan, teks tak ubahnya selalu menjadi makanan penutup yang mengenyangkan sesaat, meninabobokan otak dan menidurkan.

Tak sedikit orang yang suka mengobral kata agama, membuka kata melalui katanya Tuhan dengan tanpa disadari bahwa yang demikian merupakan tindakan lisan yang tidak menginginkan kelanjutan bahasan. Sebuah penutup yang terburu-buru dikedepankan (istinbath muqoddam), membuka kata sekaligus mengakhirinya dengan cukup sekian, sebagai akhir kata dari sebuah paragraf yang belum terselesaikan. Kata-kata Tuhan berubah menjadi sebatas iftitah sekaligus ihtitam. Pepatah Arab mengatakan qolla wa dalla, saya lebih suka mengatakan air beriak tanda kurang dari dua kula: memakai kata-kata langit lebih dikarenakan kehabisan kosa kata bumi.

30 tahunan yang lalu, tepatnya waktu benak fikiran saya masih dipenuhi dengan uforia sorga-neraka dimana teks adalah dalil suci yang jika dikumandangkan oleh seorang da’i menjadi sangat memikat hati, mempesona dan mempengaruhi seorang anak untuk semangat mengaji (belajar baca al-Qur’an). Sekarang, rasa-rasanya teks itu terlalu suci sebagai kata terucap Tuhan untuk diucapkan lagi meski oleh seorang da’i lebih-lebih oleh seorang akademisi. wa qolaallahu ta’ala fi al-Qur’an al-kariim ila akhiri al-ayat untuk keadaan saat ini merupakan rentetan keterasingan ucapan yang pada akhirnya hanya akan mengantarkan mitra tutur berada pada dua kondisi: pertama, terdiam dengan kebenaran kalam yang telah tuntas dituturkan dan kedua, justru akan mengantarkan pendengar pada rasa takut atau sebaliknya, malah akan membikin dia mengantuk.

Lepas dari ketidakmampuan diri untuk sejenak melepaskan diri dari teks, agar sedikit bisa leluasa berlogika dalam bertutur serta meracik dan merangkai kata dengan pemilihan diksi kata yang tepat (orang Jawa bilang biar gayeng marem) akan membikin lawan bicara merasa dilibatkan dalam pembicaraan tanpa musti merasa seolah digurui atau diludahi dengan nash al-Qur’an. Sebab yang demikian itu bukanlah hal yang salah dalam membahasakan sebuah dakwah. Kallimu an naas biqodri lughotihim dengan tidak menjejali mereka dengan yang bukan bahasanya.

Kalaupun kebanyakan kita mengabdikan diri di biro jasa layanan agama, dengan tidak menafi’kan balligū annī walau cuma satu ayat, semestinya kita perlu menghindari peminjaman kata-kata Tuhan sebagai pilihan awal untuk diucapkan, lebih-lebih hanya sekedar sebagai basa-basi ucapan mujammalatu al-kalam.

Romadhona & Romadhoni

Posted September 12, 2008 by )x(
Categories: untouchable

kekacauan afiksasi

Usai Tarawih, tepatnya saat melafalkan niat puasa, secara spontan berhenti pada kata Romadhoni. Sanggahan cepat dengan sedikit bentakan keluar dari mulut seorang istri yang saya imami. “Romadhona” katanya ketus. Sebuah koreksi datang dari yang bukan ahlinya tentunya, lantaran ia cuma seorang akhwat (jama’ yang dimufrodkan) hasil tempaan Halaqoh Tarbiyah yang berlatar belakang Manajemen Agri Bisnis. Dan saya pun bertanya-tanya? .

Guyonan populer yang muncul selama ini, selalu sama di bulan puasa. Yaitu argumentasi kejelasan lafadz niat. Kata Ramadhan berakhiran ‘a’ atau berakhir dengan ‘i’, Romadhona atau Romadhoni?. Ujung-ujungnya berupa jawaban ketergantungan, tergantung siapa yang melafalkan. Kalau perempuan Romadhona, kalau laki ya Romadhoni sebagaimana nama Maddona yang kurang lebih berarti Dona yang gila atau Dona yang lagi marah. “Jadi kamu gak usah marah lebih-lebih menjadi gila kalau saya ucapkan bukan Romadhona” saya menceramahinya.

Ada alasan kebahasaan berkait erat dengan pengucapan kata Ramadhan. Memang Ramadhan ber-suffix ‘i’ tidak sepopuler Ramadhan berakhiran ‘a’. Yang paling aman adalah meniadakan kedua akhiran, yang kalau dinisbatkan pada guyonan Dona-Doni, bisa dikatakan menjadi sebagai pengaburan kesetaraan gender. Meminjam istilah fashion dalam revolusi berpakaian adalah unisex, yang berarti bisa laki-laki bisa perempuan. Sehingga yang muncul adalah semacam Nur Ramadhan, nama seorang reporter SCTV Malang atau Muhammad Romdhon, nama sekjur Bahasa Arab Universitas Negeri Jakarta atau seperti Prof Mahmud Yunus dalam kamus Arab-Indonesianya yang tidak mencantumkan tanda baca akhir pada kata Ramadhan. Dalam hal ini keindahan rhyme, bunyi suara yang berakhir sama, sama sekali tidak diindakan dan cenderung dikesampingkan. ..an ada‘i fardhis syahri romadhoni hadihis sanati..yang ada selama ini hanyalah Romadhona tanpa lebih dahulu mengetahui bahwa Ramadhan adalah bukan ism ghoiru munshorif.

Lebih aman lagi adalah menghindari pelafalan niat dengan cara nggeremeng hewes hewes haus haus atau ngedumel dalam hati (hati yang bicara) innamal a’malu binniyah dan niat gak perlu dikumandangkan terlebih digembar-gemborkan.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.