Puasa

Posted August 26, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Tidak ada yang istimewa dalam 3 hari puasa ini. Seperti yang sudah-sudah dikebanyakan kota, puasa telah menjadi bentuk lain sebuah hura-hura. Tidak sesunyi hari nyepi walau cuma sehari. Padahal secara generik puasa itu berarti nyepi. Faktanya, keramaian itu selalu berlangsung lama sampai 30 hari.

Belum lagi keluh-kesah mbok Yem, yang sukses memberi definisi lain tentang puasa; bahwa puasa adalah naiknya harga cabe keriting!. Senada dengan itu, puasa yang menurutku adalah pengiritan ternyata realitas sosial mampu mengubahnya menjadi pemborosan.

Ditambah, lagi-lagi FPI tak mampu mengendalikan diri untuk tidak menjadi Zabaniah dan Malik sang penjaga neraka. Maka lengkap sudah judul puasa ketika ditinjau dari segala aspeknya.

Policonomy

Posted July 30, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Good News or Bad News?
Dikabarkan seorang kawan, sebut saja Fulan akan segera dilantik bulan Agustus ini menjadi DPRD Malang.
Sambil tertawa dia menjawab pertanyaanku, kerjaannya apa?. Rapat!, setuju dibayar gak setuju juga dibayar, katanya.
Pertanyaan berikutnya yang enggak mungkin kutanyakan adalah apa yang kubingungkan kenapa orang begitu terpesona dengan profesi satu ini. Jika dibandingkan dengan kerjaannya kawan yang lain, yang motret sana motret sini: motret dibayar gak motret pastinya gak bakal dibayar, Fulan telah melakukan kemenangan finansial tapi ketika ketidaksetujuannya tidak berdampak pada tidak dibayarnya dia, ia telah dikalahkan oleh kemenangannya sendiri. And it’s mourning glory!
Plato boleh jadi benar dengan perlunya berpolitik dengan alasan daripada dipolitiki tapi ketika kita tahu bahwa politikus itu adalah teman kita sendiri bisa jadi kita menjadi risih di satu sisi, pada sisi lain kerisihan itu tidak membantu sama sekali dalam mengentaskan permasalahan ekonomi yang besar kemungkinan ia lagi hadapi. Dalam hal ini, Fulan menjadi begitu Marxis. Idealnya, ekonomi cuma pemicu awal. Faktanya, ia punya masalah dengan psikologi. Jadi ini adalah kabar bagus untuk kepul asap dapur sekaligus kabar pilu untuk kejiwaan yang sulit diobati.

Bulan

Posted April 20, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Bulan

diatas perbatasan Tuban-Lamongan

Sepertinya, perintah kakak iparku untuk membuka jendela merupakan awal tersingkapnya tabir yang menutupi mata malasku. Dengan susah kubuka daun jendela itu, sehingga tanpa sengaja kujatuhkan paku grendelnya. Konsekuensinya adalah untuk mengambil itu grendel aku musti melompati jendela. Walhasil, tidak cuma paku grendel yang kudapati, tapi bentangan luas pemandangan langit pagi hari. Satu yang menggoda di dalamnya adalah bulan purnama yang nampak tepat didepan mata.

Awalnya, biasa saja. Akupun tidak terkesima melihatnya. Tidak seperti Agus Mustafa yang terkesima di sidratul muntaha. Mata awamku mengatakan bahwa bulan sama saja, selalu menampakkan wajah kemayunya.

Tapi tidak di pagi itu, Minggu pagi usai subuh (12 April 2009). Tuhan berbaik hati menampakkan banyak sketsa wajah di kanvas bulan purnama-Nya.

Wajah imam Mahdi, The Last Savior yang ingin kubuktikan sebagaimana yang dilansir di www.theallfaith. com. Wajah imam ke dua belas dari keturunan Nabi yang nampak di bulan virtual sebuah situs spiritual nyaris tak kutemukan (di situs itu, ‘wajah bulan’ imam Mahdi nampak seperti wajah Nicholas Cage dalam Con Air). Alih-alih mengenali wajahnya, yang kudapati malah sketsa wajahku sendiri, wajah seorang mahasiswa sastra tahun 97an.

Ketidakpercayaanku akan apa yang baru kulihat tidak mengurangi nocturnal vision yang bisa melihat dalam cahaya terbatas atau redup. Terlebih, temaram kekuningan bulan pagi itu seperti cahaya lampu baca, memperjelas gambaran sketsa. Upayaku dalam mempertegas kemustahilan dari apa yang terlihat dengan cara mengucek-ucek mata, berpaling, dan melengos tidak menghasilkan apa-apa. Dengan kata lain, mataku untuk kedua kalinya menyaksikan hal yang sama, yaitu sketsa wajah mahasiswa yang masih perjaka. Dengan demikian, keniscayaan akan adanya penampakan bisa ditangkap baik oleh mata yang sehat maupun oleh mata yang katarak. Permasalahannya adalah seberapa malas mata seseorang bekerja, mengirim image ke otak secara utuh, separuh, seperempat atau tidak seper berapapun. Dan pastinya, jawaban sementara berupa hipotesa tidak adanya penampakan itu lebih dikarenakan kebanyakan mata umat Islam menderita amblyopia

Belum sempat tertuntaskan kegamanganku, di bulan itu nampak silih berganti dalam hitungan detik beberapa wajah asing, tak kukenali. Mimik mereka mengekspresikan keadaan yang sama; tenang dalam keterasingan, mempresentasikan wajah para ghurabā’.

Tidak berselang lama, nampak muka beberapa wanita, berkerudung tentunya. Aku berharap itu adalah sketsa wajah istriku dan wajah pacar-pacarku dulu. Tapi harapan tinggal harapan, selebihnya adalah kata asa yang mencari kata depannya: putus. Maka akupun berputus asa, sebab dunia eskatologi tidak mengenal kacamata, sedangkan mata istriku minus 9 dan berkaca mata tebal pastinya.

Penampakkan tidak berhenti seiring kekecewaan yang kudapati. Sebuah sketsa wajah dengan mulut terbuka lantaran tertawa seolah menertawaiku. Cukup menggelikan, lebih-lebih muncul selanjutnya wajah sang Lovin’ Jah, Bob Marley dengan rambut gimbalnya. ‘Gila’, umpatku. Aku melihatnya dengan kesadaran penuh, bebas dari ekstasi khayali minuman, obat ataupun ganja. Kesadaranku memaksaku utuk tetap terjaga. Aku tidak sedang mimpi atau memimpikan sesuatu, yaitu wajah-wajah yang menghantuiku, sebut saja penampakan berikutnya adalah wajah sang ilmuwan gila, Einstein, kemudian Che Guevara, dan wajah dingin sang teroris Imam Samudera.

Nampaknya, slide terus menggelinding begitu saja. Tidak semua terekam jelas. Ketidakfamiliaran wajah, keterasingan dan bisa jadi banyaknya wajah yang bermunculan silih berganti seakan memaksaku memasuki studio foto dimana banyak foto di pajang. Dan mataku lelah.

Lelah menatap bulan diatas perbatasan Tuban-Lamongan, yang menunjukkan durasi pendek sebuah tayangan yang berakhir dengan kesimpulan bahwa menyaksikan bulan itu lebih enak dari pada melihat istri kesakitan disaat datang bulan.

Cinta

Posted January 5, 2009 by )x(
Categories: unbelieveable

Cupid is Dead

Aphrodite in Heat

Pengertian kata cinta bagi Joe Tempest, vokalis Europe, band rock 80-an adalah tak lebih sebagai kata lain untuk diucapkan. Ia bilang dalam single hitnya; Prisoner in Paradise bahwa Love is just another word to say. Nampaknya, ini sangat bertentangan dengan apa yang diyakini Antony Kiddies (Red Hot Chili Pepper) bahwa cinta merupakan satu kata terpanas yang pernah ada di dunia; the hottest word in the world.

Dalam pencariannya, cinta menjadi sangat sulit untuk ditemukan, terlebih di biro jodoh ataupun di layanan short message service; chat n’ date. Tidak sesemudah seorang rock star yang flamboyan, yang suka mengumbar kata cinta dan menempatkannya tak ubahnya sebagaimana kata-kata lainnya. Atau kebalikannya, saking sakralnya, kata cinta malah menjadi begitu panas; hotter than hell sulit dijangkau dan direngkuh. Hal termudah terkait dengan kata cinta adalah sekedar cukup untuk diaklamasikan.

Dan jika dikaitkan dengan hari raya Qur’ban, tentunya yang muncul adalah kejelasan definitif kata cinta yang memang identik dengan pengorbanan, yakni cinta adalah pengorbanan, yang biasanya fase awalnya berupa minimal korban perasaan sebagaimana Ibrahim as yang mengorbankan perasaannya atas perintah penyembelihan anak kinasihnya sendiri; love is sacrifice atau to love is to sacrifice. Kata kunci sukses tidaknya mereguk cinta adalah berani mengambil sikap membunuh rasa, meski Rhoma Irama bilang,”Teganya-teganya” mengamini Nazareth dalam lagunya; Love Hurt. Sebab yang demikian itu lebih baik dari pada berlebihan dalam bercinta seperti halnya nasehat bijak gitaris Brian May (Queen); too much love will kill you.

Dalam perjalanannya, cinta di kondisi teks kekinian telah menemukan formasi asingya. Seiring dengan perkembangan maupun perubahan zaman, cinta telah memasuki gerbang paduan hati nyaris tanpa rasa, yang ada adalah situasi dan kondisi yang memaksa orang untuk belajar mencinta; learn how to love and forget how to hate, sehingga seseorang jika lagi jatuh cinta untuk kesekian kalinya, yang ada bukannya nyanyian jatuh cinta berjuta rasanya tapi jatuh cinta aduh betapa tidak ada rasanya. Bin Hard, pemerhati cinta dalam salah satu tulisannya menyebutkan ketidakterlibatan emotional feeling di era angka-angka ketika cinta diukur dalam batasan digital.

Saat ini, kadar cinta tidak perlu diperjelas dengan pertanyaan; how deepest your love?(Beatless). Pertanyaan hanya akan merepotkan proses percintaan, menghambat perjalanan dan pastinya memperlambat jenjang pernikahan. Cinta tak perlu jelas diekspresikan; there is a hole in my heart that only can be filled by you (Garry Cherone, Extreme: Love Song, 1991) atau you always have a place within my heart (Mike Tramp, White Lion: Till Death Do Us Apart, 1989).

Dalam pandangan kaca mata kuda saya, hari ini cinta menjadi hal yang biasa, tidak sebombatis cintanya Qais al-Qarni ataupun Laila Majnun. Cinta adalah hal yang boleh dibilang sederhana pada akhirnya, tidak sesepektakuler cintanya Zulaika kepada Yusuf as. Dan rasa-rasanya, cinta gak perlu disandingkan dengan cinta anehnya Rabiah al-Adawiyah. Sebab menurut Rudi Sujarwo, cinta adalah nama dalam filmnya; Ada Apa dengan Cinta dan bagi seorang mama, cinta adalah anaknya yang benama Laura.

God’s Words

Posted December 18, 2008 by )x(
Categories: untouchable

Katanya Tuhan

Meminjam kata-kata Tuhan

Komunikasi menjadi terhenti saat kata-kata Tuhan dipinjam dan dijadikan jubir pamungkas guna mengakhiri perbincangan yang mustinya panjang dan melelahkan rajutan saraf-saraf pengucap.

Dalil-dalil naqli itu lagi-lagi diposisikan sebagai pembungkam mulut lawan bicara, yang kalau diibaratkan sebagai menu makanan, teks tak ubahnya selalu menjadi makanan penutup yang mengenyangkan sesaat, meninabobokan otak dan menidurkan.

Tak sedikit orang yang suka mengobral kata agama, membuka kata melalui katanya Tuhan dengan tanpa disadari bahwa yang demikian merupakan tindakan lisan yang tidak menginginkan kelanjutan bahasan. Sebuah penutup yang terburu-buru dikedepankan (istinbath muqoddam), membuka kata sekaligus mengakhirinya dengan cukup sekian, sebagai akhir kata dari sebuah paragraf yang belum terselesaikan. Kata-kata Tuhan berubah menjadi sebatas iftitah sekaligus ihtitam. Pepatah Arab mengatakan qolla wa dalla, saya lebih suka mengatakan air beriak tanda kurang dari dua kula: memakai kata-kata langit lebih dikarenakan kehabisan kosa kata bumi.

30 tahunan yang lalu, tepatnya waktu benak fikiran saya masih dipenuhi dengan uforia sorga-neraka dimana teks adalah dalil suci yang jika dikumandangkan oleh seorang da’i menjadi sangat memikat hati, mempesona dan mempengaruhi seorang anak untuk semangat mengaji (belajar baca al-Qur’an). Sekarang, rasa-rasanya teks itu terlalu suci sebagai kata terucap Tuhan untuk diucapkan lagi meski oleh seorang da’i lebih-lebih oleh seorang akademisi. wa qolaallahu ta’ala fi al-Qur’an al-kariim ila akhiri al-ayat untuk keadaan saat ini merupakan rentetan keterasingan ucapan yang pada akhirnya hanya akan mengantarkan mitra tutur berada pada dua kondisi: pertama, terdiam dengan kebenaran kalam yang telah tuntas dituturkan dan kedua, justru akan mengantarkan pendengar pada rasa takut atau sebaliknya, malah akan membikin dia mengantuk.

Lepas dari ketidakmampuan diri untuk sejenak melepaskan diri dari teks, agar sedikit bisa leluasa berlogika dalam bertutur serta meracik dan merangkai kata dengan pemilihan diksi kata yang tepat (orang Jawa bilang biar gayeng marem) akan membikin lawan bicara merasa dilibatkan dalam pembicaraan tanpa musti merasa seolah digurui atau diludahi dengan nash al-Qur’an. Sebab yang demikian itu bukanlah hal yang salah dalam membahasakan sebuah dakwah. Kallimu an naas biqodri lughotihim dengan tidak menjejali mereka dengan yang bukan bahasanya.

Kalaupun kebanyakan kita mengabdikan diri di biro jasa layanan agama, dengan tidak menafi’kan balligū annī walau cuma satu ayat, semestinya kita perlu menghindari peminjaman kata-kata Tuhan sebagai pilihan awal untuk diucapkan, lebih-lebih hanya sekedar sebagai basa-basi ucapan mujammalatu al-kalam.

Romadhona & Romadhoni

Posted September 12, 2008 by )x(
Categories: untouchable

kekacauan afiksasi

Usai Tarawih, tepatnya saat melafalkan niat puasa, secara spontan berhenti pada kata Romadhoni. Sanggahan cepat dengan sedikit bentakan keluar dari mulut seorang istri yang saya imami. “Romadhona” katanya ketus. Sebuah koreksi datang dari yang bukan ahlinya tentunya, lantaran ia cuma seorang akhwat (jama’ yang dimufrodkan) hasil tempaan Halaqoh Tarbiyah yang berlatar belakang Manajemen Agri Bisnis. Dan saya pun bertanya-tanya? .

Guyonan populer yang muncul selama ini, selalu sama di bulan puasa. Yaitu argumentasi kejelasan lafadz niat. Kata Ramadhan berakhiran ‘a’ atau berakhir dengan ‘i’, Romadhona atau Romadhoni?. Ujung-ujungnya berupa jawaban ketergantungan, tergantung siapa yang melafalkan. Kalau perempuan Romadhona, kalau laki ya Romadhoni sebagaimana nama Maddona yang kurang lebih berarti Dona yang gila atau Dona yang lagi marah. “Jadi kamu gak usah marah lebih-lebih menjadi gila kalau saya ucapkan bukan Romadhona” saya menceramahinya.

Ada alasan kebahasaan berkait erat dengan pengucapan kata Ramadhan. Memang Ramadhan ber-suffix ‘i’ tidak sepopuler Ramadhan berakhiran ‘a’. Yang paling aman adalah meniadakan kedua akhiran, yang kalau dinisbatkan pada guyonan Dona-Doni, bisa dikatakan menjadi sebagai pengaburan kesetaraan gender. Meminjam istilah fashion dalam revolusi berpakaian adalah unisex, yang berarti bisa laki-laki bisa perempuan. Sehingga yang muncul adalah semacam Nur Ramadhan, nama seorang reporter SCTV Malang atau Muhammad Romdhon, nama sekjur Bahasa Arab Universitas Negeri Jakarta atau seperti Prof Mahmud Yunus dalam kamus Arab-Indonesianya yang tidak mencantumkan tanda baca akhir pada kata Ramadhan. Dalam hal ini keindahan rhyme, bunyi suara yang berakhir sama, sama sekali tidak diindakan dan cenderung dikesampingkan. ..an ada‘i fardhis syahri romadhoni hadihis sanati..yang ada selama ini hanyalah Romadhona tanpa lebih dahulu mengetahui bahwa Ramadhan adalah bukan ism ghoiru munshorif.

Lebih aman lagi adalah menghindari pelafalan niat dengan cara nggeremeng hewes hewes haus haus atau ngedumel dalam hati (hati yang bicara) innamal a’malu binniyah dan niat gak perlu dikumandangkan terlebih digembar-gemborkan.


Iklan dan Popularitas

Posted August 30, 2008 by )x(
Categories: unbreakable

Stop in the Name of Poverty

Puluhan tahun yang lalu, waktu itu TVRI menjadi satu-satunya televisi rujukan informasi terkendali dengan tampilan warna cuma hitam putih.

Sudah cukup menghibur mata manakala bisa melihat orang kota dari kotak kaca 17 inci, memperhatikan senyum murah presiden, menatap senyum genit Elvi Sukaesi dan menyaksikan mulut komat-kamit penyaji berita ‘Dunia dalam Berita’.

Lebih menghibur lagi adalah acara ‘Mana Suka Siaran Niaga’ yang berdurasi setengah jam. Sebuah acara iklan yang dengan sendirinya juga menayangkan sekaligus mengantarkan popularitas Bagio di iklan bakso ajinomoto dan Benyamin di iklan sampan bermesin kubota. Sebagai pemandu iklan, mereka berdua lucu dan menyenangkan.

Akhir-akhir ini, dunia pertelevisian sering disibukkan dengan penayangan iklan ‘jual diri’. Sebuah iklan yang ditujukan untuk mengemis popularitas meski harus mengeluarkan biaya tinggi. Dari mulai purnawirawan jenderal pantang menyerah yang telah berhati nurani, dan yang mendadak menjadi ketua petani sampai yang gencar menjajakan diri dengan cara mengajak orang lain untuk berbuat lebih dalam hidup ini. Sebagai orang-orang yang dipandu oleh iklan, mereka bertiga tidak lucu dan cenderung menyebalkan.

Baik Bagio maupun Benyamin, keduanya adalah pelawak murni sedangkan Wiranto, Prabowo dan Sutrisno ketiga-tiganya adalah pelawak politik yang sedang menertawakan keadaan (coba kalo pilih saya, tentu gak bakal jadi begini keadaan ini he he he).

Belum lagi iklan ibu ketua arisan yang punya kecenderungan rasan-rasan. ‘Gotong royong’ ia kumandangkan sebab memang perempuan selalu berkemampuan kurang, perlu bantuan dari suami atau bapaknya untuk bergotong royong mengurangi ketidakmampuannya.

Terkait dengan bau-bauan, bagi saya iklan yang pas dan mengena serta cukup untuk mendongkrak popularitas produk jualnya adalah iklan penyegar badan pria yang beralih fungsi menjadi perangsang wanita.

Kaitannya dengan bau politik, mengais popularitas dengan cara mendekatkan diri pada kemiskinan dalam sebuah iklan sering diyakini mujarab sebagai jalan pintas pencapaian kesuksesan. Kemiskinan yang hampir begitu dekat dengan atau rentan kekufuran, lagi-lagi menjadi obyek penderita dan pelengkap program pendulangan suara. Menghindari kemiskinan berarti memiskinkan suara. Memanfaatkan suara orang miskin berarti rela mendengarkan suara sumbang mereka, seperti ‘Gara-gara miskin aku pilih Wiranto atau gara-gara miskin aku jadi anak buah Prabowo’. Bagi saya, pemilihan ini hanya akan mempertegas jurang strata sosial. Aku memilih priyayi sebab memang aku adalah kawulo alit. Mereka para ksatria dan aku cuma seorang sudra. Mereka muzakki dan aku mustahiq. Mereka dipilih dan nasib menjadikanku sebagai pemilih.

Dilain iklan, pengatas namaan kemiskinan dihindari sedemikian rupa dengan cara mengedepankan faktor vital penyebab kemiskinan, yaitu tidak adanya upaya pengentasan yang secara mendasar mustinya dimulai dari pelaku kemiskinan itu sendiri. Bahasa Sutrisno Bachir adalah perbuatan. Cukup halus untuk mengatakan bahwa kemiskinan itu ada lebih karena kemalasan. Lagi-lagi kemiskinan dipinjam lewat iklan untuk dijadikan agunan ketenaran persis melalui ajakan bijak untuk berbuat. Hidup adalah perbuatan!. Saya lebih suka mengatakan ‘Hidup adalah istirahat dari slogan perbuatan’.

Akhirul kalam, sesuai dengan penerawangan saya, telah terjadi (maaf) kontraproduktif pada pengiklan perbuatan. Orang awam pun akhirnya akan mempertanyakan perbuatan si pengiklan. Jangan-jangan cuma kaburo maqtan. Dan kalaupun disodori pilihan, saya lebih suka memilih Bob Marley dengan satu alasan sebagaimana alasan Anthony Kiddies yang bertutur dalam lirik lagunya tentang almarhum Bob bahwa ia berjalan sesuai dengan apa yang ia katakan. He walks like he talks.

Impotensi

Posted August 15, 2008 by )x(
Categories: unbelieveable

It’s important not to be impotent

Beberapa catatan saya tulis dalam kesadaran tinggi dan jujur untuk dikatakan bahwa saya pernah mengalami impotensi disaat spiritualitas saya meninggi.

Pertama: Ibnu Sina tidak pernah salah soal sperma. Pembendungan libiditas hanya akan menyiksa kelamin saja. Artinya sperma tidak pernah betah tinggal diam di testikel manusia, bawaannya selalu pingin ngeluyur keruang vagina, lubang kamar mandi, got, selokan dan bak sampah.

Kedua: Hadits lemah yang menyatakan “Berpuasalah agar kamu sehat” shuumu tasihu saya lebih suka mengartikan “Berpuasalah agar kamu tidak impoten”. Pertanyaan saya, lalu mengapa terjadi penggerusan mut’ah kalau orang gak kuat tirakat menahan hasrat , lebih-lebih gak kuat berpuasa?.

Ketiga: Ngomong-ngomong soal sex tanpa merujuk ke bapak psikologi dunia, Sigmun Freud adalah ‘dosa ilmiah’. Pak Freud gerah atas pengekangan sexual dengan mengatas namakan norma dan agama. Meski memahami hudud adna dalam berpakaian, sayangnya dia belum pernah membaca kitab sex pesantren qurrotul uyun dan kalau saja dia mengetahui sejarah mut’ah dan mengerti makna matsna, tsulatsa wa ruba’a yang lebih sering diartikan 2, 3 dan 4 dari arti sebenarnya, insyaAllah pak Freud akan kecanduan akan sex yang ditawarkan oleh Islam.

Keempat: Kecenderungan untuk melakukan aktivitas sex, apa pernah disinggung perbedaan antara manusia dan hewan dalam teori evolusi? Hewan, apa pernah mengalami impotensi disaat batasan berpakaian mereka tidak terbatasi lagi? Paling-paling temenmu itu berpakaian waktu tampil di topeng monyet. Setahu saya, dalam berperilaku sex, tidak sebagaimana manusia dengan ragam orientasi sexnya yang membutuhkan lebih sekadar titik temu iltiqo’ul hitanain atau sederhananya yakfi bil yad. Exploitasi sex manusia telah merambah ranah ‘bermasalah’ pokoke ada lubang ada galian. Hewan tidak pernah melakukan masturbasi sebagaimana betinanya yang tidak pernah menstruasi.

Kelima: Seseorang tidak serta merta menjadi impoten lantaran pola pakaian, baik dengan cara memelototi orang yang berpakaian tapi telanjang maupun yang menyembunyikan bodi/diri dibalik pakaian. Tidak ada korelasi sama sekali antara mata yang jelalatan dengan ketidak berdayaan kelamin. Perlu dijadikan catatan bahwa orang buta pun masih bisa ereksi. Artinya, visible or invisible, the loaded gun is gonna find its target!.

Ereksi bisa terjadi di tempat yang jelas sekali perbedaannya, bisa di klub-klub malam maupun disaat melakukan thawaf.

Sebagaimana yang telah saya prologkan, impotensi besar kemungkinan terjadi di level tinggi spiritual dimana ketertarikan jasadi tereduksi seperti apa yang dialami Zulaeka yang tidak tertarik lagi sama don juannya, Yusuf alaihi salam.

Apa yang telah disimpulkan oleh Leonid dalam penelitiannya, menurut saya bukan karena penundaan ejakulasi tapi impotensi terjadi karena faktor gradasi luar biasa jasad wanita menjadi cuma seonggok daging biasa yang ketepatan hidup dan bernyawa. Kemudian menjadi sesuatu yang wajar dan lumrah yang akhirnya enggak ngefek apa-apa (gak nyetrum blas) disebabkan oleh pola pakaian yang sering dikenakan dan seringnya mata melihat. Layaknya seorang suami yang sering melihat puting dan payudara istrinya saat menyusui anaknya. Alih-alih punya pikiran ngesex, yang ada malah omelan seorang bapak terhadap anak, ‘lo habisin dah jatah gue!’.

Yang perlu digaris bawahi disini sebenarnya adalah vivid emotion yang mempunyai peranan penting dalam menentukan berhasil tidaknya interaksi sexual.

Bahasa dan Agama

Posted July 24, 2008 by )x(
Categories: untouchable

Paling tidak, bahasa yang di mata Aristoteles adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi (sound symbolism) yang dengan sendirinya merupakan suatu kesema-menaan, telah menunaikan fungsinya dengan baik, yaitu sebagai alat komunikasi antar manusia, juga manusia dengan Tuhannya atau sebaliknya.

Bahasa Tuhan yang dikenal lewat firman-Nya tertulis dalam 6666 ayat melalui sang perantara Jibril, tentunya tidak sama dengan bahasa-Nya manakala Dia berbicara langsung kepada mitra tutur-Nya, kalimullah Musa. Ketidaksamaan bahasa di dua zaman yang berbeda Musa-Muhammad, bukan lantaran kesemena-menaan (arbitrary) bahasa-Nya tapi lebih karena bahasa itu sendiri yang physei atau mirip realitas (non- arbitrary) sebagaimana yang diyakini Plato dan pengikutnya.

Antara Tuhan dan manusia, agama menempati posisi di tengah keduanya. Keterlibatan bahasa pada sebuah agama, dalam hal ini bahasa Arab pada agama Islam, lebih dikarenakan kegagapan manusia dalam bercengkerama dengan Tuhannya. Pada dasarnya, agama itu sendiri adalah bahasa penengah bagi keduanya. Menurut saya sebagai penutur non-Arab, agama tidak ada sangkut-pautnya dengan bahasa dan tidak juga merupakan bagian dari agama sebagaimana yang dijadikan alasan khalifah kedua untuk mempelajari bahasa Arab, ihrishuu ala ta’allumi al lughoh al Arobiah innaha juz’un min diinikum pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia adalah bagian dari agamamu.

Keberadaan bahasa Arab sebagai bahasa yang tersisa dari bahasa agama-agama (Hebrew-Aramaic) memang mempunyai nilai tersendiri di mata Tuhan untuk dijadikan sebagai bahasa-Nya yang dikompilasi sedemikian rupa dalam apa yang kemudian dinamakan Al-Qur’an. Disamping sebab kedekatan letak dan kesinambungan runut sejarah agama-agama serta keserumpunan bahasa (Semitic), Tuhan mempunyai alasan tersendiri mengapa bahasa Arab menjadi bahasa terpilih inna anzalnaahu qur’anan arobian. Konsekuensinya adalah adanya kemutlakan penggunaan bahasa Arab dalam ritual keagamaan yang tidak bisa digangu gugat walau oleh seorang pejuang kesetaraan bahasa, Gus Roy.

Penggunaan bahasa Arab dalam ritual keagamaan yang tidak lebih merupakan paketan dari langit take for granted tidak menjadikan baik bahasa Arab maupun penutur asalnya (native speaker) ataupun penutur ghoiru nathiqin jauh lebih baik dari bahasa asing lainnya maupun penutur bahasa lain. Tidak ada jaminan bahwa pengucap wolo wolo kuato lebih jelek dari pengucap la haula wala quwwata. Adanya pernyataan Nabi tentang kesetaraan bangsa dan bahasa la farqo baina al’arobi wal a’ jami sudah cukup membuktikan posisi dimana sebenarnya bahasa sebagaimana perintahnya untuk mempelajari agama dan bukan bahasanya liyatafaqqohuu fi al diin.

Jihad n’ Mut’ah

Posted July 7, 2008 by )x(
Categories: unbelieveable

Salah satu dari dua kata terpanas dalam liturgi Islam selain jihad adalah mut’ah. Sama halnya dengan jihad, resistensi terhadap eksistensi mut’ah selalu saja ada semenjak pedang Umar bin Khatab berbicara lewat ijtihad imperatifnya.

Kaitan kedua kata tersebut dengan laki-laki, jihad yang tertulis di hampir semua kitab-kitab klasik memberi makna perang dalam arti sebenarnya ternyata kurang mendapatkan tempatnya di hati seorang laki-laki masa kini. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya perang jadi-jadian yang dijadikan acuan menyamakan kedudukan arti sebenarnya perang itu sendiri, lazimnya seperti berjuang menafkahi keluarga, perang budaya & pemikiran dan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, misalnya bersungguh-sungguh memacari calon istri atau bersungguh-sungguh mengopi-pasta untuk menyelesaikan studi.

Lain halnya dengan mut’ah, naluri laki-laki siapapun dia, baik Nabi ataupun ummi, kiai atau santri tidak terkecuali priyayi juga pribumi, urusan kawin terlepas dari panjang pendeknya durasi perkawinan, laki-laki secara alami akan menempatkan hubungan pendek berkelanjutan yang mencandu ini sebagai salah satu kebutuhan mendasar yang mutlak, meski ada saja yang mengingkarinya, sebut saja Jean Paul Sartre dengan sebab yang tidak bakal bisa dipahami oleh kebanyakan para genito philia. Meski mut’ah selalu menjadi wacana perdebatan, ia merupakan ajang pelampiasan yang paling aman, tapi banyak laki-laki dengan ikhlas menjadi hipokrit menipu diri.

Berjuta pengandaian muncul begitu saja, menyeruak keluar dari ruang sempit bernama benak. Ah, andai saja aku hidup di zaman Nabi besar kemungkinan aku juga akan melakukannya, kalaupun aku hidup di era khalifah kedua dan andai saja aku gak jadi muslim yang penakut, tentunya aku tak kan lari terbirit-birit melihat sosok horor seorang Umar bin Khatab, andai saja aku tidak tenggelam di telaga ahlu sunnah dan andai saja aku mau sedikit belajar berenang di muara syi’ah. Dan andai saja tidak ada pengandaian tapi sebuah kenyataan yang tidak perlu diperdebatkan.

Hidup ini mustinya tidak melulu hitam putih, sebab menurut saya hitam merupakan akumulasi kepekatan warna yang menumpuk lalu menyatu, sebaliknya putih adalah gradasi pemudaran warna itu sendiri. Manusia apapun agamanya telah banyak kehilangan warna aslinya, lebih tepat saya katakan buta warna.

Jihad dan mut’ah, akhirnya hanya menjadi tidak lebih dua kosa kata tanpa warna dan makna. Yang pertama karena akumulasi arti dan yang kedua karena pemudaran makna menjadi seperti prostitusi islami.